Jakarta, TopBusiness – Kiprah Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Bank Perkreditan Rakyat Magelang atau Bank Magelang sepanjang tahun 2020 lalu patut diacungi jempol. Kendati di masa sulit di tengah pandemi Covid-19, namun BPR yang sahamnya 100% milik Pemerintah Kota Magelang, Jawa Tengah itu tetap berkontribusi besar kepada masyaraka Magelang.
Baik dari sisi setoran dividen berupa Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Pemda, membantu pemenuhan kebutuhan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), hingga menyediakan kredit murah untuk membantu masyarakat bebas dari jeratan rentenir, dan banyak lagi. Tak pelak, sederet aksi nyata tersebut membuat Bank Magelang ini menjadi kebanggaan masyarakat di kota yang berada di kaki Gunung Merapi itu.
“Selain mengejar bisnis agar terus bertumbuh, perusahaan juga tetap berupaya untuk melalukan layanan publik atau sosial sebagai BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) di bawah Pemkot Magelang. Dengan proporsi usaha yakni 75 persen untuk mengincar laba dan 25 persen tetap memberikan layanan publik atau sosial kepada masyarakat Magelang,” tutur Direktur Utama Bank Magelang, Hery Nurjianto, saat sesi wawancara penjurian TOP BUMD Awards 2021 secara virtual melalu aplikasi zoom, Senin (31/5/2021).
Bank Magelang sendiri menjadi salah satu finalis yang terpilih mengikuti proses penjurian TOP BUMD Awards 2021 dari ribuan BUMD yang ada di Indonesia. TOP BUMD Awards 2021 ini digelar oleh Majalah TopBusiness dengan menggandeng beberapa asosiasi dan institusi yang kompeten di bidangnya.
Di depan Dewan Juri, Hery menegaskan, sepanjang tahun lalu, beberapa kontribusi besar Bank Magelang sebagai BUMD adalah sebagai berikut:
Pertama, menyetorkan dividen sebesar 55 persen dari laba yang diperoleh;
Kedua, penyaluran aksi Corporate Social Responsibility (CSR) yang selaras dengan program Pemerintah Daerah Kota Magelang;
Ketiga, bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Dinas Perkim) Kota Magelang dalam membantu kalangan MBR, yakni berupa: (1) kerja sama dengan Dinas Perkim Kota Magelang dalam pelatihan dan pembuatan sanitasi sehat, (2) pengelolaan keuangan warga Rumah Susun Guna Sewa (Rusunawa), (3) kerja sama dengan Dinas Perkim Kota Magelang dalam pengadaaan rumah murah, (4) kerja sama dengan PDAM Kota Magelang dalam pengadaan sambungan air bersih.
Keempat, penyaluran kredit murah untuk memberantas rentenir, yakni dengan produk Kredit Pro-Master, Kredit PKL, dan Kredit Mikro-Pertiwi.

Soal kredit Pro-Master, dijelaskan Hery, merupakan kredit produktif untuk mewujudkan Magelang Sejahtera (Master). Kredit yang dikucurkan ke masyarakat diperuntukkan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang produktif dengan plafon hingga Rp20 juta dan disertai agunan. Namun begitu, kredit ini juga bisa tanpa agunan dengan nominal sebesar Rp5 juta.
“Tujuan kredit ini bagi pelaku UMKM yang baru tumbuh bisa kuat permodalannya dan kuat untuk bersaing. Sehingga ke depannya, jika usahanya berkembang dan membutuhkan pembiayaan yang lebih besar, bisa mengajukan kredit seperti umumnya, dengan nominal yang lebih besar,” terang dia.
“Jadi tiga produk kredit ini (Pro Master, PKL, dan Kredit Mikro-Pertiwi), efektif untuk menekan praktik-praktik rentenir, terutama di wilayah Magelang,” sambung Hery. Pihaknya pun terus melayani pengajuan kredit dari semua sektor di daerah tersebut, termasuk sektor jasa dan pariwisata yang selama pandemi ini sangat terdampak dan mengalami penurunan kinerja.
Namun begitu, dia juga mengakui, bahwa selama pandemi ini pihaknya sangat selektif dan prudent untuk menjaga agar laju rasio kredit macet (non performing loan/NPL) tak membengkak.
“Maka dari itu, untuk sektor yang sekiranya sangat rawan di pandemi ini, kami perketat lagi pengajuannya. Tapi bukannya dihindari. Sebagai contoh, kami beri nilai kemampuan perusahaan yang tadinya 1.000, biasanya dinilai kemampuannya menjad 500. Nah, sekarang kami perketat lagi, yang tadinya 1.000 seolah-olah kemampuannya cuma 200. Ini betul-betul untuk menjaga aset perusahaan,” beberanya.
