Jakarta-Thebusinessnews. beberapa perbankan nasional mulai merasakan dampak pelemahan ekonomi. salah satunya, PT BPD Jawa Timur Tbk menyebutkan hal itu telah memicu peningkatan ekses likuiditas perbankan di tengah penurunan penyaluran kredit.
Justru dalam kondisi perlambatan ekonimi, perbankan mengalami kebanjiran dana.”Bank Jatim juga menerima dana berlebih, karena banyak orang mencari aman,” kata Direktur Bisnis Menengah dan Korporasi Bank Jatim, Su’udi di Jakarta, Selasa,20 Oktober 2015.
Menurut dia, ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi rupiah dalam tren depresiasi telah mendorong pemilik dana untuk mencari tempat aman di deposito perbankan. “Secara umum, selama ini orang mengganggap bank sebagai tempat yang aman,” tuturnya.
Su’udi memperkirakan, berlimpahnya dana yang masuk ke perbankan disebabkan oleh sikap para investor yang mengurangi portofolio di saham untuk dialihkan ke deposito. Selain itu, lanjut dia, juga dipengaruhi oleh keputusan perusahaan untuk menunda ekspansi dan memilih menempatkan dana di bank.
Dia mengungkapkan, kelebihan likuiditas perbankan menjadi tantangan tersendiri bagi bank menempatkan dana-dana tersebut. “Di tengah ekonomi yang sulit ini, kami juga harus ekstra hati-hati menyalurkan kredit. Kami berusaha mencari yang tidak berisiko terhadap NPL Bank Jatim,” tuturnya.
Su’udi mengungkapkan, per September 2015 penempatan dana Bank Jatim di Bank Indonesia (BI) dan lain-lain mencapai Rp15,16 triliun atau meningkat 30,57 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2014.
“Kami memang harus hati-hati menjalankan bank di tengah gejolak ekonomi. Tetapi, pada gejolak di 2015 ini berbeda dengan 1998, karena saat ini ada fenomena bank yang kebanjiran dana. Meski meningkatkan beban bunga, tetapi kondisi ini jauh lebih baik,” papar Su’udi.
Dia menambahkan, hingga September 2015 tingkat NPL gross Bank Jatim mencapai 4,22 persen dan diharapkan bisa menurun menjadi 3,69 persen di akhir tahun ini. Penyaluran kredit Bank Jatim hingga September 2015 senilai Rp29,23 triliun, sedangkan perolehan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp43,75 triliun.
“Laba bersih kami pada periode September 2015 ini memang mengalami penurunan, yakni hanya sebesar Rp696,49 miliar. Tetapi, kami yakin dalam tiga bulan ke depan akan sesuai dengan Rencana Bisnis Bank, karena kredit sudah mulai membaik, terutama ada kredit sindikasi,” tuturnya. (az)