Jakarta, TopBusiness—Produk investasi Exchange Traded Fund (ETF) masih tergolong asing bagi sebagian investor pasar modal Indonesia. Padahal, ETF ini cocok untuk alternatif investasi bagi investor pemula (newbie) angkatannya corona-nya karena sejumlah keunggulan yang dimilikinya.
Tak mengherankan, di negara tetangga seperti Jepang, ETF tumbuh subur karena sangat diminati investor pemula. Pengakuan ini diungkapkan Head of ETF Secondary Trading di Tokyo Stock Exchange (TSE), Kei Okazaki di gelaran ETFest 2021 di hari kedua yang diselenggarakan PT Indo Premier Sekuritas (12/6/2021).
Diketahui, ETFest 2021 merupakan kegiatan edukasi pasar modal berkonsep online festival selama 3 hari 11-13 Juni 2021 yang diinisiasi oleh PT Indo Premier Sekuritas dengan tujuan mengenalkan produk ETF yang memiliki karakter Efisien, Transparan dan Fleksibel sebagai alternatif investasi bagi investor pemula.
Kei Okazaki menjelaskan ETF yang diperkenalkan di Amerika pada 1993 untuk pertama kalinya diluncurkan di Jepang pada 1995 melalui Nikkei 300 Stock Index. Hingga hari ini sudah tercatat ada 12 market maker yang menyediakan likuiditas ke 155 produk ETF di Bursa Efek Jepang dengan total asset under management (AUM) per Februari 2021 mencapai US$580 miliar.
Pertumbuhan ETF yang signifikan di Jepang ini diakuinya disokong tiga keunggulan ETF, yakni harganya yang sangat terjangkau dibandingkan dengan produk investasi lainnya, bisa berinvestasi di berbagai aset dengan mudah karena cara memperdagangkannya seperti saham dan formulasi ETF yang terdiversifikasi bisa digunakan untuk investasi jangka pendek dan jangka panjang.
Kendati demikian, ia mengakui ada banyak tantangan saat Bursa Efek Jepang mulai memasarkan ETF untuk pertama kali. Berbagai insentif mulai pajak dan kemudahan akses diberikan untuk memikat investor. Bahkan, untuk menggenjot kesadaran investor akan ETF, Tokyo Stock Exchange (TSE) membangun website khusus yang menginformasikan produk ETF setransparan mungkin.
Tak berbeda jauh dengan Jepang, ETF di Indonesia pun mulai menunjukkan pertumbuhannya sejak diperkenalkan pertama kalinya pada 2007 atas inisiatif PT Indo Premier Sekuritas. ETF yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia mengacu kepada Indeks LQ-45, yakni R-LQ45X.
Saat ini sekuritas karya anak bangsa dengan slogan #SemuaBisaInvestasi ini telah mengelola 26 dari 48 ETF yang ada di BEI dengan AUM sebesar Rp7,6 triliun dari total AUM ETF di Indonesia sebesar Rp13 triliun berdasarkan data KSEI per Mei 2021.
ETF sebagai produk investasi reksa dana yang diperdagangkan di bursa dengan salah satu keunggulan utama settlement T+2, ini jelas jauh lebih cepat dari durasi subscription atau redemption reksa dana konvensional. Tak mengherankan, reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa ini diminati investor pemula angkatan corona, seperti stand up comedian, Yudha Keling dan Fico Fachriza yang open mic ngebanyol tentang investasi pada akhir ETFest 2021, Minggu, 13 Juni 2021.
Sementara itu, penulis, komedian, sutradara dan aktor, Raditya Dika yang hadir di akhir ETFest 2021 ini mengakui ETF cocok untuk alternatif investasi sandwich generation seperti dirinya yang memang perlu memikirkan dana pensiun sejak dini.
