Industri bank tak melulu mengutamakan profit. Namun lebih dari itu, peningkatan kinerja dalam hal integrasi aspek lingkungan, sosial dan tata kelola pada strategi bisnis tak terlewatkan. Akhirnya lima bank bergabung dengan Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia atau IKBI. Kelima anggota baru tersebut adalah CIMB Niaga, Bank Syariah Mandiri, OCBC NISP, Maybank Indonesia, dan HSBC Indonesia. Dengan ini IKBI sudah memiliki anggota sebanyak 13 anggota yang mewakili 60 persen aset perbankan nasional.
Dengan meluasnya jaringan keanggotaan, diharapkan dapat menjadi katalis bagi pemerataan peningkatan kinerja bank nasional dalam hal integrasi aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola pada strategi bisnisnya.
Secara keseluruhan anggota IKBI, yaitu, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk, Bank Central Asia (BCA) Tbk, Bank CIMB Niaga Tbk, Bank Syariah Mandiri Tbk, Bank BJB Tbk, Bank OCBS NISP Tbk, Maybank Indonesia Tbk, HSBC Indonesia Tbk, Bank Muamalat Tbk, Bank Artha Graha Internasional Tbk, dan BRI Syariah Tbk.
“Harapan kami, agar para anggota IKBI dapat menjadi pionir yang meningkatkan peran sektor keuangan dalam mendorong para nasabah untuk menerapkan transformasi praktik berkelanjutan, memitigasi risiko keberlanjutan pada portofolio, dan beralih pada peluang ekonomi global yang rendah karbon dan tahan terhadap perubahan iklim,” jelas Ketua IKBI, yang juga Dirut BRI Sunarso.
IKBI diharapkan mampu mendukung implementasi peta jalan keuangan berkelanjutan beserta aturan implementasinya, yaitu Peraturan OJK No. 51 dan No. 60 tahun 2017 tentang Keuangan Berkelanjutan dan Obligasi Hijau.
IKBI juga dirancang agar berfungsi sebagai sarana pertukaran pengalaman dan pembelajaran antar-aktor industri jasa keuangan, dalam rangka meningkatkan pengetahuan mengenai prinsip keuangan berkelanjutan, mengambil peluang bisnis dalam ekonomi Indonesia yang berketahanan terhadap perubahan iklim, dan berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Tujuan pembangunan berkelanjutan ini membutuhkan partisipasi yang lebih luas dari sekadar upaya pemerintah saja. Tidak hanya dari sektor industrial, namun juga Lembaga Jasa Keuangan (LJK) yang berperan penting dalam hal mencapai tujuan ini lewat penyediaan produk dan jasa keuangan yang bercirikan People, Planet and Profit (3P) atau dikenal dengan keuangan berkelanjutan (sustainable finance).
Dalam dimensi lingkungan, maka IKBI mempunyai kepedulian untuk menciptakan suasana yang sehat dan nyaman. “Saat ini kita sedang berada pada masa transisi menuju pembangunan ekonomi rendah karbon. Berdasarkan Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, emisi gas rumah kaca (GRK) paling banyak dihasilkan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang melibatkan sektor perubahan tata guna lahan dan gambut, energi, industri, pertanian, dan limbah,” jelas Sunarso.
Lanjutnya, “Apabila kegiatan bisnis saat ini tidak mengubah cara-cara produksinya untuk lebih efisien dan rendah emisi, maka target penurunan emisi GRK Indonesia di tahun 2030 tidak akan tercapai. Sektor jasa keuangan dinilai mempunyai peranan kunci di dalam mengembangkan kebijakan yang dapat meningkatkan kinerja praktik berbagai industri guna menurunkan emisi GRK,” ungkapnya.
Berdasarkan data The Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) Tahun 2018, memperlihatkan bahwa kenaikan suhu bumi sebesar 1,5 derajat celcius akan menimbulkan dampak iklim yang cukup besar seperti terjadinya kekeringan, curah hujan yang tinggi, kenaikan permukaan air laut, dan kepunahan spesies serta bertambahnya isu ketahanan pangan. Ancaman tersebut dapat berpotensi menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan terganggunya kehidupan sosial.
Kelima bank tersebut masuk melalui seremoni penandatangan yang dilaksanakan pada Seminar Internasional bertajuk ‘Menggerakkan Sektor Keuangan Menuju Perekonomian Tahan Perubahan Iklim’, belum lama ini. Pada kesempatan seminar internasional ini, IKBI mengumpulkan jajaran pemimpin lembaga jasa keuangan nasional dan para pemangku kepentingan pasar modal. Tujuannya memberikan pemahaman yang lebih baik terkait bagaimana memahami adanya risiko iklim di dalam portofolio mereka, dan mengelolanya agar terhindar dari potensi disrupsi ekonomi yang buruk.
Bank-bank telah berkomitmen untuk menjaga kelestarian alam. Seperti, dikatakan Direktur Compliance, Corporate Affairs and Legal CIMB Niaga, Fransiska Oei. “Pertumbuhan usaha perlu memastikan kelestarian alam, karena itulah kami mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan perluasan akses masyarakat ke layanan keuangan sehingga dapat mencapai taraf hidup yang lebih baik,” kata Fransiska Oei.
Sementara, Direktur Bank OCBC NISP, Joseph Chan menilai penting bisnis yang memiliki komitmen berkelanjutan. “Kami memahami bahwa bisnis yang bertanggung jawab adalah yang memiliki komitmen berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta lingkungan sekitarnya. Bergabung dengan IKBI berarti memperkuat sinergi antar lembaga demi mendukung terciptanya transformasi praktik keuangan berkelanjutan,” ujarnya.
“Bersama-sama, instansi keuangan bisa menjadi katalis perubahan dan menciptakan medan bermain yang setara dalam keuangan berkelanjutan untuk membantu mengatasi perubahan iklim dan mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” ungkap Presiden Direktur HSBC Indonesia, Sumit Dutta.
IKBI akan bergerak sesuai peta jalan jangka panjangnya dalam memprioritaskan program strategis, memperluas inisiatif, membangun kemitraan, melakukan studi-studi, dan memulai proyek perintis pada pengembangan model bisnis hijau yang relevan.
Bank Indonesia pun menunjukkan komitmennya untuk ikut serta dalam pengelolaan risiko iklim dengan bergabung menjadi anggota The Network for Greening the Financial System (NGFS). Sebuah platform regulator keuangan global untuk mengatasi risiko perubahan iklim.
Sumber Ilustrasi: Istimewa
