Jakarta, TopBusiness – Keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) nuklir bisa dijadikan sebagai pengungkit berbagai produk-produk andalan. Sebenarnya pemanfaatan hasil produk bersumber dari nuklir ini sudah banyak dikembangkan, namun akibat kekhawatiran yang sangat tidak beralasan menyebabkan dipandang sebelah mata.
Oleh sebab itu, sebaiknya seluruh pemangku kepentingan di negeri ini memberikan tempat bagi energi nuklir dalam meningkatkan daya saing bangsa. Karenanya, pihak regulator dan pemerintah harus sepakat memanfaatan iptek nuklir.
Badan Tenaga Nuklir Nasional atau Batan, sebagai sebuah badan yang diamanatkan secara khusus sebagai pengembangan, serta pemanfaatan iptek nuklir di Indonesia turut berperan penting dalam upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Selama 62 tahun, Batan berkiprah dalam pengembangan, pemanfaatan nuklir guna peningkatan nilai tambah pada beberapa sektor, seperti, pangan, kesehatan dan energi. Ketiga sektor bidang yang menjadi konsentrasi, banyak pula menghasilkan berbagai produk unggulan.
Saat ini, masyarakat bisa merasakan berbagai produk kedokteran melalui pemanfaatan tenaga nuklir, seperti, penanganan penyakit jantung dengan mengunakan Iptek nuklir ini, dan penanganan penyakit ginjal, serta beberapa penyakit lainnya.

Juga tidak sedikit pula produk farmasi yang dihasilkan dengan mengunakan proses iradiasi dengan radioisotop. Sehingga, masyarakat luas sudah sangat merasakan keunggulan produk farmasi yang dihasilkan dari Iptek nuklir ini.
Serta sektor pangan. Peningkatan kualitas serta produktivitas berbagai varietas padi-padian milik daerah serta varietas nasional dapat ditingkatkan menjadi varietas unggul yang memberikan peningkatan produksi padi nasional. Peningkatan kualitas varietas ini tidak hanya terbatas pada tanaman padian semata, tapi perkebunan. Seperti peningkatan kualitas dan produktivitas kelapa sawit, dimana kelapa sawit merupakan produk andalan bagi Indonesia dalam penerimaan devisa negara. Indonesia sendiri merupakan negera pengekspor pertama minyak kelapa sawit bagi masyarakat dunia.
Ada lagi pemanfaatan iptek nuklir pada bidang konstruksi dan bangunan sudah dapat diaplikasikan dengan mengunakan teknologi sinar gamma untuk mendeteksi bagaimana kekuatan struktur konstruksi. Keunggulannya dengan cepat mendapatkan hasil yang akurat pada konstruksi.
Keunggulan iptek nuklir dalam segala bidang sudah tak bisa dibantahkan lagi. Batan sebagai lembaga yang langsung ditunjuk sebagai operator dalam pengembangan, pemanfaatan nuklir sangat penting di masa situasi damai seperti saat ini.
62 tahun, Batan berkiprah dan memberikan konstribusi besar dalam sumbangsihnya terhadap pembangunan nasional. Karena, dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas dengan hasil dan berbagai produk, seperti, pangan, kesehatan dan energi yang langsung dirasakan kebermanfaatannya bagi seluruh masyarakat.
Sehubungan dengan hal itu, TopBusiness.id mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara, serta peliputan media visit ke markas reaktor nuklir Batan di kawasan Puspitek Serpong, Tangerang Selatan serta pula ke pusat PAIR, di bilangan Lebak Bulus, beberapa waktu lalu.
Teknologi Nuklir jadi Pengungkit Perekonomian Bangsa
Berbagai hasilan produk iptek nuklir bagi beberapa industri pangan, kedokteran, kesehatan, energi dan produk lainnya menjadi sebuah kenyataan. Seluruh pemangku kepentingan dan komponen bangsa yang sudah harus mengakhiri kecurian terhadap nuklir ini. Jika iptek nuklir ini bisa dijadikan nilai tambah besar dalam mendongkrak penerimaan negara dan peningkatan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat kenapa mesti dihindarkan?.
Walaupun kita tahu bahwa masyarakat Indonesia masih phobia, yang tidak berkesudahan jika mendengar kata nuklir. Memang teknologi nuklir telah melumatkan dan meluluhlantakkan negara Sakura, Jepang pada perang dunia dengan dihujani bom atom oleh negara sekutu USA. Akan tetapi pemanfaatan teknlogi nuklir pada masa damai ini pun sangatlah banyak serta beragam pula. Seperti, pemanfaatan pada bidang pertanian, salah satunya. Banyak dihasilkan bibit benih padi dan produk pertanian lainnya dengan teknlogi radio isotop atau mengunakan radiasi nuklir tersebut.
