Jakarta, TopBusiness – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis hingga akhir tahun 2020, defisit transaksi berjalan dapat terjaga rendah, di bawah 2 persen. Pada kuartal I-2020, defisit transaksi berjalan berada di bawah 1,5 persen.
“Secara keseluruhan, defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan barang dan jasa dan pendapatan itu rendah, sebesar US$ 3,9 miliar atau 1,42 persen dari PDB. Insyaallah CAD akan tetap terkendali di bawah 2 persen dari PDB,” ujar Perry dalam konferensi pers daring yang dikutip, Jumat (29/5/2020).
Dia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang mendukung terkendalinya CAD. Faktor pertama yaitu naiknya nilai ekspor menjadi US$ 41,7 miliar. Meski naik, namun peningkatannya hanya tipis karena CAD tahun lalu tercatat sebesar US# 41,2 miliar.
Di sisi lain, nilai impor mengalami penurunan. Dari US$ 39,9 miliar pada kuartal I 2019, menjadi US$ 37,3 miliar di kuartal I 2020.
Faktor kedua yaitu lebih rendahnya perkiraan realisasi defisit neraca jasa. Seperti diketahui, pandemi virus corona membuat devisa masuk dari pariwisata menjadi amblas. Kondisi ini terjadi karena pembatasan pergerakan aktivasi manusia antarnegara.
Tak bisa dipungkiri, pariwisata ke Indonesia menurun drastis. Namun di sisi lain kondisi ini juga diimbangi dengan penurunan pariwisata atau turis keluar. Baik hanya sekadar jalan-jalan keluar negeri, maupun kegiatan ibadah seperti umrah dan haji.
Ketiga, lebih rendahnya pendapatan primer, termasuk di dalamnya adalah pembayaran bunga berkaitan dengan penurunan SBN yang dimiliki investor asing.
“Adanya COVID l-19 membuat kepanikan pasar global, ada capital outflows, investor asing lepas SBN-nya di Indonesia, sehingga itu juga mengurangi kebutuhan kita untuk bayar bunga ataupun dividen ke investor asing. Itulah tiga faktor utama yang menyebabkan CAD lebih rendah di bawah 1,5 persen dari PDB,” tandasnya.
Modal Asing Masuk Naik
BI juga mencatat aliran modal asing yang masuk (inflow) ke Indonesia melalui Surat Berharga Negara (SBN) mengalami peningkatan. Pada periode 18-20 Mei 2020, atau pekan kedua, aliran modal asing yang masuk mencapai Rp 6,15 triliun. Angka ini lebih tinggi dari posisi pekan pertama Mei 2020 yang hanya tercatat Rp 2,97 triliun.
“Terdapat inflow Rp 6,15 triliun dari periode 18-20 Mei. Sedangkan di minggu pertama Mei, inflow SBN Rp 2,97 triliun. Ini membutktikan bahwa dengan meredanya kepanikan global dan langkah penanganan COVID-19 di Indonesia, inflow di SBN mengalami peningkatan,” ujar Perry Warjiyo.
Menurut Perry, peningkatan aliran modal asing dalam bentuk SBN ini disebabkan karena adanya perbaikan tingkat imbal hasil atau yield. Adapun yield SBN dalam jangka waktu 10 tahun tercatat mengalami penurunan.
Per April 2020 nilai imbal hasil SBN tercatat mencapai 8 persen. Pada 15 Mei 2020 yield SBN turun menjadi 7,76 persen. Per 26 Mei 2020 yield kembali turun di level 7,22 persen.
Untuk itu Perry mengklaim bahwa kondisi tersebut masih menggambarkan bahwa SBN Indonesia jauh lebih menarik dibanding negara lainnya. Perry mencontohkan obligasi Amerika Serikat untuk jangka waktu 10 tahun, kini imbal hasilnya berada di kisaran 6,7 persen.
Sayangnya, kondisi berbeda justru terjadi di pasar modal Indonesia. Perry mengatakan, terdapat outflow atau aliran modal dalam bentuk saham yang keluar dari Indonesia.
Pada pekan kedua Mei 2020 misalnya, nilai dana asing yang keluar mencapai Rp 2,72 triliun. Meskipun angka ini masih lebih baik dibanding pekan pertama Mei 2020 yang mencapai Rp 3,19 triliun.
