
Jakarta, businessnews.id —– Sejak pengaktifkan pasar saham Jakarta tahun 1977, tercatat masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) periode 2004-2009, menjadi rekor tertinggi kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Pada periode kepimpinan pertama SBY di 2004-2009, tercatat kenaikan rata-rata per tahun IHSG sebesar 24,36 persen,” cerita pengamat pasar modal dari School Of Business and Economic Prasetiya Mulya, Lukas Setia Atmadja, di Jakarta (15/10/2014).
Ia menambahkan, tren tersebut menurun pada periode pemerintahan kedua SBY tahun 2009-2014 yakni hanya sebesar 15,9 persen per tahun.
Sementara itu, peringkat kedua dipegang oleh Presiden B.J. Habibie pada tahun 1998-1999. Di sini, tercatat kenaikan IHSG sebesar 23,2 persen. Hal ini karena periode tersebut baru lepas dari anjloknya pasar modal akibat krisis moneter 1997-1998.
”Gejalan ini normal. Ibarat rafting, ketika ada raft maka naik seketika.”
Di periode setelah itu yakni di kepemimpinan Presiden Abdurahman Wahid, IHSG justru turun tajam yakni tercatat -11,9 persen pada tahun 1999-2001.
Sedangkan pada era Presiden Megawati yakni 2001-2003, IHGS tumbuh 19,6 persen per tahun.
Pada pemerintahan Presiden Soeharto yakni kurun waktu 1982 hingga 1988, tercatat kenaikan IHSG per tahun sebesar 9,7 persen.
Menurut dia, era kemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diharapkan bisa mencatatkan kenaikan sebesar 20 persen per tahun.
“Sehingga, di tahun 2019, IHSG pada level 10.000 hingga 12.000,” harap dia.
Hal itu bisa terjadi kalau pemerintahannya dapat menjalankan semua platform yang diusung selama kampanye, yakni pembangunan infrastruktur energi, transportasi, pangan, dan logistik.
“Dan kalau Jokowi dapat menyelesaikan masa kemimpinannya hingga 2019,” kata dia.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito