Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi masih akan tetap perkasa. Hal ini karena dipicu oleh banyaknya dana asing yang berinvestasi di Indonesia, sehingga mata uang Garuda tersebut semakin bertenaga.
Mengutip Bloomberg di Jumat (17/1/2020) pagi, rupiah masih melanjutkan keperkasaannya. Dibuka di level Rp13.634 per USD atau menguat 8,5 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp13.642,5 per USD. Hingga pukul 9.30 WIB rupiah masih menguat di tangga Rp13.641 per USD.
Menurut analis pasar uang dari Samuel Sekuritas, Lana Sulistyaningsih, penguatan rupiah dalam beberapa hari tak terlepas dari masih derasnya dana asing yang masuk ke pasar dalam negeri. Sehingga faktor tersebut yang menjadi penyokong utama rupiah.
“Saat ini para investor asing itu masih menganggap Indonesia sebagai tempat yang aman untuk menanamkan modal. Sehingga banyak dana asing yang masuk,” dia menjelaskan, di Jakarta, Jumat (17/1/2020).
Dalam catatan dia, modal asing yang masuk ke pasar obligasi RI di awal tahun sudah mencapai USD 1,4 miliar atau sekitar Rp 21 triliun. Ini menjadikan Indonesia negara kedua yang merasakan derasnya aliran modal asing, setelah Jepang yang sebesar USD 24 miliar.
Di sisi lain, imbal hasil dari investasi tersebut masih menarik dan diperkirakan tak akan turun signifikan lantaran pemerintah akan menarik utang, soalnya masih dalam moment membutuhkan dana banyak. “Sehingga investor yakin RI tak akan menurunkan suku bunganya,” ucap Lana.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis sore kemarin, rupiah ditutup menguat 0,38% ke level Rp 13.642 per USD. Penguatan rupiah tersebut merupakan yang tertinggi di antara mata uang utama Asia lainnya. Adapun hanya sedikit mata uang Asia yang terlihat menguat terhadap USD.
Mengutip Bloomberg, dolar Singapura naik 0,04%, yuan Tiongkok 0,17%, dan ringgit Malaysia 0,28%. Sementara mayoritas mata uang Asia melemah. Yen Jepang turun 0,07%, dolar Hong Kong 0,01%, won Korea Selatan 0,39%, peso Filipina 0,18%, rupee India 0,2%, dan baht Thailand 0,16%. Adapun dolar Taiwan tak menunjukkan perubahan.
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, mata uang Garuda menguat 48 poin ke level Rp 13.658 per dolar AS.
Dia kembali menambahkan, saat ini kesepakatan fase satu AS dan Tiongkok telah resmi diteken, sehingga menjadi sentimen positif lain. “Dan akhirnya membuat investor semakin berani menanamkan modalnya di emerging market, termasuk Indonesia. Jadi ibaratnya ketidakpastian itu sudah berkurang,” tegas dia.
Meski begitu, Lana sendiri memproyeksi jika di perdagangan hari ini laju mata uang NKRI bakal berakhir merah. Namun pelemahannya akan terbatas dan berada di kisaran Rp 13.660 per USD.
Foto: Istimewa
