
Jakarta, businessnews.id — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Suryo Bambang Sulisto menyayangkan sikap Bank Indonesia yang sangat reaktif dalam merespons kenaikan harga bahan bakar minyak subsidi (BBM subsidi).
Menurut dia di Jakarta hari ini (19/11/2014), kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin ke 7,77 persen segera diiringi kenaikan suku bunga kredit.
Maka, dunia usaha lokal akan mencari pinjaman luar negeri. Padahal, Bank Indonesia telah mengeluarkan aturan kehati-hatian pinjaman luar negeri.
“Tapi bagaimana, dengan kondisi dalam negeri yang sulit mencari pinjaman, perlu dipikirkan kebijakan yang memermudah,” kata dia pula.
Ia menambahkan, kebijakan Bank Indonesia tersebut sepertinya kontraproduktif terhadap kebijakan pemerintah yang akan mengejar pertumbuhan ekonomi 5,8 persen di tahun 2015, dengan sangat peka terhadap inflasi .
“Menurut kami, jika pilihannya pertumbuhan lapangan kerja atau menahan inflasi, ya sebaiknya menumbuhkan lapangan kerja. Sebab, bila lapangan kerja terganggu, akan rawan gangguan,” kata dia lagi.
Adapun Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, naiknya BI Rate pantas disayangkan.
Namun harapan kami, perbankan nasional tidak lantas latah dan ikut menaikkan suku bunganya,” kata mantan aktivis mahasiswa tahun 1966-an itu.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Editor: Achmad Adhito