Jakarta — E-commerce (electronic commerce) properti komersial di Indonesia akan terus berkembang sebagaimana yang untuk properti hunian. Secara konseptual e-commerce, penjualan properti komersial yang bersifat B2B (business to business) akan sama tumbuh dengan penjualan properti hunian yang bersifat C2C (customer to customer). Pengamat e-commerce yang juga pendiri situs Rajalistrik.com, Purjono Agus Suhendro, mengatakan hal itu di Jakarta hari ini.
Purjono berkata, sebenarnya peluang perkembangan e-commerce properti komersial tidak berbeda dengan properti hunian. Hanya, kuantitas produk properti komersial seperti ruang kantor, rumah toko, dan lain sejenis, lebih sedikit. “Maka, sekilas, terlihat bahwa e-commerce properti komersial lebih lambat berkembang. Padahal tidak begitu,” kata dia.
Ke depan, pasokan properti komersial yang naik, otomatis menaikkan tingkat penjualan. Dan seiring itu, penjualan properti komersial via internet naik. “E-commerce adalah kanal distribusi baru yang sangat bertenaga,” papar Purjono.
Jumlah pengguna internet yang terus meningkat di Indonesia akan mendongkrak pertumbuhan e-commerce. Tak terkecuali untuk pasar properti dan subsektornya seperti properti komersial, dia mengatakan.
Ia pun mengatakan, ke depan, e-commerce properti akan bertambah banyak di Indonesia. Ada kemungkinan bahwa pemain multinasional baru yang masuk ke Indonesia bertambah. “Mulai tahun 2015 dan seterusnya, persaingan e-commerce properti di Indonesia semakin ketat.” (DHIT)