Sekarang, Indonesia telah memanfaatkan keunggulan teknlogi nuklir ini pada bidang pertanian, perkebunan, kesehatan dan mendukung perekonomian masyarakat. Namun ada masyarakat tidak banyak mengetahui keunggulan teknologi nuklir tersebut. Tentunya, sosialisasi kebermanfaatan nuklir ini harus terus disosialisasikan secara massif. Sehingga, diperlukan pengenalan sejak usia dini manfaatnya.
Berbagai keberhasilan pemanfaatan iptek nuklir dewasa ini terus berkembang dan banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya di bidang pertanian dan industri. Batan melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) berkomitmen untuk terus mengembangkan penelitian di kedua bidang ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di kedua bidang ini, Batan telah ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional/International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai collaborating center untuk wilayah Asia Pasifik.
Hal ini disampaikan Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan, pada jumpa pers di Kawasan Nuklir Pasar Jumat, Jakarta, Kamis (22/10/2020). “IAEA telah menunjuk Batan sebagai collaborating center di bidang pemuliaan tanaman dan uji tak merusak. Ini artinya Batan sudah diakui oleh internasional dalam penguasaan dan pemanfaatan iptek nuklir,” kata Anhar.
Pada rencana strategis (Renstra) 2020-2024, ungkap Anhar, Batan akan lebih difokuskan pada peningkatan penguasaan science dan hasil litbang yang dapat dihilirkan kepada masyarakat. Produk-produk litbang di bidang pertanian dan industri akan lebih didorong untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat, menjelaskan, pada Renstra 2020-2024, fokus kegiatan PAIR di bidang pertanian adalah menghasilkan varietas baru dengan produktivitas yang tinggi. “Dalam Renstra PAIR, target pemuliaan tanaman dibagi menjadi dua, yaitu pemuliaan tanaman nasional dan lokal daerah dengan tujuan meningkatkan produksi tanaman padi, tahan hama, dan tidak mudah rebah,” kata Totti.
Untuk pemuliaan varietas tanaman padi nasional, ditekankan pada kualitas hasil, sedangkan untuk padi lokal penekanannya pada rasa yang tetap disukai oleh masyarakat setempat. Pengembangan varietas padi lokal telah dilakukan PAIR melalui kerja sama dengan berbagai pemerintah daerah seperti Kabupaten Kerinci, Musi Rawas, Klaten, Sijunjung, Solok, Tabanan, Buleleng, dan Landak.
“Hingga saat ini telah didapat berbagai galur mutan harapan di masing-masing daerah. Ada juga varietas yang sudah dilepas yakni varietas Rojolele SriNuk dan Rojolele SriNar dari Klaten, varietas Lampai Sirandah dari Sijunjung. Ada juga yang masih dalam proses evaluasi akhir galur mutan harapan dari kabupaten Musi Rawas dan Tabanan,” tambahnya.
Sesuai dengan renstra Batan, jelas Totti, PAIR juga didorong untuk mengembangkan penelitiannya di bidang pertanian pada tanaman kedalai yang berumur super genja, adaptif pada lahan marginal, dan kedelai hitam. Tak hanya itu, PAIR juga mengembangkan varietas tanaman serealia yaitu sorgum sebagai pengganti pangan, pakan ternak, dan menghasilkan bioetanol, serta tanaman hias yaitu tanaman krisan yang adptif di dataran rendah dan tahan penyakit karat.
Selain bidang pertanian, iptek nuklir juga banyak termanfaatkan di bidang industri, salah satunya adalah uji tak rusak yakni sebuah pengujian terhadap peralatan/fasilitas atau infrastruktur yang bertujuan untuk mengetahui adanya kerusakan tanpa harus menghentikan proses produksi yang sedang berjalan. Pengujian ini dikenal dengan istilah non destructed investigation (NDI).

Menurut Totti, dalam hal pemanfaatan iptek nuklir untuk kegiatan NDI telah banyak dimanfaatkan oleh berbagai industri. “Kegiatan NDI mempunyai banyak cakupan kegiatan, yaitu teknik radiografi, gamma scanning, gamma tomografi dan radiotracer yang telah aplikasikan di berbagai perusahaan, seperti industri kimia, petrokimia, pengolahan logam/automotive/alat berat, perminyakan, energi, tambang emas, penerbangan, dan konstruksi bangunan,” katanya.
Dikatakan Totti, tim NDI Batan saat ini tergabung dalam konsorsium Program Riset Nasional sebagai bentuk kontribusi dalam pembangunan nasional. Kontribusi ini berupa peralatan portable standar industri berupa teknik radiografi, teknik gamma scanning, teknik gamma tomografi dan teknik radiotracer untuk pengujian struktur bangunan tahan gempa tahan api.
“Batan juga akan menyiapkan prototipe struktur bangunan yang dilapisi bahan polimer dan diradiasi untuk menambah kekuatan struktur bangunan dan lebih tahan terhadap lingkungan yang berair,” ungkapnya.
