TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Sambut Hari Kesehatan Nasional, Klaster Filantropi Kesehatan Diluncurkan

Albarsyah
13 November 2020 | 08:40
rubrik: HC
Sambut Hari Kesehatan Nasional, Klaster Filantropi Kesehatan Diluncurkan

Jakarta,TopBusiness – Bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional, Filantropi Indonesia bekerja sama dengan PKMK FK KMK UGM dan Tahija Foundation meluncurkan Klaster Filantropi Kesehatan. Klaster ini dibentuk  dalam rangka meningkatkan kualitas program kesehatan yang didukung, didanai dan dikelola oleh  lembaga-lembaga filantropi di Indonesia.

Pembentukan klaster ini juga diharapkan bisa membantu mengatasi dampak kesehatan yang muncul akibat pandemi COVID-19 yang tengah melanda  Indonesia yang membutuhkan sumber daya dan dukungan dari filantropi. 

Peluncuran Klaster Filantropi Kesehatan ini digelar di sela-sela workshop “Menggali Potensi  filantropi Untuk Andil Indonesia” yang digelar di jakarta, kamis siang (12/11). Acara tersebut  menghadirkan dr. Nafsiah Mboi, Sp.A.. MPH, mantan menteri kesehatan, sebagai pembicara utama  dan dihadiri para pegiat filantropi Indonesia, khususnya yang bergerak di isu Kesehatan. Pada acara  ini Filantropi Indonesia juga mengukuhkan dan mengenalkan PKMK FK-KMK UGM dan Tahija  Foundation sebagai koordinator Klaster Filantropi Kesehatan kepada para pegiat filantropi.

Hamid Abidin, Direktur Filantropi Indonesia, menyatakan bahwa pembentukan klaster Filantropi  Kesehatan ini dinilai penting karena isu atau sektor kesehatan merupakan salah satu program yang  banyak didukung oleh masyarakat, lembaga filantropi maupun sektor swasta.

Di sisi lain, kesehatan  masih menjadi masalah utama di Indonesia yang membutuhkan banyak dukungan. Problem  kesehatan ini menjadi lebih kompleks mana kala pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan  ditetapkan sebagai bencana kesehatan. Di tengah krisis ekonomi dan pembatasan interaksi dan  mobilitas karena kebijakan PSBB, Filantropi dituntut untuk membantu pemerintah dalam mendukung penanganan Covid-19 dan dampak sosialnya. 

“Klaster Filantropi kesehatan ini diharapkan bisa menjadi forum bersama bagi lembaga-lembaga  filantropi untuk andil dalam Indonesia Sehat melalui kegiatan riset, berbagi informasi,  meningkatkan kapasitas, melakukan advokasi kebijakan, serta mengembangkan kolaborasi dengan  sektor lainnya.” Tegas Hamid.

BACA JUGA:   Erick: Guru adalah Pahlawan Bangsa yang harus Memiliki Tanda Jasa

Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., Ketua PKMK FKKMK UGM (Pusat Kebijakan dan  Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM) menambahkan bahwa filantropi kesehatan dibutuhkan karena kondisi sektor kesehatan di  Indonesia berada dalam situasi ekonomi yang sulit, dalam konteks kemampuan pemerintah untuk  mendanai sektor kesehatan. Pertumbuhan cepat Gross Domestic Product (GDP) tidak seiring  dengan bertambahnya Tax-Ratio. Walaupun GDP Indonesia sudah berada di atas Rp 14 ribu triliun,  atau di atas USD 1 triliun, akan tetapi TaxRatio masih berkisar di antara 10-11%. Hal ini kemudian  menimbulkan masalah pada kemampuan pemerintah dalam mendanai program-program  pembangunan, termasuk layanan Kesehatan masyarakat. Fakta di dalam era JKN, kebijakan jaminan  kesehatan ini tidak mampu menambah besaran persentase GDP untuk kesehatan. Selama 10 tahun  terakhir telah terjadi penurunan share GDP untuk kesehatan yakni dari kisaran 3,5% menjadi 3,2- 3,3%.

