TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Perang Dagang Mereda, Rupiah Lanjutkan Penguatan

Busthomi
20 January 2020 | 10:16
rubrik: Business Info
Dolar AS Menguat Tipis Terhadap Mata Uang Utama

Foto: istimewa

Jakarta, TopBusiness – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (USD) pada perdagangan hari ini diproyeksi kembali akan melanjutkan penguatannya. Hal ini karena masih akan tertolong oleh sentiment kesepakatan perang dagang yang mulai adanya kesepakatan positif.

Mengutip Bloomberg di sesi pagi ini, mata uang NKRI itu dibuka menguat di posisi Rp13.640 per USD atau menaik 5 poin alias 0,04% dari penutupan akhir pekan lalu di level Rp 13.645 per USD. Namun begitu dalam dua jam pertama sempat fluktuatif dan hingga pukul 10.00 WIB berada di tangga Rp13.647,5 per USD atau menipis 2,5 poin alias 0,02%.

Kondisi mata uang Merah Putih itu yang masih terus menghijau disebut analis pasar uang senior dari Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra karena membaiknya hubungan dagang AS dengan China dan itu masih akan menjadi sentimen positif bagi pasar uang. “Sehingga kondisi itu masih menjadi market mover penguat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pekan ini,” tutur dia di Jakarta, Senin (20/1/2020).

Seperti diketahui, pemerintah AS dan China telah menandatangani perjanjian dagang fase pertama, setelah lebih dari dua tahun menjalani negosiasi alot. Salah satu poin kesepakatan dagang adalah AS setuju tidak mengenakan tarif tambahan atas produk China, serta memangkas bea masuk dari 15% menjadi 7,5% atas produk China senilai US$120. Sementara China sepakat membeli barang dari AS senilai US$200 miliar.

Dengan demikian, kata Ariston, belum akan ada friksi baru dalam hubungan dagang kedua negara lantaran masih fokus dalam menjalankan perjanjian fase pertama tersebut. “Jadi kesepakatan itu akan menyokong stabilitas di pasar,” ucapnya.

Sementara dari dalam negeri, data ekonomi penting yang bakal dirilis hanya pengumuman kebijakan dan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunganya pada rapat dewan gubernur bulanan pada Kamis (23/1) nanti. Dan sepertinya, BI masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level 5% tersbeut.

BACA JUGA:   Jelang Libur Nataru 2025/2026, Kementerian PU Pastikan Kesiapan Tol Bocimi

“Kebijakan BI tersebut tentunya sangat mempertimbangkan kondisi inflasi RI yang relatif stabil, serta hubungan AS dan China yang mulai membaik,” jelas dia.

Dengan begitu, Ariston pun memproyeksi jika lau rupiah pada hari ini akan bereaksi di kisaran Rp 13.600 per USD hingga Rp 13.700 per USD.

Tags: dolar ASrupiah
Previous Post

Generasi Milenial Didorong Inovasi Energi

Next Post

PLTU Indramayu Implementasikan CSR

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR