Jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan terus meningkat. Berdasarkan “2014 Revision of World Urbanization Prospects” yang dirilis oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan meningkat pesat dari 746 juta di tahun 1950 menjadi 3,9 miliar di tahun 2014.
Secara persentase, saat ini 54 persen penduduk tinggal di perkotaan dan akan meningkat menjadi 66 persen di tahun 2050.
Di wilayah Asia, jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan saat ini mencapai 48 persen. Namun, PBB memperkirakan jumlah penduduk Asia yang tinggal di perkotaan akan meningkat menjadi 64 persen di tahun 2050. Asia dan Afrika akan mencatat kenaikan penduduk perkotaan terbesar jika dibandingkan wilayah-wilayah lain di dunia.
Dengan pertambahan penduduk perkotaan yang terus meningkat itu, maka dibutuhkan sebuah pengelolaan kota berkelanjutan. Dalam rangka mewujudkan kota yang layak huni dan berkelanjutan secara inklusif, tak satupun tertinggal dimana para pemangku kepentingan harus dilibatkan.
Kelompok pemuda merupakan pemangku kepentingan yang sangat berpengaruh dalam menentukan arah perkotaan di masa depan, karena merekalah calon pemimpin kota –kota mendatang.
Dalam membahas Agenda Baru Perkotaan di tahun 2015, kaum muda akan dilibatkan melalui penyelenggaraan Asia Pacific Urban Youth Assemby (APUFY) pada 17-18 Oktober 2015.
“APUFY akan menjadi pertemuan pemuda di Asia Pacific yang Peduli terhadap isu perkotaan dan permukiman. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai sarana pemuda untuk menyuarakan isu-isu perkotaan dan solusinya. Keterlibatan kaum muda saat ini adalah investasi ke depan ketika pembangunan berkelanjutan dan inklusif,” ujar Direktur Keterpaduan Infrastruktur Permukiman, Direktorat Cipta Karya Kementerian PUPR Dwityo A Soeranto di Jakarta.
APUFY merupakan salah satu rangkaian yang mendahului Asia Pacific Regional Meeting (APRM) for Habitat III pada 21-22 Oktober. APRM akan didahului oleh APUFY dan Asia Pacific Urban Forum 6 (APUF 6) yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 19-21 Oktober 2015.
APUFY adalah perkumpulan pertama dari organisasi dan kelompok kaum muda yang berbeda untuk melakukan diskusi seputar agenda perkotaan di tingkat regional. APUFY menawarkan langkah-langkah menuju penguatan kerjasama konstruktif dengan kaum muda sebagai pemangku kepentingan dari isu-isu yang dihadapi perkotaan di kawasan Asia Pasifik.
“Kaum muda harus ikut berpartisipasi untuk meningkatkan tata kelola perkotaan yang inklusif, memastikan perlindungan bagi lingkungan perkotaan, dan memimpin dengan menggunakan pendekatan yang inovatif dan kewirausahaan dalam implementasinya. Forum ini juga menjadi sarana untuk mendorong peran pemuda dalam pembangunan perkotaan dan permukiman, baik di tingkat regional maupun global,” jelas Dwityo A Soeranto.
APUFY akan menjadi model baru partisipasi pemuda untuk agenda perkotaan di kawasan Asia Pasifik. Hal ini didasarkan pada keberhasilan Urban Youth Assembly (Sidang Perkotaan Pemuda dunia) yang selalu diadakan sejak World Urban Forum (WUF) sejak tahun 2004.
“Sebagai pertemuan pertama kelompok dan organisasi kepemudaan untuk mendiskusikan agenda perkotaan di tingkat regional, APUFY menawarkan langkah menuju penguatan kerjasama yang konstruktif dengan kaum muda sebagai pemangku kepentingan dari isu-isu yang dihadapi perkotaan di Asia Pasifik,” pungkasnya. (***/Teguh)
