TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Dari Jalan Tol ke Keberlanjutan: Strategi CSR Jasa Marga Berbasis ESG

Busthomi
22 April 2026 | 10:11
rubrik: CSR, Event
Dari Jalan Tol ke Keberlanjutan: Strategi CSR Jasa Marga Berbasis ESG

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Jasa Marga (Persero) Tbk (IDX: JSMR) terus memperkuat implementasi program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL/CSR) yang terintegrasi dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam menciptakan nilai jangka panjang sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.

Dalam sesi penjurian TOP CSR Awards 2026, Direktur Human Capital dan Transformasi Jasa Marga, Yoga Trianggoro, menegaskan bahwa perusahaan memandang ajang ini sebagai sarana evaluasi sekaligus pembelajaran untuk meningkatkan kualitas implementasi CSR.

“Jasa Marga mengikuti award ini sebagai kegiatan pembelajaran dan penghargaan CSR dan ESG yang terbesar dan membanggakan di Indonesia. Jadi ini menjadi ajang dua hal yang sangat penting buat kami yaitu untuk kita menilai pengelolaan atau implementasi CSR kami dan juga kita mendapatkan insight-insight yang berharga,” ujar Yoga.

Integrasi ESG dalam Bisnis Jalan Tol

Mengusung tema Driving Sustainable Toll Road Business through ESG, Jasa Marga menempatkan ESG sebagai pendekatan strategis dalam seluruh proses bisnis, mulai dari operasional, investasi, hingga pengambilan keputusan.

Yoga menjelaskan bahwa integrasi ESG tidak hanya berfokus pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga memastikan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan.

“Komitmen integrasi ESG dalam proses bisnis jalan tol memastikan bahwa aktivitas pembangunan dan pengoperasian jalan tol itu tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan yang berintegritas,” jelasnya.

Melalui pendekatan ini, Jasa Marga juga berupaya menyeimbangkan keberlanjutan finansial, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.

“Kami menyadari masih terdapat berbagai area yang perlu ditingkatkan. Baik dari sisi strategis maupun teknis. Salah satu implementasinya juga didukung melalui program TJSL tersebut,” katanya.

CSR sebagai Bagian Strategi Bisnis

Program CSR Jasa Marga tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan filantropi semata, melainkan sebagai bagian dari strategi bisnis yang terintegrasi dengan prinsip creating shared value (CSV).

BACA JUGA:   Lolos Uji Laik Fungsi dan Uji Laik Operasi, Jalan Tol Jogja-Solo Tahap I Kartasura-Klaten Dinilai Aman

Yoga menegaskan bahwa TJSL menjadi instrumen penting dalam mitigasi risiko sekaligus penciptaan nilai bagi perusahaan dan masyarakat.

“Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan atau TJSL, Jasa Marga senantiasa mengedepankan konsep CSV terintegrasi dengan arahan strategis dan proses bisnis Jasa Marga yang merupakan salah satu upaya perusahaan untuk memitigasi risiko serta melaksanakan program yang tidak hanya bermanfaat untuk penerima manfaat, namun juga memberikan dampak kepada perusahaan,” ujarnya.

Dalam proses penjurian ini, Yoga didampingi oleh banyak tim dari Jasa Marga. Ada Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga, Lisye Octaviana; Environment, Social & Governance (ESG) Executive Specialist, Imad Zaky Mubarak; Corporate Social Responsibility (CSR) Department Head, Andina Rahmasari; Planning and Controlling Section Head, Sri Handayani, dan banyak lagi.

Fokus CSR dan Risiko Keberlanjutan

Lisye Octaviana menjelaskan, implementasi CSR dan ESG didasarkan pada analisis materialitas yang dilakukan secara berkala.

Analisis ini mempertimbangkan isu-isu prioritas yang berdampak signifikan terhadap bisnis dan keberlanjutan perusahaan, seperti kinerja ekonomi, perubahan iklim, keselamatan kerja, hingga keterlibatan masyarakat lokal.

