Jakarta, TopBusiness—Kepala Ekonom PT Bank DBS Indonesia, Masyita Crystallin, menyatakan bahwa struktur ekonomi Indonesia sejak 15 tahun terakhir tidak berubah.
“Oleh karena itu Indonesia memerlukan mesin ekonomi yang baru dengan pindah ke sektor yang bernilai tambah lebih tinggi seperti manufaktur dan layanan serta penciptaan lapangan kerja, mengingat tambahan tiga juta tenaga kerja memasuki pasar kerja setiap tahun,” kata dia di Jakarta (5/12/2019), dalam acara Asian Insights Seminar 2019.
Tidak hanya itu saja, Indonesia juga harus memiliki current account defisit (CAD) yang friendly untuk dapat mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5%-6% di atas potensial. “Sehingga dapat keluar dari middle income trap,” kata dia.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Lilis Setiadi, menambahkan bahwa di perekonomian global 2018, negara-negara menerapkan suku bunga tinggi dengan kebijakan yang lebih ketat sehingga menyebabkan ketegangan perdagangan meningkat.
Sementara pada 2019, suku bunga negara-negara turun, kebijakan lebih longgar meskipun ketegangan perdagangan tetap meningkat.
“Ketegangan perdagangan menjadi faktor yang menentukan gross domestic product (GDP) dunia ke depannya. Di tahun 2020 pertumbuhan ekonomi global akan membaik karena kebijakan akan lebih melonggar yang diiringi dengan berkurangnya ketegangan perdagangan,” kata Lilis.
Lilis juga menjelaskan bahwa sebagai emerging market pertumbuhan GDP Indonesia lebih tinggi dibanding developed market. Ia juga melihat bahwa mata uang negara berkembang khususnya Indonesia akan mengalami apresiasi sehingga pada 2019 ekspektasi inflasi ditutup di bawah 3%.
Mengenai obligasi, Lilis berpendapat pada 2019 harga obligasi naik karena disebabkan oleh faktor fundamental dan investor yang berbondong-bondong masuk. Sedangkan pada 2020, ia memproyeksikan masih ada alasan harga obligasi naik tapi tidak sebesar 2019 karena adanya recover perekonomian khususnya emerging market Indonesia.
(Adhito)
