Jakarta, TopBusiness – Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional atau Gapensi mengaku prihatin dengan mati surinya beberapa industri konstruksi nasional, karena itu perlu ada peningkatan pemakaian produk material dalam negeri.
“Kalau mau bangkit, kita harus pakai produk negeri sendiri! Gapensi mengaku sangat prihatin dengan mati surinya beberapa industri konstruksi nasional, paradox dengan pembangunan infrastruktur yagn selam ini dikerjakan secara besar-besaran yang ternyata belum mampu membangkitkan industri rantai pasok-nya”, kata Ketua Umum BPP Gapensi Iskandar Z. Hartawi ditemui di tengah-tengah acara road show Gapensi Goes To Campus di Politeknik Ujung Pandang, Makasar, Senin (16/12).
Bahkan dirinya sangat mendorong produk-produk lokal dalam industri konstruksi. “Tapi kita tidak boleh putus asa, tidak boleh menyerah begitu saja dari serbuan material-material dan peralatan konstruksi dari luar,” tegasnya.
Gapensi sebagai asosiasi jasa konstruksi nasional terbesar dan tertua di Indonesia bahkan di Asean memiliki jaringan pengurus daerah di 34 propinsi dan pengurus cabang di lebih dari 512 kabupaten, mempunyai komitmen kuat untuk ikut mendukung guna kebangkitan industri konstruksi nasional.
“Kami pengurus pusat dan daerah akan road show terus-menerus ke seluruh daerah di 34 provinsi untuk mengkampanyekan secara masif agar penggunaan material-material konstruksi produksi industri nasional dalam proyek-proyek yang kami kerjakan menjadi suatu keharusan, kampanye ini kami khususkan dulu kepada anggota kami yang saat ini berjumlah lebih dari 32 ribu lebih perusahaan”.
Menurut dia pihaknya terus mensosialisasikan produk dalam negeri. “Jadi hampir setiap minggu, kami harus berpindah-pindah dari BPD satu ke BPD lainnya, dengan mengajak industri-industri rantai pasok industri nasional baik BUMN maupun swasta nasional dan juga dari Kementerian Pekerjaan Umum dan LKPJ (Lembaga Pengembangan Jasa KonstruksiNasional)”, ujar Iskandar dengan penuh rasa optimis.
Informasi di lapangan dari banyak Ganggota Gapensi, selalu saja harga termurah yang menjadi pertimbangan dalam penentuan pemenang tender-tender di proyek-proyek pemerintah. Ingin semurah-murahnya, inilah yang selalu menjadi masalah di dalam mendapatkan kualitas konstruksi yang baik.
“Misalkan dalam penyediaan besi beton; kitasemua pasti mengenal istilah besi banci, dikatakan besi 10 misalnya, tapi kenyataannya setelah diukur hanya 8 mm diameternya. “Ini jelas tidak sesuai SNI (Standar NasionalIndonesia), belum lagi kualitas kekuatannya,” demikian dijelaskan oleh Ken Pangestu dari Masyarakat Konstruksi Baja Indonesia, yang juga selalu setiap mengikuti acara road show ini.
Saat ini di pasaran beredar begitu banyak besi-besi yang tiak jelas asal usulnya, dengan kualitas jauh di bawah standard SNI. Selain itu juga banyak sekali di pasaran jenis-jenis besi dari luar negeri yang sebenarnya di industri nasional sendiri kita sudah mampu memproduksinya.
“Tentunya kondisi ini sangat memukul industri nasional untuk bisa berkembang dengan baik. Dari data asosiasi baja ini, ternyata kurang lebih 50% pemakaian besi nasional saat ini dipenuhi oleh produksi import, sementara kapasitas rata-rata industri besi nasional terpakai baru sekitar 60% saja. Jika kondisi ini terus berlanjut, makin sulit industri nasional kita berkembang dengan baik”, ditambahkan Teguh Sarwono dari group Krakatau Steel.
Iskandar lebih lanjut menekankan. “Ini pastilah menjadi tantangan berat kita, tapi kebangkitan industri konstruksi nasional adalah tanggung jawab kita bersama sebagai anak bangsa. Untuk itu Gapensi mengajak seluruh pemangku kepentingan dunia kontruksi nasional untuk bekerja bersama dan punya komitmen kuat. Kalau bukan kita-kita sendiri yang memulai memakai produksi nasional ber-SNI, siapa lagi ?” tekan Iskandar.
Menurutnya, jika kita kompak, rasanya sangat mudah bagi industri konstruksi nasional menjadi kuat dan setidak-tidaknya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dan bisa juga makin berkembang kuat dengan melakukan export produksinya.
Pemerintah sebagai regulator juga harus dituntut punya komitmen dan usaha keras untuk membangun industri konstruksi nasional. Sebagai contoh, sejak saat perencanaan, maka semua material dan peralatan konstruksi seharusnya diwajibkan menggunakan produksi nasional ber-SNI, terlebih-lebih jika proyek tersebut bersumber dari dana APBN atau APBD, karena itu dari pajak.
Demikian juga proyek-proyek investasi baik investor nasional maupun asing, saat proses perijinan, pemerintah juga harus berani mewajibkan mereka mengutamakan penggunakan produk-produk material dan peralatan konstruksi dalam negeri. Melalui acara road show di 34 propinsi ini, Gapensi ingin bisa menjadi salah satu penggerak dan influencer untuk seluruh pelaku industri kontruksi untuk terus meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri. “Kami ingin mengajak seluruh pemangku kepentingan, ini adalah kerja keras bersama, ini adalah untuk kepentingan kemajuan bangsa Indonesia,” tegas Iskandar.
Albarsyah
