Jakarta, TopBusiness—BPR Pekanbaru Madani (Perseroda) telah menggelar sejumlah inovasi bisnis yang bertujuan menaikkan kinerja. Salah satu bentuknya adalah menaikkan fee based income (pendapatan non-bunga).
Hal tersebut dijelaskan oleh Direktur Utama BPR Pekanbaru Madani, Akhmad Fauzi Lindung, dalam presentasi virtual hari ini, kepada Dewan Juri Top BUMD Awards 2022, yang digelar Majalah TopBusiness bersama sejumlah lembaga.
Fauzi mengatakan bahwa contoh sumber fee based income tersebut adalah pembayaran rekening listrik, air bersih, pulsa telepon, dan lain-lain.
Juga, untuk menaikkan fee based income, BPR Pekanbaru Madani pada tahun 2022 ini mengusulkan bisa menjadi outlet penerimaan PBB (pajak bumi dan bangunan) atau pun jenis retribusi yang lainnya.
Adapun inovasi bisnis lainnya adalah dengan mendiversifikasikan bisnis. Dalam hal ini, BPR Pekanbaru Madani mengupayakan adanya variasi produk. “Suku bunga yang terjangkau pun,” Fauzi menambahkan, “merupakan bentuk inovasi bisnis kami.”
Inovasi bisnis yang lain adalah dengan ekspansi kredit di luar Kota Pekanbaru. Pada saat ini, bank tersebut sedang ekspansi kredit ke area Kabupaten Siak. “Kami juga akan meluaskan layanan ke Kabupaten Bengkalis,” papar Fauzi.
Rencana Strategis
Masih dalam paparan virtual tersebut, Fauzi menjelaskan sejumlah rencana strategis BPR Pekanbaru Madani. Salah satunya adalah kerja sama dengan berbagai pihak untuk menaikkan nilai kredit. Ini antara lain dengan Pemerintah Kota Pekanbaru.
Rencana strategis lainnya yaitu menurunkan rasio NPL (non performing loan/kredit bermasalah). Hal itu ditempuh dengan restrukturisasi kredit, penagihan piutang secara intensif, melelang atau pun menjual aset agunan, menyusun kredit yang lebih variatif, melakukan hapus buku sebagian kredit, dan lain-lain.
Fauzi pun menjabarkan sejumlah target jangka pendek BPR Pekanbaru Madani. Hal tersebut adalah: memertahankan rasio NPL di 1,5%; menaikkan kredit sebesar 5.66% dari Rp40,79 miliar ke Rp43,09 miliar; menjaga rasio BOPO (biaya operasional berbanding pendapatan operasional) di bawah 89% atau kategori ‘sehat’; dan lain-lain.
Untuk target jangka menengah, adalah menambah besaran modal yang berasal dari laba, menjadi Rp2 miliar; menumbuhkan aset ke nilai Rp100 miliar dalam dua sampai tiga tahun ke depan; dan lain-lain.