Tuntutan dan kebutuhan dukungan sumber daya untuk sektor kesehatan semakin meningkat  manakala wabah Covid-19 melanda Indonesia. Walaupun pemerintah telah mengeluarkan dana  kebencanaan dari APBN dan APBD untuk mendanai program pencegahan dan perawatan Covid-19,  intervensi ini tentu masih akan belum cukup untuk menanggapi secara keseluruhan dikarenakan  sifatnya yang kaku dan lambat sehingga sulit jika menanggapi perbedaan kondisi lapangan. “Dengan  semangat gotong-royong dan solidaritas yang meningkat di masyarakat pada masa pandemi Covid-19, filantropi memiliki peran yang besar dalam melengkapi kehadiran program pemerintah karena  sifat aksinya yang fleksibel dan cepat.” kata Prof. Laksono.

Sementara Trihadi Saptoadi, Direktur Eksekutif Yayasan Tahija, meyakini bahwa dibentuknya klaster  Kesehatan di Perhimpunan Filantropi Indonesia akan meningkatkan kerja sama dan kontribusi  filantropi dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. “Di klaster ini kita bisa menggalang sumber  daya dan dana masyarakat terutama para filantropis untuk membuat perubahan yang lebih baik,  dan bersama-sama menawarkan solusi yang inovatif di sektor kesehatan, terutama tentu kontribusi  nyata ke tujuan, target dan indikator SDGs atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang berkaitan  dengan sektor kesehatan” katanya.

BACA JUGA:   Jadi Rumah Talenta Terbaik Indonesia, HC BTN Siap Wujudkan ‘The Best Mortgage Bank di ASEAN’

Sedangkan  Menteri Kesehatan periode 2012-2014, dr. Nafsiah Mboi, yang tampil sebagai pembicara utama di  peluncuran Klaster itu memberikan saran mengenai beberapa fokus isu dan garapan klaster filantropi Kesehatan. Menurutnya, peran dan kontribusi filantropi akan optimal jika bisa diarahkan  untuk membantu mengatasi ketimpangan kondisi dan derajat Kesehatan antar daerah, khususnya  Kesehatan ibu dan anak, penyakit TBC, AIDS dan malaria/DBD. Filantropi juga perlu mendukung  kesenjangan antara harapan hidup (HH) dan harapan hidup sehat (HHH) yang akan menghasilkan  lansia yang tidak sehat. 

Menurutnya, Filantropi juga akan efektif perannya jika diarahkan untuk mendukung masyarakat  dalam promosi hidup sehat dan deteksi dini. “Kalau Masyarakat bisa diedukasi untuk bertanggung  jawab terhadap kesehatannya sendiri sebagai harta tak ternilai, maka itu bisa jadi pendekatan yang  paling efektif dalam mencapai Indonesia sehat. Upaya itu bisa dilakukan secara kongkrit dengan  mengoptimalkan dan memandirikan Posyandu dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat,” katanya.

Filantropi juga bisa mendukung peningkatan kapasitas SDM layanan kesehatan primer, membantu  melakukan kajian dan penelitian. Yang lebih penting lagi, filantropi juga perlu membantu  penanganan Covid-19 karena pandemi ini tidak hanya berpengaruh pada sektor kesehatan, tapi  juga seluruh sendi kehidupan masyarakat di Indonesia. “Kalau bicara tentang gerakan kesehatan masyarakat, kita tidak bisa menggantungkan pendanaan untuk program-program itu dari dari  pemerintah, tapi perlu menggerakkan inisiatif dan dukungan masyarakat melalui filantropi.

Filantropi Indonesia adalah sebuah perhimpunan/asosiasi yang bersifat nirlaba dan independen yang  bertujuan memperkuat lembaga dan kegiatan filantropi di Indonesia agar bisa berperan dan berkontribusi  dalam pencapaian keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Kegiatan Filantropi  Indonesia difokuskan pada: kajian dan edukasi, peningkatan kapasitas organisasi filantropi, fasilitasi  kemitraan lembaga filantropi dengan sektor lain, serta advokasi kebijakan. Informasi lebih lengkap mengenai  Filantropi Indonesia bisa dilihat di www.filantropi.or.id

Previous Post

FIFGROUP Raih Brand Awareness Award pada Indonesia Financial Award 2020

Next Post

Wall Street Terkontraksi, IHSG Turun?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR