Jakarta, TopBusiness – PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) akhirnya resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Perseroan pun sah menjadi emiten anyar ke-6 di tahun ini atau yang ke-719 dari seluruh jumlah emiten di BEI. Widodo Makmur pun menggunakan inisial WMUU sebagai kode sahamnya di pasar modal.
Ternyata, dalam saat perdagangan perdananya itu, saham WMUU langsung diburu investor. Tercatat, dari data BEI, saham ini langsung melonjak hingga 22,22% dari harga penawarannya ke posisi Rp220 per saham. Atau meroket 42 poin setelah ditransaksikan sebanyak 26.709 kali dengan volume 467 juta saham. Dan saat ini, nilai kapitalisasi pasar WMUU di Bursa mencapai Rp2,87 triliun.
Sebelumnya, dalam proses IPO itu, WMU menetapkan harga saham IPO di angka Rp180 per lembar saham. Proporsi investor yang menyerap yakni investor institusi 69,5% dan ritel 30,5%. Seiring dengan market yang didominasi oleh pemain ritel, saat ini diperlukan alokasi ritel yang mencukupi dan juga untuk menjaga likuiditas di pasar sekunder (secondary market).
“Langkah ini (IPO) menjadi pintu gerbang menuju pasar yang lebih dinamis. Kendati kondisi pasar saham masih menantang di tengah pandemi Covid-19,” tegas Direktur Utama WMU, Ali Mas’adi dalam keterangan resmi yang diterima media, di Jakarta, Selasa (2/2/2021).
Saham WMUU pun mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed sebanyak 4 kali selama masa penawaran umum. Hal ini menunjuukan daya tarik saham perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam terintegrasi itu diminati kalangan investor.
Selain itu, WMU juga berupaya menjaga minat investor di pasar sekunder menjadi lebih baik, dengan menurunkan total saham yang dilepas ke publik atau free float dari 35% menjadi 15% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Selanjutnya, disebutkan Ali, emiten yang bergerak di sektor perunggasan (poultry) ini, berencana menerbitkan instrument surat utang atau obligasi korporasi di akhir tahun ini, untuk mendukung upaya perseroan melebarkan sayap bisnisnya.
Dalam aksi korporasi kali ini, WMU pun menggandeng PT CIMB Niaga Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, dan PT Samuel Sekuritas Indonesia yang bertindak sebagai Joint Lead Underwriters (JLU).
Target WMU
Lebih lanjut Ali menegaskan, pada tahun 2021 ini, perseroan mengalokasikan dana investasi sebesar Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,9 triliun. Alokasi penggunaan dana investasi untuk menambah kapasitas produksi ayam broiler sebanyak 6,4 juta broiler melalui dua tahap. IPO bukan satu-satunya aksi korporasi yang dilakukan oleh Widodo Makmur Unggas.
“Ke depannya perseroan akan terus bertumbuh dan sesuai rencana di 2021 dengan menaikkan Rumah Potong Hewan Unggas kapasitas 25.500 ekor per jam,” ujar dia.
Di tengah pandemi Covid-19, kata Ali, WMU tetap optimis dapat melanjutkan torehan kinerja positif. Tercatat, perseroan memproyeksikan penjualan meroket naik 436% dan laba bersih 259% dari tahun lalu. WMU pun fokus pada pengembangan bisnis produksi karkas, apalagi di sepanjang semester I-2020 produksi karkas tumbuh 22% menjadi 16.000 ton.
“Konsumen kita tersebar di seluruh Indonesia dan kebutuhan protein daging ayam nasional terus meningkat. Jadi kita yakin penjualan tahun ini tumbuh tajam,” pungkas Ali Mas’adi.
WMU sendiri berdiri pada tahun 2015 lalu dengan nama PT Pakan Makmur Perkasa (PMP). Perseroan bertransformasi menjadi PT Widodo Makmur Unggas (WMU) pada tahun 2017. Selanjutnya, perseroan memiliki bisnis unggas yang terintegrasi secara vertikal yang mengendalikan pabrik pakan berskala besar, peternakan pembibitan, pabrik pembenihan, peternakan komersial, peternakan layer, rumah potong hewan, dan operasi kemitraan terkait.
FOTO: Istimewa
