Jakarta, TopBusiness – Kinerja ekspor sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) menjadi primadona di tengah situasi yang tidak menentu akibat pandemi covid-19. Pada kuartal I-2021, nilai ekspor sektor ILMATE menembus angka US$12,4 miliar, naik sebesar 27 persen dibandingkan nilai pengapalan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 9,7 miliar.
Selain itu, nilai investasi sektor ILMATE juga terus menunjukkan tren positif, dengan nilai penanaman modal periode kuartal I-2021 sebesar Rp 40,361 triliun. Kontribusi ini diharapkan mampu mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi nasional
“Industri logam masih menjadi kontributor terbesar, baik dalam nilai ekspor dan nilai investasi, dengan nilai ekspor US$ 5,6 miliar dan nilai investasi sebesar Rp 27,68 triliun,” kata Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Taufik Bawazier dalam keterangannya seperti dikutip, Jumat (11/6/2021).
Kementerian Perindustrian memacu sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) agar dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi perekonomian nasional. Berbagai program dan kebijakan telah dijalankan guna mendongkrak performa sektor strategis tersebut.
Untuk semakin menggairah usaha para pelaku industri di Tanah Air, Kemenperin mengeluarkan jurus substitusi impor 35 persen pada 2022. Langkah ini dijalankan secara simultan dengan peningkatan utilisasi produksi, mendorong pendalaman struktur industri, dan peningkatan investasi.
“Sektor ILMATE sendiri memiliki target untuk menurunkan impor sebesar Rp37,28 triliun hingga 2022, dari total 106 nomor HS (komoditi), mulai dari logam, kendaraan bermotor, sepeda, peralatan elektronik maupun alat kesehatan,” kata Taufik.
Pada 2020, penurunan impor di sektor ILMATE mencapai Rp 21,01 triliun. Adapun beberapa langkah strategis yang sedang diupayakan oleh Kemenperin untuk memacu substitusi impor tersebut, antara lain terkait Minimum Import Price (MIP), kuota impor maupun perizinan impor. Kemudian, penerapan Pre-Shipment Inspection pada produk impor, serta pengaturan entry point pelabuhan untuk komoditi tertentu, dan diarahkan ke Pelabuhan di luar Jawa.
Berikutnya, melakukan pembenahan LSPro, mengembalikan kebijakan post border ke kebijakan border dan melakukan rasionalisasi Pusat Logistik Berikat, menaikkan tarif MFN bagi komoditi yang tinggi nilai impornya dan telah ada industrinya di dalam negeri, serta menaikkan implementasi Trade Remedies.
“Selain itu, perlu dilakukan juga penerapan kebijakan P3DN secara tegas; pemberlakuan SNI Wajib dan Technical Barrier to Trade (TBT), serta pengenaan bea keluar untuk beberapa komoditi primer dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku di dalam negeri,” tutur Taufik.
Taufiek optimistis, berbagai langkah strategis tersebut dapat menekan dan menurunkan nilai impor industri manufaktur, termasuk sektor ILMATE. Bahkan, mampu mendorong penguatan daya saing dan kemandirian sektor industri nasional.
“Kami yakin, dengan terus melakukan berbagai upaya strategis dan kerja sama yang dibangun dengan berbagai pihak, target penurunan impor 35 persen hingga 2022 dapat tercapai,” ujar dia.
