Jakarta, TopBusiness—Konsultan properti Savills Indonesia, memublikasikan sebuah riset terbaru tentang pasar apartemen mewah di Jakarta. Sejumlah hal tentang pasar apartemen tersebut dijelaskan di riset tersebut.
Kepala Riset Savills Indonesia, Anton Sitorus, menjelaskan sejumlah hal. Antara lain, bahwa pengembangan apartemen mewah di Jakarta mencapai puncak sekitar tahun 2000 sampai 2012.
“Tetapi kemudian, menurun sejak tahun 2016,” kata dia.
Di sela munculnya proyek apartemen mewah antara tahun 2017 sampai 2019, pertumbuhan pasokan diprediksi masih pelan sampai tahun 2023.
Dalam upaya mendorong pertumbuhan pasar, Kementerian Keuangan RI mengeluarkan amandemen pajak barang mewah di tahun 2019. Sejak amandemen itu, konsumen apartemen mewah dikenai pajak barang mewah bila harga properti itu di atas Rp 30 miliar—sebelumnya, batasan itu di Rp 10 miliar.
Anton memaparkan, dalam distribusi pasokan, CBD Jakarta menyumbang 56% dari total pasokan apartemen mewah. Adapun untuk area non-CBD, didominasi oleh Jakarta selatan dengan porsi 36%. “Area primer non-CBD adalah seperti Kemang, Pondok Indah, dan Dharmawangsa,”Anton menjelaskan.
Saat ini, masih kata Anton, sejumlah developer asing juga membangun apartemen mewah di Jakarta.
Sumber Ilustrasi: Istimewa
