Jakarta, TopBusiness—Suatu webinar mengenai praktik CSR di sejumlah perusahaan terkemuka, telah berlangsung hari ini (24 Maret 2022). Webinar tersebut digelar oleh Majalah Top Business bekerja sama dengan sejumlah lembaga.
Mengangkat tema Adoption of ISO 26000 SR, Being a Responsible Company is The Key Strategy for Business Sustainable Growth, webinar tersebut merupakan pembuka dari acara puncak Top CSR Awards 2022, yang direncanakan berlangsung pada Rabu, 30 Maret 2022, di Jakarta.
Ketua Penyelenggara Top CSR Awards 2022, M. Lutfi Handayani, dalam sambutannya mengatakan bahwa Top CSR Awards merupakan kegiatan penilaian dan pemberian penghargaan bidang CSR yang tertinggi, dan insya Allah yang terbesar dan paling membanggakan di Indonesia, yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia, yang dinilai berhasil dalam menjalankan program CSR/ TJSL/ Community Development yang efektif dan berkualitas.
Jadi, kegiatan Top CSR Awards, bukan hanya sekadar kegiatan penilaian dan penghargaan bidang CSR semata, namun didalamnya banyak proses pembelajaran CSR untuk semua, agar kualitas dan efektivitas program-program CSR perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia, makin meningkat, makin efektif, dan makin berkualitas. Sebagai contoh, dalam wawancara penjurian, ada sesi nilai tambah, di mana Dewan Juri memberikan masukan dan saran-saran perbaikan kepada para peserta, untuk peningkatan kualitas CSR perusahaan ke depan.
“Dan pada Webinar Top CSR Awards 2022 ini, kita hadir untuk berbagi ilmu dan pengalaman dari para pakar CSR terbaik di Indonesia, dan dari perusahaan-perusahaan yang dinilai telah berhasil dalam menjalankan program-program CSR yang efektif dan berkualitas. Kita dapat menyimak bersama, bagaimana filosofi dasar dan cara menjalankan CSR berdasar ISO 26000 SR. Selain itu, kita dapat menyimak bersama, bagaimana best practice implementasi CSR dari sebagian perusahaan-perusahaan unggulan,” ucap Lutfi yang juga pemimpin redaksi Majalah TopBusiness itu.
Pernyataan Pembicara
Sejumlah pembicara dari sejumlah perusahaan dari berbagai sektor, tampil di webinar tersebut. Antara lain, General Manager Mining Support MHU Coal, Wijayono Sarosa.
Ia mengatakan bahwa bagi pihaknya, CSR bukan sekadar filantropi. Di sini, MHU Coal mengupayakan agar CSR juga merupakan bagian dari pemberdayaan masyarakat. Serta merupakan bagian dari manajemen risiko. “Untuk hal seperti ini, tentu kami didukung oleh top management perusahaan,” kata dia.
Secara umum, dalam menjalankan CSR, MHU Coal punya misi tentang memberi dampak positif ke masyarakat dan lingkungan. “Kami membentuk yayasan untuk memastikan bahwa usai masa pertambangan, seluruh aktivitas ekonomi masyarakat bisa terus bergerak,” kata Wijayono.
Kemudian, ada Chief Corporate Services Officer Kideco Jaya Agung, Leonardus Herwindo. Ia memaparkan bahwa pihaknya berkomitmen mengeksplorasi batu bara secara eco friendly, dan ingin generasi mendatang bisa lebih harmonis dengan lingkungan. “Social responsibility, untuk masa depan yang lebih baik. Kami berniat menyejahterakan masyarakat dan pemangku kepentingan, terutama sekitar area tambang,” kata Leonardus.
Bagi Kideco, ISO 26000 SR menjadi panduan dalam melakukan program dan strategi bisnis atau pun nonbisnis, di fungsi sustainability dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk masyarakat, Kideco membangun program integrated farming system. Harapannya menumbuhkan kemandirian dan mengurangi ketergantungan ke pertambangan batubara. “Segala macam ISO, guide line, menjadi pegangan. Kami tak hanya kejar sertifikat, tetapi gunakan itu sebagai acuan-panduan untuk jalankan perusahaan dengan standar yang sama.”
Selanjutnya, Direktur Keuangan Geo Dipa Energi, Hanif Osman, juga memaparkan perspektifnya. Dikatakannya bahwa dalam implementasi, ISO 26000 SR memang butuh strategi, dan tiap perusahaan bisa punya strategi berbeda.
ISO 26000 SR berbeda dengan yang sebelumnya. Di sini ISO 26000 SR punya guide line yang sifatnya umum, sehingga suatu perusahaan punya ruang untuk mengimplementasikan CSR sesuai dengan kebutuhan.
Geo Dipa menyelaraskan strategi bisnis dengan pembangunan berkelanjutan dalam aspek ekologi, aspek sosial-masyarakat, dan aspek ekonomi. “Aspek-aspek itu kami tuangkan dalam program CSR. Bagi kami, CSR harus memberikan share value.”
Menurut General Manager CSR Solusi Bangun Indonesia, Ummu Azizah, pihaknya memandang bahwa CSR bukanlah sekadar program community development. “Bicara CSR, berkaitan erat dengan tata kelola seluruh organisasi,” kata dia.
