Jakarta, TopBusiness – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjelaskan, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia bisa berkontribusi menyelamatkan perekonomian nasional di tengah pandemi Covid-19 saat ini.
UMKM masih banyak yang bisa bertahan atau bahkan tumbuh, terutama yang mampu beradaptasi dengan teknologi digital dan melakukan inovasi produk. Untuk itu, ia akan mendorong ekosistem digital di kalangan UMKM di Indonesia.
“Digitalisasi menjadi sangat penting karena ada perubahan perilaku konsumen yang lebih suka belanja online. Di samping itu juga digitalisasi juga akan memperluas akses pasar bagi UMKM,” ujar Teten Masduki saat webinar bertajuk “Digital Economy & Pemberdayaan UMKM” yang digelar LPPI secara virtual, Rabu (8/7/2020).
Teten Masduki mencontohkan terkait inovasi produk seperti saat ada penjual batik yang sepi pembeli karena jarang ada pesta. Penjual tersebut lalu beradaptasi dan menyesuaikan barang yang dijual.
“Ada pengrajin batik mengubah dari batik fashion ke daster. Wah lakunya bukan main. Karena orang lebih sering di rumah,” tutur Teten
Meski demikian, menurut Teten, pemerintah tetap mendorong pemulihan UMKM melalui beragam stimulus atau bantuan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dalam kondisi sulit seperti saat ini banyak perusahaan besar atau investor yang berhenti dan menunggu keadaan membaik. Pembangunan infrastruktur juga banyak yang ditunda. Namun, ia merasa UMKM tidak bisa untuk menarik napas seperti itu.
“Kalau UMKM enggak mungkin nunda karena enggak punya tabungan lagi, dapur harus terus ngebul untuk hidup. Karena itu meskipun mereka tidak untung, tenaga kerja, jam kerja enggak pernah dihitung asal mereka bisa ada kegiatan usaha, bisa menghidupi anak istri ini akan tetap berjalan,” ujar Teten.
“Karena itu saya melihat UMKM justru bisa menjadi dinamisator ekonomi di tengah kelesuan nasional atau global,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komite Tetap Bidang UMKM Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Iqbal Farabi menyampaikan, 18% pelaku UMKM sudah memiliki akses ke internet. Sayangnya, banyak UMKM yang belum memanfaatkan akses internet itu untuk kepentingan transaksi.
Di sisi lain, fintech juga sudah masuk untuk pembiayaan UMKM, tetapi dengan bunga yang cukup tinggi, dan pembiayaan terbatas hingga Rp70 juta. Alhasil, faktor itu menjadi kendala bagi pelaku UMKM untuk naik kelas.
“Padahal pemerintah punya program KUR yang nominal pembiayaannya bisa disalurkan hingga Rp500 juta. Saya harap para hadirin di sini yang berasal dari bank agar bisa langsung menyentuh para pelaku platform e-commerce untuk memberikan pembiayaan, karena kunci utama bagi UMKM untuk memulai dan bangkit adalah pembiayaan,” jelas Iqbal.
Ia mengatakan, keaktifan transaksi para pelaku UMKM di platform e-commerce ini seharusnya menjadi kemudahan bagi bank untuk menyentuh. “Lihat perputaran uangnya, sudah berapa lama mereka menjadi anggota atau pelanggan juga. Dengan itu, bank bisa menyuntik mereka dengan dana, dan mereka bisa naik kelas dari small menjadi medium, misalnya,” tambah Iqbal.
Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara mengatakan, di saat pandemi ada beberapa perusahaan yang kapitalisasi pasarnya meningkat, seperti Amazon di Amerika Serikat. Tren peningkatan kapitalisasi pasar ini juga tampak di banyak perusahaan yang berfokus di bisnis berbasis digital. “Di Indonesia, tren ini terjadi di online marketplace (pasar daring) seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan yang lainnya. Hal ini berarti ada shifting perilaku yang terjadi di masyarakat, korporasi, dan tentunya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” ungkap Mirza
