TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Minyak Goreng, Bukan Sekadar Bikin Renyah Tapi Juga Berkelanjutan

Nurdian Akhmad
17 March 2020 | 23:19
rubrik: Business Info
Minyak Goreng, Bukan Sekadar Bikin Renyah Tapi Juga Berkelanjutan

Minyak goreng bertuliskan 365 yang ada di rak gerai Superindo, Kembangan, Jakarta Barat pada Senin (16/3/2020) itu istimewa bukan cuma karena mereknya yang tergolong private label, sehingga hanya bisa ditemui di jaringan supermarket tersebut. Namun, karena produk seharga Rp 24.500 untuk kemasan dua liter itu juga mengusung konsep keberlanjutan.

Simbol Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) pada kemasannya itu menandai rangkaian kerja keras berbagai pihak di Indonesia, salah satu negara penghasil sawit terbesar di dunia, untuk mengubah wajah suram kebun-kebunnya menjadi lebih hijau. WWF Indonesia dalam siaran persnya pada 20 Januari 2020 menyebutkan, Superindo telah berinisiatif memastikan house brand produk minyak gorengnya berasal dari rantai pasok yang tidak terlibat dalam praktik ilegal maupun merusak lingkungan.

Berjalan di antara rak-rak supermarket, kata Margareth Meutia, Public Campaign Specialist WWF Indonesia, mestinya bukan cuma kegiatan belanja bulanan semata. Belanja, mengonsumsi, memilih produk serta aneka aktivitas kita sebagai konsumen, kata Margareth, adalah kesempatan untuk berkontribusi bagi lingkungan negeri ini, termasuk untuk memupus citra dan kondisi buruk sawit Indonesia. Sawit selama ini identik dengan aneka pelanggaran hukum dan lingkungan, mulai dari pembakaran lahan, penyalahgunaan area hutan lindung hingga teknik budidaya monokultur yang ketidakseimbangan. Sehingga melalui gerakan sawit berkelanjutan, maka proses produksi dilakukan secara lestari, tidak menimbulkan kerusakan lingkungan serta justru membawa kesejahteraan dan perlindungan bagi hutan alam yang masih tersisa.    

“Kami menyebut gerakan ini #BeliYangBaik, bertujuan memberikan informasi mengenai produk sawit berkelanjutan yang sehari-hari digunakan konsumen dan skema sertifikasi RSPO yang menjamin produk produk sawit yang dikelola dengan baik dan bertanggungjawab. Misalnya minyak goreng, sabun, es krim dan lainnya,” ujar Margareth kepada TopBusiness, Selasa (17/3/2020).

Keuntungan jangka panjang
Margareth mengakui, dampak gerakan #BeliYangBaik yang terhubung dengan sawit berkelanjutan, belum terlampau signifikan. Namun, terdapat tren peningkatan pemahaman konsumen terhadap produk yang berasal dari pengelolaan yang baik. “Keuntungan menjadi konsumen bertanggung jawab akan dirasakan dalam jangka panjang dan akan lebih terasa ketika dilakukan bersama. Keuntungan tersebut adalah kehidupan menyeluruh  yaitu ekonomi, sosial, lingkungan, yang lebih lestari, adil dan setara.”

BACA JUGA:   Produksi CPO Naik, Ekspor Drop 2%

Kendati tak berdampak langsung, lanjut Margareth, di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, kesadaran konsumen sudah lebih tinggi. Kondisi lingkungan alam mareka yang terbatas, pun tingkat pendidikan ikut memengaruhi. Di sana, konsumen memilah antara produk yang berkelanjutan dan yang tidak, terlebih, pilihan produk berkelanjutan di sana juga sudah lebih banyak. “Bahkan sudah ada ritel besar yang sebagian besar produknya sudah memenuhi prinsip-prinsip dasar sustainability.”

Kendati belum terlampau lazim bagi konsumen di negeri ini untuk mencari label RSPO di kemasan minyak goreng, margarin serta produk-produk berbahan sawit lainnya, selain tentunya harga, Margareth mengaku optimistis. Di Indonesia perkembangan isu-isu keberlanjutan, termasuk di bidang sawit, kian meluas di kalangan konsumen milenial yang terbuka atas paparan informasi. “Hal ini seiring dengan kian banyaknya inisiatif, seperti Gerakan Diet Kantong Plastik, Bye Bye Plastic Bag, sejumlah bulkstore (toko grosir tanpa kemasan), produsen UMKM produk daur ulang, produk organik, dan lain-lain.”

Khusus di produk sawit, Margareth memaparkan, ekolabel RSPO menjadi pilihan terbaik karena sertifikasi ini menjamin proses produksi kelapa sawit yang bertanggung jawab dan dari sumber yang berkelanjutan.

Mengafirmasi kondisi minimnya label RSPO di kemasan-kemasan produk berbahan sawit, di Super Indo baru ditemukan dalam plastik minyak goreng dan di supermarket lain bisa jadi nihil, Margareth mengakui, jumlah produk berlabel RSPO belum banyak di pasaran. “Jadi yang bisa dilakukan konsumen adalah pro aktif meminta kepada produsen atau ritel penjual produk untuk menyediakan produk yang berlabel RSPO. Karena, konsumen memahami dan mendukung gerakan konsumsi berkelanjutan ini, namun pilihan mereka dibatasi oleh produsen serta peritel. Produk berkelanjutan yang ada di pasaran saat ini cenderung mahal dan sulit terjangkau konsumen kebanyakan!” serunya.

