Jakarta, TopBusiness – Hengkangnya Shell dari proyek Abadi Masela menjadi kabar buruk, di tengah upaya Pemerintah menggenjot penyelesaian proyek tersebut sebagai proyek migas terbesar sejak Indonesia merdeka.
Namun, hal itu menjadi peluang pula bagi badan usaha nasional baik BUMN maupun swasta masuk dalam proyek Abadi Masela yang memiliki cadangan terbukti 18,5 TCF gas, yang saat beroperasi akan menghasilkan gross revenue sekitar USD 118 miliar atau setara dengan Rp 1.700 triliun sampai tahun 2050. Jika dirasakan berat masuk sendiri, maka Pertamina dapat membentuk konsorsium dan menggandeng swasta nasional seperti Medco, Energi Mega Persada dan lainnya.
“Hengkangnya Shell dari proyek abadi Masela adalah hal yang biasa dalam sebuah korporasi. Sebagai international oil company (IOC) dengan portofolio investasi di berbagai negara, maka di tengah harga minyak dunia yang masih rendah dan wabah Covid-19 yang memukul sektor ekonomi, Shell melakukan penataan ulang investasi dan akan fokus pada proyek-proyek yang segera menghasilkan pendapatan dalam jangka pendek”, tegas Ridwan Hisjam, anggota Komisi VII DPR Fraksi Golkar Daerah Pemilihan Jawa Timur (Jatim) V yang melingkupi Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu, dalam keterangan resmi yang diterima redaksi Top Business.id.
Berdasarkan data dari Rystad Energy Research and Analysis yang dipublikasikan pada April 2020, harga minyak dunia sampai tahun 2021 tidak akan melebihi USD 50 per barrel. Akibatnya perusahaan minyak kelas dunia mengurangi investasi dan menunda penyelesaian proyek hulu migas dan bahkan menghentikan. Untuk Shell, melakukan pemotongan proyek di 2020 yang telah berjalan dari awalnya USD 18 miliar menjadi USD 15 miliar. Proyek besar Shell yang ditunda antara lain Whale USA senilai USD 4,5 miliar dan Crux Australia senilai USD 2,0 miliar.
“Jadi, hengkangya Shell dari proyek Masela lebih pada pertimbangan perusahaan dalam mengatur dan menyeimbangkan portofolio di tengah harga minyak dunia yang turun karena permintaan dunia juga turun”, kata Ridwan.
Menurut dia, POD Revisi Masela sudah disetujui di tahun 2019, lokasi lahan dan segala perijinan juga sudah diselesaikan, bahkan Pemerintah Provinsi Maluku memberikan dukungan yang luar biasa pada proyek ini. Maka dapat dikatakan hambatan birokrasi dan perijinan sudah tidak ada. “Saya optimis akan ada investor baru yang akan masuk atau mungkin malah INPEX akan 100% mengambil alih dengan membeli saham Shell”, ujar Ridwan.
Dikatakan, dalam konteks membangun ketahanan energi, maka dirinha melihat ini peluang bagi Pertamina dan perusahaan swasta lain untuk masuk ke proyek Abadi Masela. Dengan nilai proyek sekitar USD 19 miliar, dengan saham 35% akan membutuhkan sekitar USD 6 miliar. Salah satu cara adalah membuat konsorsium nasional dengan Pertamina menjadi pemimpin konsorsium. “Saya rasa Visi Pemerintah untuk merealisasikan produksi 1 juta BOPD akan banyak dikontribusikan dari proyek Masela. Karena itu, proyek ini penting dan butuh dukungan yang serius dari Pemerinta”, ucap Ridwan.
Dia menambahkan. “Saya rasa inilah kesempatan bagi Pertamina untuk membuktikan diri sebagai perusahaan berskala global berani masuk ke proyek Masela. SDM Pertamina akan dipacu untuk belajar teknologi yang baru, dan masa depan Indonesia untuk hulu migas kedepannya adalah di laut dalam. Jadi Proyek Masela adalah strategis bagi membangun daya saing, sangat berbeda dibandingkan dengan Pertamina yang mengelola blok terminasi. Pemerintah harus mendorong Pertamina dan swasta nasional lainnya membentuk konsorsium dan masuk ke proyek Masela”, lanjut Ridwan.
Sebelum menutup pembicaraan, Ridwan berpesan bahwa saat ini kita hanya memiliki cadangan operasional dalam bentuk BBM yang dimiliki oleh BUMN energi yakni Pertamina sebesar 18 hari operasional. Seharusnya negara memiliki cadangan strategis energi nasional dal bentuk minyak mentah dan BBM. Untuk BBM minimal 6 bulan atau 180 hari yang tentu saja saat ini harus impor karena keterbatasan kilang Pertamina.
Adapun untuk cadangan dalam bentuk minyak mentah, saat ini banyak aset dalam bentuk kilang penyimpanan produksi hulu migas yang bisa dimanfaatkan karena Indonesia pernah memproduksi 1,6 juta minyak pervhari dan dengan produksi di kisaran 700 ribu barrel per hari ada banyak tangki yang kosong dan harus dirawat yang justru menjadi beban negara.
“Cadangan strategis ini merupakan tanggung jawab negara, yang harusnya teralokasi dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional yang tentu akan berpengaruh terhadap ketahanan nasional. Oleh karena itu, saya senantiasa mengingatkan agar segera dilakukan upaya penyediaan cadangan strategis energi nasional”, pungkasnya.
