Jakarta, TopBusiness – PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) belum bisa memastikan untuk melakukan aksi korporasi berupa hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Padahal, izin penerbitan rights issue sudah dikantongi perseroan.
Namun ternyata, hingga saat ini saham emiten sektor konstruksi tersebut justru terjun bebas ke level Rp50. Padahal nominal yang ditawarkan dalam rights issue adalah Rp400 per saham.
“Kami masih menunggu keputusan share holder (pemegang saham). Makanya masih wait and see dulu,” ungkap Direktur Totalindo, Eko Wardoyo dalam paparan publik insidentil di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (21/2/2020).
Aksi korporasi ini sendiri memang sangat dibutuhkan perseroan karena pihaknya butuh dana banyak dalam berekspansi ke depannya. Namun karena harga saham tak terduga tersebut, perseroan terpaksa menunggu hasil keputusan para pemegang saham nantinya.
Lebih jauh Eko menjelaskan, rencana rights issue perseroan akan melepas 4 miliar saham baru. Sehingga dari aksi itu dana yang bakal dikumpulkan sekitar Rp400 miliar hingga Rp500 miliar.
“Makanya jika jadi terlaksana tahun ini, rencananya akan digunakan untuk memperkuat permodalan atas tender-tender yang diikuti serta menurunkan tingkat utang perseroan,” terang dia.
Izin rights issue sendiri didapat akhir tahun lalu melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Dan sesuai persetujuan RUPSLB 23 Desember 2019 tersebut, pihaknya diiberikan waktu selama 12 bulan untuk merealisasikan aksi korporasi ini.
Saham TOPS kembali diperdagangkan Rabu (19/2/2020) kemarin, setelah sehari sebelumnya disuspensi BEI. Namun, harga saham anjlok 25,37% atau 17 poin ke level Rp50 saat memasuki pukul 10:15 WIB—10:30 WIB itu.
Fluktuasi saham TOPS tampak terlihat, terutama sejak pekan lalu. Pasalnya, kenaikan dan penurunan harga bisa mencapai belasan persen. Bahkan, pada Senin (17/2/2020) lalu, atau sehari sebelum suspensi, saham TOPS anjlok 22,09%.
Sepanjang tahun berjalan, saham TOPS terkoreksi 81,48% dari posisi akhir Desember 2019 senilai Rp270. Namun, waktu-waktu sebelumnya, penurunan saham tidak hanya berlangsung pada 2020, tetapi juga di tahun-tahun lalu.
Saham TOPS mencapai puncaknya pada 10 Juli 2018 di posisi Rp990. Sepanjang 2018, sahamnya menguat 15,92% ke level Rp830, dari akhir 2017 di level Rp716.
Pada 2019, pergerakan saham TOPS cenderung menurun. Koreksi itu semakin terasa pada 11 November 2019, ketika harga berada di level Rp580, kemudian berangsur anjlok ke Rp270 pada akhir 2019. Sementara untuk komposisi pemegang saham per 31 Januari 2020 adalah 61,13% dipegang oleh PT Totalindo Investama Persada, 8,76% dipegang oleh PT Mahkota Properti Indo Senayan dan 29,11% dipegang oleh masyarakat.