BACA JUGA:   Metland Fasilitasi Tempat Vaksinasi Covid-19

Khusus untuk minyak goreng 365, sebutan lebih mahal itu tidak berlaku karena harganya tidak berselisih jauh dari produk-produk sejenis. Sayangnya, kata Margareth, hingga kini komposisi produk berkelanjutan ini diperkirakan masih di bawah 10%, walaupun masih harus divalidasi riset lebih lanjut.

Terkait keyakinan tentang konsumen yang berdaya bisa mendesak produsen dan peritel untuk lebih bertanggungjawab, Margareth menyatakan permintaan atas produk-produk yang berkelanjutan akan mendorong produsen dan peritel untuk meningkatkan pasokan. Sehingga, dengan sendirinya produsen akan mulai menerapkan praktik-praktik produksi berkelanjutan untuk menghasilkan produk yang juga berkelanjutan yang diminta konsumen.

H. Narno, Ketua Kelompok Tani Sawit Swadaya Amanah, yang menerima sertifikat RSPO pertama di Indonesia/foto: WWF Indonesia

Mari menelisik sawit itu hingga ke hutan!

Joko Sarjito, Sustainable Palm Oil Manager WWF Indonesia, yang mengawal program Sawit Berkelanjutan, menyatakan saat ini implementasi masih fokus pada perbaikan tata kelola penggunaan lahan agar pembangunan perkebunan meminimalisir konversi hutan alam dan melindungi tutupan hutan yang ada.

“WWF-Indonesia saat ini telah melakukan beberapa kegiatan terkait pendekatan jurisdiksi yaitu upaya memberikan enabling legal situation yang menjadi panduan pengambil keputusan dalam kebijakan terapan serta implementasi di tingkat pelaku yaitu petani kecil, private sector dan kalangan masyarakat sipil agar perkebunan dilaksanakan secara bertanggungjawab, berkelanjutan dan memberikan manfaat hingga generasi ke generasi. Misalnya, melalui Rencana Strategis Perkebunan dan Rencana Induk Perkebunan berkelanjutan di Kabupaten Sintang, Melawi, Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), di Kalimantan Tengah dan Papua,” ujar Joko.

Selain itu, juga dilakukan pendampingan petani petani kecil dalam mengimplementasikan cara berkebun yang baik, efisien dan produktif. Melalui pembentukan kelompok tani, penguatan kelompok, pelatihan good agriculture practices hingga sistem pelacakan. Pendampingan itu dilakukan di Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah di Ukui, Pelalawan, Riau yang mendapatkan sertifikat RSPO pertama pada 2013 dan 2018. Mereka terdiri dari 501 petani dan total luas lahan sebesar 1,048.07 Ha. Saat ini Amanah sudah mandiri dalam melanjutkan implementasi RSPO-nya.

BACA JUGA:   Karena CPO, Laba Bersih MGRO Melejit 582 Persen

Selanjutnya, Asosiasi Petani Sawit Swadaya Mandiri, di Kuantan Singingi, Riau yang mendapatkan sertifikasi RSPO pada 2019, dengan anggota sejumlah 76 petani dan total luas lahan 150,93 ha. Ada pula Koperasi Petani Sawit Rimba Harapan, di Sintang, Kalimantan Barat yang terdiri atas 105 petani dengan luas lahan 171.16 ha yang ditargetkan meraih standar RSPO pada 2020. Selain itu, terdapat kelompok masyarakat yang didampingi di Kapuas Hulu dan Melawi, Kalimantan Barat.

Lacak hingga ke kebun

Dalam rilisnya, Super Indo menyebutkan pihaknya telah memulai proses penelusuran produk-produk minyak kelapa sawit dan produk-produk private brand yang mengandung minyak kelapa sawit hingga ke perkebunan. Proses itu dilakukan Bersama mitranya, TFT, organisasi global yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan. Di akhir 2015, 100% produk minyak kelapa sawit dapat dilacak kembali hingga ke pabrik pengolahan. Super Indo juga berinvestasi dengan mendapatkan sertifikat GreenPalm yang diterbitkan RSPO. Sejak 2015, seluruh produk berbahan sawit 365 telah berlabel Greenpalm dan akan terus dipertahankan pada 2020.

Jika di kalangan peritel lainnya, label privat identik dengan strategi untuk ikut menangguk keuntungan sebagai produsen dengan bekerjasama dengan pemasok yang tak keberatan masuk dengan merek milik toko, maka dengan pendekatan keberlanjutan, strategi itu hadir penuh makna. Pun, jika di toko peritel lain, label pivat selalu bercitra murah, dengan kualitas yang di bawah merek ternama, namun dengan sikap bersahabat pada lingkungan, keberlanjutan melepaskan diri dari stigma itu. Produk privat hadir percaya diri dengan mengusung aspek tanggung jawab mulai dari kualitas, harga, rantai pasok hingga korelasinya dengan lingkungan. Tentu saja, karena keberlanjutan adalah implementasi tanggung jawab. Jadi, mulai sekarang jangan cuma jadi hamba promo, tapi juga pemburu ekolabel!   

Tags: cpoMinyak Gorengminyak sawitSuperindowwf indonesia
Previous Post

Pemerintah Siapkan Kebijakan Dampak COVID-19

Next Post

Suspensi NASA dan NASA-W Dicabut

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR