Jakarta, TopBusiness – Bloomberg League Table mencatat, sejak awal tahun hingga saat ini ketika pasar terkena pandemic virus corona (Covid-19), pasar modal Indonesia mencatatkan angka tertinggi dalam penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di kawasan Asia Tenggara. Dalam empat bulan ini sebanyak 26 perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah ini unggul jauh dari negara tetangga seperti Singapura (6) dan Malaysia (8).
Meskipun tinggi dalam jumlah IPO, ternyata dalam catatan Bloomberg, relative kecil dari nilai emisinya. Rata-rata dalam setiap penawaran umum itu sebesar US$ 10 juta, atau turun drastis 74% dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar US$ 36 juta.
“Sementara data kami menunjukkan, Indonesia telah melaksanakan IPO terbesar sejauh tahun ini. Namun begitu, perusahaan-perusahaan Indonesia masih lebih suka mencari pendanaan dari pasar modal untuk surat utang. Dalam empat bulan pertama tahun 2020, surat utang sebesar US$ 18,9 miliar seperti obligasi dan sindikasi pinjaman, yang merupakan 98,1% dari total modal yang dikumpulkan,” terang Vatsan Sudersan, APAC Head of Global Data Bloomberg, dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2020).
Menurut laporan itu, total yang digalang melalui equity capital market (ECM) senilai US$272 juta pada Januari 2020-April 2020. Nilai itu turun dibandingkan dengan US$550 juta periode yang sama tahun lalu. Bahkan dengan pencapaian ini, Bloomberg memperkirakan total penggalangan dana bersifat ekuitas terendah dalam 10 tahun terakhir atau sejak 2009.
Selain itu, sebanyak 84% dari obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan Indonesia ternyata dicatatkan di bursa luar Indonesia. Dan pasar Singapura sebagai pilihan utamanya. Dengan volume obligasi (US$ 15,3 miliar) meningkat lebih dari dua kali lipat dari bulan Januari hingga April 2020, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (US$ 7,2 miliar).
“Kami melihat lebih banyak perusahaan Indonesia beralih ke pasar obligasi untuk meningkatkan sebagian modal karena ketatnya likuiditas di antara bank lokal Indonesia, sehubungan dengan negara-negara tetangga di ASEAN. Beberapa bulan ke depan kemungkinan akan terus menjadi tantangan bagi perusahaan Indonesia karenakelesuan ekonomi akibat Covid-19,” imbuh Sudersan.
Foto: Rendy MR