Kontribusi lainnya dari Bank Magelang ini yang cukup membanggakan adalah turut membantu masyarakat dalam kepemilikan rumah. Hal ini tercipta dari adanya produk ‘Tabungan Bung Sunarya’ atau Menabung Khusus untuk Perencanaan Griya. Dengan menggandeng Dinas Perkim Kota Magelang itu, sang nasabah bisa membeli tanah dari tabungannya dengan lokasi berdasar informasi dari Dinas tersebut.
“Dan untuk pembangunannya (rumah) pihak Pemkot bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi. Ini semacam rumah subsidi, tapi nilainya lebih murah dari rumah subsidi. Misal dengan tanah seluas 60 m2 dan bangunan 20-30 m2, senilai hanya Rp45 juta. Dan bunganya juga kompetitif sekitar 11%,” dia menjelaskan.
Kinerja Positif
Kiprah dan kontribusi Bank Magelang yang luar biasa itu sejauh ini memang tak lepas dari kinerja produktif sepanjang tahun lalu, kendati di tengah pandemi. Tercatat, perusahaan daerah ini masih bisa membukukan laba bersih yang cukup besar, kendati mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Namun begitu, untuk rasio-rasio keuangan lainnya tetap membukukan pertumbuhan yang membanggakan.
Untuk laba tercatat sebesar Rp2,02 miliar yang diraih 2020 lalu, memang cukup menurun dibanding 2019 yang mencapai Rp3,35 miliar. Kendati begitu, secara target memang sudah terlampaui 117,91%, sebab BPR satu ini semula menargetkan di angka Rp1,71 miliar untuk laba di tahun 2020 itu.
Namun untuk asset, lanjut Hery, BUMD satu ini dapat memupuknya menjadi lebih gemuk. Dari Rp201,43 miliar di 2019 menjadi Rp209,00 miliar di 2020 (year on year/yoy). Juga secara target melambung 109,61% dari target 2020 senilai Rp190,66 miliar.
Lalu untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) terkumpul Rp164,62 miliar atau dari sebelumnya Rp163,59 miliar (yoy). Bahkan melonjak 129,89% secara target yang sebesar Rp126,73 miliar. Lalu untuk kredit yang disalurkan sebesar Rp161,37 miliar atau turun tipis dari Rp162,16 miliar (yoy). Dan secara target terkerek 106,31% dari angka yang ditarget sebesar Rp151,79 miliar.
Untuk rasio-rasio keuangan lain, posisi rasio kecukupan modal (CAR/capital adequacy ratio) menaik jadi 33,46% dari sebelumnya 25,57% (yoy) atau jauh dari batas yang dipersyaratkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yakni >= 12% untuk kategori sehat. Lalu, Kualitas Aset Produktif (KAP) sebesar 1,58% dari 4,21% (yoy) dan batas OJK <= 10,35%.
Selanjutnya, return on asset (RoA) di angka 1,29% dari sebelumnya 2,30% (yoy) atau batas regulator di >= 1,215%. Untuk Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) di angka 88,88% dari 81,87% (yoy) dan strandar OJK <= 93,52%. Lalu cash ratio di level 11,95% dari 16,8% (yoy) dengan standar OJK di level >= 4,05%.
Selanjutnya, Loan to Deposit Ratio (LDR) di posisi 80,15% dari sebelumnya 86,00% (yoy) atau batas regulator <= 94,75%. Dan terakhir rasio NPL (net) di angka 1,82% jauh lebih kecil dari sebelumnya di 4,7% (yoy), sementara standar OJK <= 5%.
Untuk menjaga NPL ini, Bank Magelang juga melaksanakan program restrukturisasi kredit kepada nasabahnya. Kata dia, ini merupakan kebijakan win-win solution antara kreditur dan debitur. Caranya, bisa dengan penuruan suku bunga, jangka waktu angsuran ditambah, mengurangi tunggakan, dan juga diberi grace period jadi mebayar bunga saja dengan pokoknya yang bisa ditunda.
Grace period sendiri merupakan masa tenggang yang memungkinkan peminjam untuk membayar sebagian pokok utang dengan bunga pinjaman atau bunga pinjaman saja hingga jangka waktu grace period itu berakhir.
“Dengan restukturisasi dan relaksasi kredit sesuai POJK 11 ini sangat membantu. Sehingga kami sebagai bank bisa beroperasi dengan baik dan debitur juga bisa mengangsur dengan baik. Dengan cara tersebut, NPL kami masih bisa terjaga,” pungkas Hery.
FOTO: TopBusiness
