
Jakarta-Thebusinessnews. Rupiah masih terpuruk terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan hari ini, Selasa, 11 Agustus 2015 Rupiah menyentuh level Rp 13.541. terkait hal itu Bank Indonesia menilai keterpurukan Rupiah lebih di akibatkan Kebijakan Otoritas Moneter Tiongkok.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara menyampaikan t pergerakan nilai tukar rupiah sebagai reaksi dari keputusan pemerintah Tiongkok melakukan depresiasi dengan melebarkan rentang mata uangnya (currency band). Hal itu dilakukan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengurangi pelarian modal, meningkatkan daya saing Yuan agar mendorong export, dan melindungi investor dalam negeri. “Saat ini mata uang Jepang, Korea,dan Eropa, yang merupakan pesaing dagang utama Tiongkok, sudah terdepresiasi cukup besar.” Terang dia di Jakarta, Selasa,11 Agustus 2015.
Di sisi lain, kebijakan di Tiongkok tersebut berpengaruh terhadap seluruh mata uang regional termasuk rupiah. Hampir seluruh mata uang global melemah terhadap dolar AS. Pengaruh kebijakan di Tiongkok terhadap rupiah, tidak sebesar pengaruh yang terjadi pada Singapura Dollar, Korean Won, Taiwan Dollar dan Thai bath.
Ia meyakini bahwa hal ini akan bersifat sementara sebab Rupiah sudah ‘undervalued’. Dan dari dalam negeri sendiri, saat ini memandang rupiah sudah cukup kompetitif terhadap export manufaktur, dan mampu mendorong turis masuk ke Indonesia. “Sementara itu, perkembangan Rupiah juga dipengaruhi oleh pembayaran utang dan deviden secara musiman, khususnya di triwulan II. “ terang dia.
Untuk itu, Bank Indonesia akan selalu memonitor perkembangan Rupiah dan terus menerus di pasar untuk menjaga volatilitas rupiah. (AZ).