TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

2020, Phapros Optimis Laba Terkerek di Atas 10%

Busthomi
28 July 2020 | 20:23
rubrik: Capital Market
2020, Phapros Optimis Laba Terkerek di Atas 10%

Jakarta, TopBusiness – Kendati kinerja PT Phapros Tbk (PEHA) mengaku cukup tertekan akibat dari adanya pandemi covid-19 ini, namun perseroan yakin kinerja di sepanjang tahun ini bisa terus bertumbuh ketimbang tahun lalu. Bahkan, tim manajemen yakin jika hingga akhir 2020 bisa bertumbuh di atas 10%, baik itu laba bersih maupun pendapatan.

“Kita kan terus mengejar target pertumbuhan dobel digit, dibandingkan dengan tahun buku 2019. Target revenue dan laba kami tumbuh double digit dibandingkan tahun buku 2019, di atas 10%  pertumbuhan. Sebagai informasi pasar farmasi Indonesia sendiri berdasarkan data 2019  rata-rata tumbuh 6%-7%,” tandas Direktur Utama PEHA, Hadi Kardoko dalam Public Expose virtual, di Jakarta, Selasa (28/7/2020).

Kinerja anak usaha PT Kimia Farma Tbk (KAEF) itu sepanjang tahun lalu berhasil mencatatkan penjualan bersih sebanyak Rp1,1 triliun. Dengan laba kotor di angka Rp609,48 miliar dan laba tahun berjalan di posisi Rp102,31 miliar. Angka tersebut memang mengalami penurunan ketimbang setahun sebelumnya. Kemudian asset perseroan hingga akhir 2019 sebesar Rp2,09 triliun.

Dengan posisi Ebitda perseroan di level Rp234,09 miliar per akhir 2019 lalu, lebih rendah dari tahun sebelumya di posisi Rp242,07 miliar. Penurunan ebitda ini seiring dengan penurunan laba bersih di 2019.

Direktur  Keuangan PEHA, Heru Marsono menambahkan, target jangka pendek yang dikejar Pharpos adalah mencetak laba dan pendapatan yang positif. Adapun langkah yang dilakukan di antaranya efisiensi dan melakukan strategi pemilihan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar di tengah pandemi covid-19 seperti saat ini.

Di tengah kinerja yang masih tertekan ini, Phapros juga mengalokasikan belanja modal (capex) di bawah Rp50 miliar. Penggunaan capex ini yakni untuk peningkatan kapasitas produksi di beberapa lini dan peningkatan teknologi dengan harapan bisa lebih efisien. Kesemuanya diharapkan bisa mendongkrak kinerja bisnis Phapros di tahun-tahun berikutnya.

BACA JUGA:   Riset Probiotik ke Pasien Covid akan Ada

“Masalah capex di 2020 di bawah Rp50 miliar. Tidak besar memang, karena pada 2017 sampai 2019 lalu kita sudah mengeluarkan cukup besar untuk pengembangan bisnis,” tandas Heru.

Produk Bermarjin Besar

Hadi sendiri mengakui, pandemi covid-19 telah memberikan hantaman cukup keras bagi industri farmasi termasuk Phapros. Kondisi ini tentu dilematis mengingat awalnya diperkirakan industri farmasi tidak terlalu terpengaruh oleh pandemi covid-19. Namun nyatanya, virus mematikan itu memperlambat laju bisnis industri farmasi.

“Industri farmasi termasuk industri yang cukup terdampak. Kenapa? Karena beberapa produk farmasi itu digunakan untuk rumah sakit. Sedangkan kita lihat beberapa rumah sakit sekarang banyak kekosongan dari tingkat keterisian pasien,” katanya.

Menurut dia, banyak pasien tak berani ke rumah sakit, gara-gara adanya pandemi covid-19, sehingga secara otomatis konsumsi untuk obat-obat perseroan cukup kecil. “Hal itu sangat berdampak ke kita terutama untuk produk di pasar rumah sakit dan ke dokter-dokter. Akan tetapi semester II ini optimistis kita akan berupaya mengejar. Yang kita utamakan adalah bagaimana mengejar bottom line,” pungkas Hadi.

Untuk itu, kata dia, sejumlah strategi untuk bisa survive dan lebih berkembang di tengah kondisi pandemi Covid-19, antara lain fokus ke produk yang menghasilkan margin besar. Makanya pihak perseroan akan menata kembali portofolio produk tersebut. 

“Fokus ke produk yang menghasilkan margin besar sebagai langkah adaptasi terhadap dinamisasi perkembangan industri dan perekonomian dan resourcing bahan baku. Serta melakukan penghematan biaya operasional dengan dengan pendekatan New Normal,” tuturnya.

Dalam era Covid ini, lanjutnya, new normal tidak hanya dalam bekerja tetapi juga new normal dalam portofolio produk.  Artinya, perseroan tidak lagi fokus kepada pareto yang dulu, pasti akan berubah. 

BACA JUGA:   IHSG Berpotensi Sideways

“Selama ini kami ada 250 produk. Phapros harus mulai memilih portofolio yang bagus dan akan ditingkatkan. Ini terkait dengan penggunakan alat produksi yang dipakai untuk beberapa produk. Kami akan memilih produk-produk yang bisa mendorong kinerja,” tandasnya.

Selain itu, PEHA juga terus mendukung pencegahan penularan Covid-19 dengan menggenjot produksi multivitamin, hand sanitizer dan produk lainnya yang sejalan untuk ini serta penambahan channel-channel modern outlet.  Baik di Phapros sendiri, ataupun di anak perusahaan, PT Lucas Djaja Group.

“Strategi lainnya dengan jalan memperkuat sinergi dengan holding dan grup dalam berbagai hal operasional maupun keuangan,” pungkas Hadi.

Foto: TopBusiness

Tags: Covid-19PEHAPT Phapros Tbkpublic exposesektor farmasitarget pendapatan
Previous Post

IHSG Terkunci di Zona Merah

Next Post

RUPSLB WEGE Sepakat Rombak Dewan Komisaris dan Direksi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR