Jakarta, TopBusiness – Perusahaan Umum Daerah atau Perumda Pergudangan dan Aneka Usaha ‘Pedaringan’ Kota Surakarta (Perumda PAU Pedaringan) mengembangkan sistem resi gudang (SRG) dalam rangka menghindari penurunan harga komoditas saat panen raya.
Direktur Utama Perumda PAU Pedaringan, Chriswanto Tri Santoso, mengatakan bahwa pihaknya mendorong agar para petani memanfaatkan gudang yang dimiliki Perumda.
Dengan pemanfaatan gudang Perumda PAU Pedaringan, maka para petani tak menjual produk pertaniannya dengan harga murah sebab berbarengan dengan panen raya, yang menciptakan suplai barang banyak sehingga harga yang terbentuk rendah.
Perumda PAU Pedaringan berusaha untuk menstabilkan harga komoditas pertanian. Ini dilakukan untuk keberlangsungan masa tanam di musim berikutnya dan kebutuhan hidup petani itu sendiri.
“Dan kita juga sudah daftarkan gudang, registrasinya adalah gudang F dan G, Gudang SRG. Jadi kita punya gudang yang khusus untuk SRG. Jadi itu fungsinya adalah bila panen raya padi, di Solo Raya ini panen raya itu ada harga murah. Jadi itu bisa disimpan di kami, di gudang kami. Dan kita kasih harga standar,” kata Chriswanto Tri Santoso, dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2021, yang berlangsung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting online, di Jakarta, Jumat (25/06/2021).
Lanjut dirinya menyatakan bahwa perusahaan akan menjual hasil pertanian saat harga sudah stabil. “Jadi harga gabahnya harga standar yang akan di simpan di gudang kami, dan nanti setelah harganya sudah naik baru itu akan dilepas. Jadi nanti akan dibantu pembiayaannya dari kami, tapi bekerjasama dengan bank. Nanti kita bantu, pembiayaan bagi petani,” ungkap dia.
Dengan sistem resi gudang menyebabkan para petani tak terburu-buru menjual harga gabah dan bisa menyimpan hasil panen di gudang SRG.
Sebagaimana diketahui, gabah kering panen dihargai sangat murah pada saat panen raya. Dengan penyimpanan di gudang SRG, petani bisa menjual hasil panennya saat harga sudah normal.
Selama hasil panen mereka disimpan di gudang SRG, para petani akan mendapat resi. Dengan resi itu, petani bisa menjaminkan ke bank yang dipilih untuk mendapatkan pinjaman sebagai modal usaha untuk biaya tanam.
Diakuinya, perusahaan menampung sedikitnya 18 jenis produk komoditas pertanian. Dan kesemuanya itu sudah masuk dalam sistem resi gudang.
Perusahaan memberikan peluang bagi petani untuk menempatkan hasil panennya, sebab mempunyai infrastruktur yang memadai dengan didukung oleh alat-alat pengolahan.
“Jadi seperti yang saya sampaikan tadi. Kita punya sistem resi gudang, RSG namanya. Di situ untuk 18 macam produk pertanian. Ada 18 yang bisa di-SRG-kan. Ini untuk pengelolaanya untuk di Solo Raya, karena Solo ini adalah banyak padi. Untuk menyimpan barang-barang seperti itu dari petani, tak mungkin ada. Misalnya, pengeringannya. Petani itu kan begitu panen butuh uang,” ungkap dia.
Dengan begitu, petani mendapatkan harga yang pantas, dan dapat segera mendapatkan dana untuk memenuhi keluarga dan kebutuhan hidup sehari-hari. Jika, petani harus menjual dengan harga rendah, sebab banyaknya hasil panen akan merugikan mereka.
Petani dapat masuk ke gudang Perumda PAU Pedaringan, setelah hasil panennya didaftarkan oleh ketua kelompok tani dan masuk dalam jaringan atau link. Setelah itu, perusahaan akan membuka data pendaftaran komoditas dan mengeluarkan resi gudang sebagai bentuk bukti kepemilikan petani tadi.
