Jakarta, TopBusiness – Perumda PDAM Tirtamarta Yogyakarta mencatat nilai penjualan atau pendapatan yang cukup baik di akhir tahun buku 2020, yakni naik dari Rp 46,558 miliar di 2019 menjadi Rp 57,422 miliar.
Menurut Majiya, sebagai direktur utama, dalam sesi tanya-jawab dan pendalaman materi presentasi berjudul ‘Strategi Pelayanan Perumda PDAM Tirtamarta Kota Yogyakarta’, di Jakarta, secara virtual melalui aplikasi zoom meeting online, Selasa (04/05/2021), bahwa telah terjadi kenaikkan peningkatan realisasi pendapatan akibat penyesuaian tarif.
“Sedangkan untuk keuangan, ada kenaikkan yang signifikan. Kami per 1 Januari 2020 ada kenaikkan tarif dari tarif dasar Rp 2.500 menjadi Rp 3.420 per meter kubik,” kata dia dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2021.
Selain itu, perumda melakukan reklafisikasi terhadap tarif yang ada, dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat atau pelanggan. Perumda melakukan reklafisikasi tarif yakni dengan memperhatikan potensi pelanggan tersebut yang dulu, misalnya, 2B dinaikkan, karena untuk usaha bisa 3A1.
Perumda pun mencatatkan angka jumlah pelanggan dari 32.307 di tahun 2019 menjadi 32.363. “Sedangkan untuk laba sendiri dari 2019-2020 ada kenaikkan sekitar 9 persen,” tuturnya.
Majiya menambahkan bahwa pihaknya telah mendapatkan penyertaan modal Pemerintah Kota Yogyakarta sebesar Rp 73 miliar. Namun begitu, diakui dirinya belum dapat terlihat hasilnya dalam waktu dekat ini.
“Dari investasi yang kami lakukan secara otomatis tidak bisa menaikkan performa karena untuk pembangunan fisik. Lain, kalau di perbankan langsung muncul uang sekian, tapi kalau di PDAM karena untuk penggantian infrastruktur dan itu dirasakan oleh masyarakat, sehingga untuk melihat hasil investasi itu baru muncul 2-3 tahun ke depan akan lebih signifikan,” paparnya.
Investasi tak bisa terlihat dalam horizon pendek, tapi perlu waktu dan proses. Bagi PDAM tak bisa disamaratakan dengan industri lain, terkhusus, perbankan. “Namun demikian, sebagaimana yang saya sampaikan di awal apabila ada di perbankan ada penyertaan modal akan bisa berkembang berlipat-lipat. Namun di PDAM, untuk penyertaan modal tidak begitu cantik, lebih cantik yang di BPR atau perbankan,” jelas Majiya.
Ditambahkan dia, investasi diperuntukkan untuk penggantian infrastruktur berupa pipa yang sudah haus akibat termakan usia.
“Nah sedangkan untuk pipa-pipa tua untuk penggantian ini. Bahwa yang perlu kita sadari bahwa PDAM itu merupakan pelayanan publik. Dengan pelayanan publik tersebut, maka investasi ini bagaimana masyarakat itu atas layanan PDAM ini akan semakin baik dan puas. Nah nanti akan bisa kita lihat bagaimana kembalinya investasi tersebut,” pungkas dia.
Perumda PDAM Tirtamerta Kota Yogyakarta memiliki cakupan layanan secara teknis mencapai 36 persen dan administrasi 44 persen. Sementara, tingkat NRW 29,98.
Kualitas air minum sesuai dengan Permenkes 492 Tahun 2010, dengan rata-rata jam layanan/hari sebanyak 24 jam.
Nilai kinerja 64,26 di tahun 2020, atau naik 62,07 (2019) berdasarkan hasil Kinerja Kepmendagri 47/1999.
