
Jakarta, businessnews.id — Para regulator perbankan Asean kini sedang merumuskan Qualification Asean Bank (QAB) yang akan berlaku tahun 2020. Hal itu untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal itu dijelaskan Direktur Utama Bank Mandiri, Budi Sadikin, di Jakarta (12/2/2015).
Budi menambahkan, salah satu kualifikasi itu terkait standardisasi corporate governance. Sementara, Bank Mandiri mengharapkan hal itu tidak termasuk kriteria.
Sedangkan kualifikasi lainnya terkait dengan permodalan kuat, permodalan menurut Basel III, manajemen, dan kinerja keuangan.
Kata dia lagi, Bank Mandiri masih perlu membenahi implementasi good corporate governance (GCG) Asean. Di sini, dibandingkan bank negara lain Asean seperti Singapura dan Malaysia, masih di urutan bawah.
“Sementara, kalau di antara perbankan Indonesia, Bank Mandiri di nomor wahid,” dia berkata.
Naiknya NPL
Budi pun berkata, pihaknya sepanjang 2014 mencatatkan pertumbuhan kredit macet atau NPL nett (non-performing loan nett) sebesar 0,23%. Dengan pertumbuhan itu, NPL di akhir 2014 di 0,81% sedangkan akhir 2013 di 0,81%.
Peningkatan angka NPL itu disumbangkan oleh anak usahanya yakni Bank Syariah mandiri.
“Tahun lalu, bisnis di syariah cukup tidak bagus,” kata dia.
Sedangkan NPL gross di akhir tahun 2014 sebesar 2,15% atau naik dibandingkan akhir tahun 2013 yang sebesar 1,9%.
Sehingga untuk meningkatkan kinerja Bank Mandiri Syariah, Bank Mandiri merencanakan menambah provisi sebesar Rp 1 triliun.
Dari sisi pertumbuhan kredit, sepanjang tahun 2014, Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 12,2%; akhir tahun 2014, total portofolionya sebesar Rp 530 triliun sedangkan pada tahun 2013 sebesar Rp 472,4 triliun.
Penulis/Peliput: Abdul Aziz
Ed: Dhi