TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Respon Perilaku Konsumen Selama Pandemi, Unilever: Itu Jadi Peluang Baru

Busthomi
24 March 2021 | 09:02
rubrik: Business Info
Respon Perilaku Konsumen Selama Pandemi, Unilever: Itu Jadi Peluang Baru

Jakarta, TopBusiness – Tak dapat dipungkiri, pandemi Covid-19 memang telah membuat perubahan perilaku konsumen. Salah satunya dengan semakin pedulinya terhadap aspek kesehatan. Hal ini tetap menjadi perhatian utama bagi industri di sektor Consumer Goods, seperti PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Dalam acara Indonesia Data and Economic Forum (IDE) 2021, “Reimagining the Future of Indonesia”, pihak Unilever memprediksi ke depannya, setidaknya ada delapan perubahan perilaku konsumen yang akan terus bertahan bahkan setelah pandemi berakhir.

Menurut Presiden Direktur Unilever Indonesia, Ira Noviarti, saat ini di di tengah perekonomian yang terkontraksi, ditambah dengan pembatasan mobilitas selama setahun ke belakang, telah berdampak besar pada perubahan perilaku konsumen di Indonesia.

“Makanya, kami memprediksi, setidaknya delapan perubahan perilaku konsumen akan terus bertahan bahkan setelah pandemi berakhir. Hal tersebut menunjukkan urgensi dari pelaku industri Fast Moving Consumer Goods (FMCG) seperti Unilever Indonesia untuk terus gesit merespons perubahan perilaku konsumen dan memanfaatkan momentum itu. Bukan hanya membawa tantangan, tetapi juga membuka banyak peluang baru,” tutur Ira di acara itu, Selasa (23/3/2021).

Kehadiran Unilever Indonesia di IDE 2021, kata dia, merupakan salah satu bentuk semangat perseroan untuk terus menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak guna menyongsong era pemulihan pasca pandemi.

Ditambah lagi, fakta menyebutkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan menyumbang sebanyak 57,6% dari Produk Domestik Bruto.

“Dengan skala yang kami miliki, kami siap untuk terus memainkan peran kami dalam mendorong konsumsi masyarakat menuju kebangkitan perekonomian nasional,” sambung Ira.

Delapan perubahan perilaku konsumen itu adalah, pertama, gaya hidup bersih dan sehat. Kedua, semua aspek keseharian menjadi lebih fluid agar tetap produktif di dalam rumah. Ketiga, in home romance atau in home experience menjadi semakin penting. Keempat, komunitas yang lebih kuat.

BACA JUGA:   Hilirisasi Silika Jadi Pondasi Pertumbuhan PDB 8%

Lalu, kelima, fenomena Reverse Maslow (kebutuhan psikologis dan rasa aman termasuk lingkungan yang sehat dan keamanan finansial meninggi). Keenam, konsumen semakin teliti akan konsumsi dan pembelian yang mereka lakukan. Ketujuh, gaya hidup serba digital. Dan kedelapan, lahirnya smart opportunist.

Hal ini selaras dengan hasil survei terbaru dari Katadata Insight Center mengenai Perilaku Keuangan Konsumen Selama Pandemi COVID-19. Mulya Amri selaku Direktur Riset Katadata Insight Center menjelaskan, di dalam survei yang melibatkan 2.491 responden di 34 provinsi ini, terlihat bahwa 76,6% responden merasa khawatir terhadap kondisi keuangan mereka, sehingga lebih berhati-hati dalam menentukan alokasi pengeluaran.

Terungkap bahwa prioritas pengeluaran konsumen kini didominasi oleh barang kebutuhan sehari-hari (95,5%), biaya kesehatan (81,7%), dan untuk pendidikan (74,7%). Sementara barang elektronik (6,1%), kendaraan (4,1%), dan wisata, hiburan atau hobi (3,6%) menempati prioritas terbawah.

Yuswohady, pakar pemasaran dari Inventure Consulting menanggapi, di tengah pandemi ini pergeseran perilaku konsumen adalah sebuah keniscayaan. COVID-19 telah memaksa terjadinya apa yang ia sebut sebagai Consumer Megashifts 10×10, dimana perubahan perilaku konsumen menjadi 10x lebih besar dan dengan laju 10x lebih cepat.

“Dengan demikian, setiap perusahaan, termasuk FMCG, menghadapi a whole new world dengan adanya gaya hidup, preferensi, prioritas, dan pola pengambilan keputusan pembelian konsumen yang sama sekali baru. Dan akhirnya melahirkan pola baru pula dalam memasarkan produk-produknya,” ujar Yuswohady. 

Inovasi Unilever

Ira kembali menegaskan, Unilever sendiri melihat inovasi adalah bagian penting dari DNA perusahaan. Sehingga hal ini sejalan dengan bisnis perseroan yang berlandaskan pada tujuan mulia (purpose-led), serta relevan dan mampu bertahan di masa depan (future-fit). Misalnya dalam transformasi digital, hal ini telah diterapkan ke seluruh rantai nilai Perusahaan jauh sebelum pandemi berlangsung.

BACA JUGA:   Restrukturisasi Kredit Perbankan Melandai, OJK: Per Juli 2022 Capai Rp560,41 Triliun

“Kami melipatgandakan kegesitan dalam berinovasi sejak awal pandemi,” tambah Ira. “Di tahun 2020 setidaknya kami melahirkan 40 inovasi produk untuk menjawab kebutuhan pelanggan dan konsumen kami yang terus berubah, terutama dalam hal permintaan dan pola belanja.”

Unilever Indonesia melihat dan menjawab peningkatan permintaan yang signifikan untuk produk-produk yang terkait dengan kebersihan dan kesehatan. Untuk mengantisipasi melemahnya daya beli konsumen, Unilever Indonesia meluncurkan produk-produk dalam ukuran kemasan dan harga yang lebih ekonomis.

Dalam mengantisipasi perubahan pola belanja yang kini serba online, Unilever Indonesia telah melahirkan banyak inovasi di bidang digital seperti: Unilever Home Delivery, eksistensi yang semakin kuat di jalur e-commerce, layanan untuk menjawab kebutuhan konsumen di tingkat profesional melalui Unilever Professional, dan peluncuran aplikasi Sahabat Warung untuk membantu para mitra pedagang warung agar tetap sehat selamat dan dapat tetap berjualan.

“Kami percaya, keberlanjutan bisnis harus sejalan dengan manfaat yang kami bawa untuk masyarakat dan lingkungan. Dan alhamdulillah kami dapat menyalurkan bantuan senilai lebih dari Rp200 miliar secara bertahap sejak awal pandemi, baik secara independen maupun melalui kolaborasi dengan berbagai mitra di seluruh Indonesia,” pungkas Ira.

FOTO: Istimewa

Tags: Konsumenpandemi Covid-19Unilever Indonesia
Previous Post

PermataBank dan Astra Life Luncurkan AVA iFamily Protection di PermataMobile X

Next Post

Koreksi IHSG Terus Berlanjut, Saham ASII Hingga WEGE Jadi Pilihan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR