Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG hingga sesi penutupan perdagangan Kamis (12/8/2021), di Bursa Efek Indonesia diproyeksikan flat.
Dalam riset harian dari Samuel Sekuritas Indonesia melalui website samuel.co.id, di Jakarta, hari ini, menyatakan, IHSG tetap flat karena kurang sentimen.
Bursa AS ditutup bervariasi tadi malam. DJIA naik 0,62% menjadi 35.484, diikuti S&P 500 (0,25%), sementara NASDAQ turun 0,16%. Inflasi AS naik 5,4% yoy pada Juli 2021, sama seperti bulan sebelumnya (5,4% yoy) dan sedikit lebih tinggi dari konsensus (5,3% yoy).
“Kami yakin pelaku pasar akan memilih untuk menunggu data ketenagakerjaan AS yang rencananya akan dirilis pada Kamis waktu setempat,” dalam riset tersebut.
EIDO ditutup naik 0,69%, sedangkan IHSG turun 0,64% pada Selasa (8/10) menjadi 6.088, dengan EMTK, BUKA, dan BRIS sebagai top lagging mover. Net buy asing di pasar reguler tercatat sebesar Rp 4,2 miliar. Aliran keluar asing terbesar dicatat BUKA (Rp 141,6 miliar), BBRI (Rp 108,2 miliar), dan ANTM (Rp 40,4 miliar), sedangkan aliran masuk asing terbesar dicatat ASII (Rp 76,2 miliar), BBCA (Rp 53,1 miliar), dan KLBF (Rp 31,9 miliar).
Sebanyak 30.625 kasus baru COVID-19 dilaporkan di Indonesia Selasa: 32.081, dengan 39.931 pasien sembuh (Selasa: 41.486) dan 1.579 meninggal (Selasa: 2.048). Sejauh ini, sebanyak 3.749.446 kasus telah dilaporkan di Indonesia, dengan tingkat pemulihan 85,6% per 11 Agustus (10 Agustus: 85,3%).
Penjualan ritel Indonesia naik 2,5% yoy di bulan Juni (21 Mei: +14,7% yoy). Namun, Bank Indonesia memperkirakan penjualan ritel akan turun 6,2% yoy pada-21 Juli, karena dampak darurat PPKM. Namun, dengan keputusan pemerintah untuk membuka kembali mal dan pusat perbelanjaan di empat kota besar di Indonesia (dengan aturan ketat) pada 10-16 Agustus 2021, penurunan tersebut mungkin bisa sedikit tertahan.
“Kami memperkirakan IHSG akan tetap datar karena kurangnya sentimen. Selain itu, kami percaya pasar mungkin menganggap sistem genap ganjil yang diterapkan di Jakarta pada 12-16 Agustus 2021 sebagai sentimen negatif karena dapat memicu mobilitas masyarakat, yang pada gilirannya dapat menyebabkan lonjakan kasus baru COVID-19,” demikian tertulis.
Foto: Rendy MR