Dalam CSR, Solusi Bangun Indonesia menempatkan masyarakat sebagai partner untuk mengembangkan inisiatif bersama dan terlibat dalam operasional. Menjalankan CSR, Solusi Bangun Indonesia mengacu ke ISO 26000 SR. “Masyarakat punya hak untuk terbebas dari dampak operasional kami,” kata Ummu.
Dari Kaltim Prima Coal, ada Wawan Setiawan, General Manager External Affair and Sustainable Development, yang mengatakan bahwa pihaknya selalu berupaya memastikan adanya hubungan CSR dengan CSV (creating shared value). Program CSR harus mencerminkan kerangka hubungan CSV. “Dalam hal ini, harus ada inovasi sosial dan memberikan share value bersama,” tegasnya.
Kaltim Prima Coal memprediksi bahwa, dalam tiga tahun mendatang, CSR yang dijalankan bisa memunculkan pahlawan ekonomi lokal. Hal tersebut karena CSV sudah diterapkan dalam hal tersebut.
Dalam operasional bisnis, Kaltim Prima Coal punya kebijakan berkelanjutan, mengusung good mining practice. “Skenario tutup tambang pun sudah kami punyai. Kami dalam hal ini bekerja sama dengan pemerintah. Diharapkan, ada kemandirian desa yang mendorong perubahan kultur dan lain-lain,” paparnya.
Ketua Yayasan BSMU, Suhendar, juga memaparkan pandangannya pada webinar tersebut. Antara lain, mengatakan bahwa pihaknya punya konsep dan tata kelola CSR. Dalam hal ini, CSR harus berdampak bagus, akuntabel, dan transparan.
“Kami punya pola mulai dari dari inisiasi, penilaian awal, perencanaan, implementasi, evaluasi. Program CSR harus bisa berkembang agar lebih luas dan menjadikan masyarakat mandiri,” kata Suhendar.
Suhendar mencontohan bahwa dalam program CSR untuk desa yang dijalankan Yayasan BSMU, penerima manfaat kini punya akses ke bank dan bisa membayar zakat. “Sebelumnya mereka penerima zakat, lantas menjadi pembayar zakat. Dana kelolaan kami pun berkembang pesat,” kata dia.
External Partnership Division Head Telen Orbit Prima, Muhammad Rum, menguraikan bahwa pihaknya mengintegrasikan aspek sosial dan lingkungan, dalam operasional bisnis. “Sebisa mungkin, dalam hal tersebut memberi manfaat lebih ke negara dan masyarakat yang terdampak operasional kami.”
Telen Orbit kini memercepat kapasitas produksi sampai tahun 2035. Dan mulai memikirkan adanya kemandirian ekonomi masyarakat di waktu pascapertambangan. “Hal inilah yang menjadi landasan CSR kami yakni mengupayakan kemandirian masyarakat pascapertambangan,” kata dia.
General Manager Indonesia Power Kamojang Pomu, Ibnu Agus Santosa, berkata bahwa bagi pihaknya, CSR bukanlah sebuah beban. Namun, menjadi sebuah bagian dari proses bisnis. “CSR bermanfaat untuk para pemangku kepentingan,” Ibnu berkata.
CSR pun, kata Ibnu, berperan meminimalkan dampak dari operasional perusahaan. Sebagai comtoh, emisi dari operasional perusahaan, direspons dengan penanaman banyak pohon bersama masyarakat. “Dalam melakukan kegiatan perusahaan, kami selalu memerhatikan isu-isu berkelanjutan dan
Adapun dari Chandra Asri Petrochemical, ada Edi Rivai yang merupakan Legal and External Affairs Director. Yang dijelaskannya adalah bahwa pihaknya mengusung ekonomi sirkular. Wujudnya adalah aktivitas mendukung pengelolaan sampah plastik dan mengolahnya lagi, yang melibatkan masyarakat. “Bagaimana mengubah dari ekonomi linear ke ekonomi sirkular yang mengolah lagi? Ini kami kembangkan dan beri contoh di Chandra asri.”
Dalam hal tersebut Chandra Asri membuat sampah menjadi aspal plastik, di mana aspal tersebut sudah terpakai sepanjang 58 km di banyak area di Indonesia.
Contoh lainnya adalah program yang mengumpulkan sampah laut ke bank sampah. Lalu diolah menjadi bahan bakar dan digunakan lagi oleh nelayan untuk melaut. “Chandra Asri punya tiga konsep berkelanjutan yakni pro planet, pro people, dan pro profit.”
Ketua Dewan Juri Top CSR Awards 2022, Mas Achmad Daniri, dalam webinar itu mengatakan bahwa CSV merupakan paradigm baru penerapan CSR. “Sifatnya menjadi win-win yakni menciptakan manfaat bersama.”
Dan hal itu bisa diperoleh dengan memetakan kepentingan dari masing-masing pemangku kepentingan. Pemetaan, akan membantu pembuatan program CSR.
Daniri pun mengatakan bahwa dalam memetakan pemangku kepentingan, harus memerhatikan apa saja kepentingan mereka. Perusahaan, dalam memetakan dampak negatif operasional perusahaan, harus mengolah sedemikian rupa agar yang muncul lalu dampak positif.
“Dengan CSV, sebuah titik temu dicari sehingga ada manfaat maksimal bagi pencapaian SDG’s dan perusahaan,” ucap Daniri.
