Jakarta, TopBusiness – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat selama pekan lalu terjadi peningkatan risiko di pasar surat utang atau obligasi. Kondisi tersebut ikut memicu imbal hasil atau yield obligasi pemerintah.
Menurut laporan dari Tim Riset Ekonpmi Pefindo selama pekan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah untuk 10 tahun naik menjadi 6,92% pada Jum’at (2/10) dari sebelumnya 6,91% di akhir pekan sebelumnya Jum’at (25/9).
“Peningkatan ini seiring dengan adanya sentimen negatif dari pasar obligasi yakni meningkatnya risiko,” sebut laporan tersebut seperti yang diterima media, di Jakarta, Selasa (6/10/2020).
Hal ini terlihat dari adanya hedge fund seperti Pinebridge & Aberdeen yang menurunkan penilaian mereka ke pasar obligasi Indonesia. “Selain itu, risiko global juga meningkat saat ini, investor asing kecenderungan meninggalkan emerging markets,” katanya.

Pada Jum’at (2/10) lalu, imbal hasil treasury AS 10-tahun naik menjadi 0,70% dari sebelumnya 0,65% di Jum’at (25/9).
Peningkatan tersebut didorong bahwa pertumbuhan pekerjaan AS melambat pada bulan September 2020. Ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk stimulus fiskal tambahan karena pandemi COVID-19 berlarut-larut dan mengancam pemulihan ekonomi.
Sementara itu, untuk imbal hasil obligasi korporasi justru turun. Untuk obligasi korporasi dengan peringkat AAA, imbal hasil untuk tenor 9-10 tahun berada di kisaran 8,79%-8,94%. Pada obligasi berperingkat AA dengan tenor 9-10 tahun berada di kisaran 9,26%-9,43%.
“Sedang untuk obligasi berperingkat A dengan tenor 9-10 tahun di kisaran 10,72%-10,83%, dan pada peringkat BBB di kisaran 12,98%-13,21%,” pungkas dia.
Foto: Istimewa