Totti berharap pemanfaatan iptek nuklir khususnya di bidang pertanian dan industri dapat menjadi solusi terhadap permasalahan di tengah masyatakat. Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap iptek nuklir semakin meningkat. “Harapannya, teknologi nuklir dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh para user, terutama untuk bidang pertanian dan industri di Indonesia. Pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia yang dapat membawa negara Indonesia mandiri, berdaya saing didasari dengan jiwa gotong royong,” harap Totti.
Iptek Nuklir Indonesia Terdepan Se Asia Pasifik
Indonesia salah satu negara di Asia Pasifik yang memanfaatkan keungulan teknlogi nuklir dalam situasi damai atau non perang. Akan tetapi jika kita melihat potensi energi nuklir ini sangat besar manfaatnya bagi perkembangan industri energi baru terbarukan (EBT), peningkatan pangan serta pertanian dan juga industri medis dan farmasi. Akan tetapi benefit yang diperoleh dari keungulan teknologi nuklir ini Indonesia sangat tertinggal sangat jauh sekali dengan negara Jepang.
Negara Sakura telah menggunakan keungulan teknologi nuklir dengan tingkat 2 juta diaknilosis RadioFarmaka dalam satu tahun. sementara itu Indonesia baru bisa memanfaatkan sebesar 20 sampai 30.000 per tahun.

Sementara benefit yang dihasilkan dari dunia kedokteran di dunia dari memanfaatkan keungulan teknlogi kedokteran nuklir ini telah menghasilkan pendapatan Rp 50 triliun per tahunnya. Tentunya ini sebuah ketertingalan Indonesia dalam memanfaatkan teknlogi nuklir tersebut.
Sementara itu Indonesia yang merupakan satu-satunya yang memiliki reaktor nuklir di kawasan Asia Pasifik dengan kapasitas 35MW yang berumur 32 tahun. Walaupun reactor yang dimiliki Indonesia sudah berumur tua, akan tetapi kinerja reaktor serta para pelaku yang mumpuni menjalankan dan terus berupaya menghasilkan berbagai kebutuhan produk-produk seperti pangan, pertanian, peternakan serta juga kedokteran dan juga farmaka dan obat-obatan ungulan dengan teknologi nuklir tersebut.
Dalam pemenuhuan kebutuhan kesehatan dan kedokteran, tidak sedikit pula obat-obatan anti kanker yang sangat jitu dihasilkan oleh tenologi nuklitr tersebut, dan juga pemanfaatan nuklir dalam dunia medis, baik itu dalam pengunaan diaknosis. Jjuga dalam tindakan operasi berbagai penyakit kanker, prostat dan ginjal akut sudah dapat ditangani dengan baik oleh teknologi nuklir tersebut.
Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan, Selasa (20/10), dalam kegiatan media visit beberapa mass media nasional dalam rangka hari ulang tahun Batan menyatakan, pihaknya terus meningkatkan pemanfaatkan nuklir. “Batan dan seluruh pemangku kepentingan (stake holder) di negeri ini sedang melakukan berbagai kerjasama dalam pengembangan dan pemanfaatan teknlogi nuklir ini dalam berbagai disiplin ilmu, baik itu kedokteran, kesehatan, pertanian, peternakan dan energi agar keungulan teknologi nuklir ini bisa dimanfaatkan seluas-luasnya oleh seluruh disiplin ilmu dan bidang. Batan juga membangun kerjasama dengan seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan BUMD,” ujar Anhar.
Lanjut Anhar, Batan juga sedang melakukan berbagai revitalisasi, koordinasi serta juga membangun kerjasama dengan berbagai negara. Saat ini telah terbangun kerjasama dengan negara Jepang, Meksiko dan Polandia, tentunya kerjasama antar negara ini akan memberikan benefit dengan saling menguntungkan pada kedua negara pula.
Batan juga sedang melakukan berbagai Inovasi-inovasi dalam hal teknlogi nuklir dalam menjawab berbagai tantangan berbagai dunia industri yang berkaitan dengan pengunaan serta pemanfaatan teknlogi nuklir tersebut. “Harapan kami, pemerintah pusat pun dapat memberikan dukungan penuh dalam pengembangan teknlogi nuklir ini untuk kesejahteraan masyarakat dalam berbagai bidang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Radio Isotop dan Radiofarmaka PTRR, Rohadi Awaludin, menyatakan, opportunity pemanfaatan teknlogi nuklir ini sangat besar, akan tetapi tantangan juga sangat besar pula. “Dalam kajian nuklir dunia, dengan potensi pemanfaatan teknlogi nuklir ini 1,8 dengan 1 orang penduduk, ini merupakan kajian tahun 2018, sementara penduduk Indonesia 250 juta, jadi berapa besar potensi dan opportunity yang akan dihasilkan dari teknlogi nuklir ini”, tutup Rohadi.


