Jakarta, TopBusiness – Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi Sarinah untuk melihat langsung progres pemugaran Gedung Sarinah dalam rangka transformasi bisnis Sarinah tersebut. Dalam kunjungan itu, Erick bersama Fetty Kwartati, Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Agung Budi Waskito, Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) dan Asikin Hasan Kurator Galeri Nasional Indonesia.
Dalam kunjungan itu, Erick melihat langsung gedung dengan predikat cagar budaya yang juga memiliki sebuah karya seni rupa patung relief. Relief ini melambangkan kegiatan ekonomi rakyat jelata yang pada saat itu bertumpu pada hasil pertanian, perkebunan, perikan dan kerajinan.
Dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (18/1/2021), Erick sendiri mengagumi karya ini dan mengatakan, bangsa besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. “Karya seni ini harus direstorasi sedapat-dapatnya kembali seperti sedia kala, dan saat Sarinah kembali dibuka nanti relief ini dapat dipamerkan kepada publik,” pinta Erick.
Relief ini menurut catatan beberapa ahli sejarah, dan seni rupa nasional, dibuat oleh kelompok seniman Yogyakarta pada masa konstruksi (1962-1966) yang menampilkan para penjaja dan pelapak yang melambangkan perjuangan rakyat kecil mencari nafkah. Menurut catatan pencipta tahu pembuatan relief ini adalah kelompok pematung, pelukis dari Yogyakarta.
Fetty menegaskan, proses pemugaran gedung Sarinah ini secara prinsip masih on track dan on schedule walau di tengah-tengah pandemi Covid-19. Pekerjaan renovasi secara progresif dapat dilaksanakan asal dengan prokes yang ketat. Juga karena sektor konstruksi termasuk yang mendapat izin untuk beroperasi secara full scale.
Pembangunan karya seni ini, kata Fetty, dicetuskan oleh Bung Karno, selaku proklamator dan presiden pertama Indonesia. Keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan sudah merupakan semangat para pendiri bangsa ini. “Secara berkala, Sarinah akan melaporkan progres pemugaran dan transformasi bisnis kepada publik,” ujar dia.
Menurut Asikin, salah seorang tokoh dan anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) karya seni ini ukurannya sangat epik serta gigantik. Bahkan pada saat dibuat sudah menggunakan teknologi pengecoran panel tunggal modern.
Demikian pula saat Sarinah dibangun sebagai perwujudan modernisasi yang pada masanya adalah mercu suar kebangkitan ekonomi bangsa yang unggul yang berpihak pada ekonomi rakyat yang istilah saat ini adalah UMKM. “Relief ini juga terus mengingatkan amanah Sarinah untuk membesarkan mereka,” katanya.
Sejarah Sarinah yang pada tahun 1980-an pernah terbakar dan pelebaran koridor pengunjung relief ini dipindahkan dan disimpan di lantai dasar. Berkenaan dengan transformasi dan renovasi Gedung Sarinah, maka relief ini akan direstorasi dan dipamerkan saat pemugaran usai dan Sarinah beroperasi kembali.
FOTO: Rendy MR (TopBusiness)