“Penentuan topik material setiap tahun kami lakukan melalui evaluasi berdasarkan kebijakan standar, roadmap ESG perusahaan, serta focus group discussion baik internal maupun eksternal, sehingga menghasilkan daftar prioritas yang relevan dengan proses bisnis,” jelas Lisye.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini memungkinkan perusahaan merancang program CSR yang tepat sasaran dan berdampak nyata.

Program CSR Jasa Marga mencakup berbagai aspek, mulai dari tahap pembangunan hingga operasional jalan tol. Dalam proses konstruksi, perusahaan memperhatikan dampak sosial dan lingkungan, termasuk menjaga ekosistem dan melindungi cagar budaya.

“Pada saat proyek jalan tol dibangun, kami analisa dampak sosialnya terhadap masyarakat, termasuk memastikan mobilisasi masyarakat tidak terganggu dengan membangun jembatan penyeberangan atau terowongan,” ungkap Lisye.

BACA JUGA:   Usai Libur Panjang, Jasa Marga Catat 372 Ribu Kendaraan Kembali ke Jabotabek

Selain itu, Jasa Marga juga aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan UMKM, pengembangan desa binaan, serta pemberian ruang usaha di rest area.

“Di rest area, kami berkolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat untuk memberikan dukungan pemberdayaan ekonomi,” tambahnya.

Di sektor lingkungan, Jasa Marga menjalankan berbagai inisiatif, termasuk pengelolaan limbah berbasis 3R, penggunaan energi terbarukan, serta efisiensi energi operasional.

Perusahaan juga mulai mengadopsi kendaraan listrik dan memasang panel surya di sejumlah fasilitas operasional.

“Efisiensi energi dan green operation menjadi bagian dari dukungan kami terhadap program pemerintah dalam mencapai target net zero emission,” jelas Lisye.

Selain itu, pengelolaan air limbah dan pemanfaatan air hujan juga dilakukan di rest area untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Pengukuran Dampak melalui SROI

Untuk memastikan efektivitas program CSR, Jasa Marga menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI) dalam mengukur dampak sosial dan ekonomi dari setiap program.

SROI sendirti merupakan Studi Analisis Metode Kuantitatif yang mengubah nilai dampak yang telah timbul berdasarkan indikator untuk menentukan kesejahteraan ekonomi, sosial, lingkungan menjadi nilai mata uang yang akan dibandingkan dengan jumlah dana yang diinvestasikan sebelum dampak tersebut muncul.

“Semua program kami ukur menggunakan pendekatan SROI untuk memastikan bahwa program tersebut memberikan dampak yang baik tidak hanya untuk masyarakat tetapi juga untuk perusahaan,” jelas Lisye.

Di pilar Pembangunan Sosial, untuk program Modernisasi Pertanian SROI sebesar 2,90. Di pilar Pembangunan Lingkungan, program Waste Water Treatment dan Taman Lalu Lintas Rest Area 519A SROI 1,31, untuk program Biopari Desa Binaan Desa Rancahilir dan Bongas SROI-nya 4,73. Serta pilar Pembangunan Ekonomi, program Pelatihan Branding & Literasi Keuangan UMKM SROI-nya di angka 2,77.

Penguatan Layanan dan Tata Kelola

BACA JUGA:   FOTO - Deflasi di Jakarta Minus 0,05 Persen

Sebagai bagian dari pendekatan ESG, Jasa Marga juga memperkuat aspek layanan kepada pelanggan melalui berbagai kanal komunikasi.

Lisye menyebutkan bahwa perusahaan telah mengembangkan call center nasional 133 serta aplikasi Travoy untuk memudahkan pengguna jalan tol.

“Pengelolaan customer voice kami lakukan melalui berbagai kanal interaktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas layanan ke depannya,” ujarnya.

Sementara dari sisi tata kelola, Jasa Marga memastikan seluruh aktivitas bisnis berjalan sesuai prinsip good corporate governance, termasuk kebijakan anti-korupsi, transparansi, dan etika bisnis.

Lisye menegaskan bahwa perusahaan juga mengedepankan inklusivitas dalam lingkungan kerja, termasuk kebijakan kesetaraan gender dan fasilitas ramah disabilitas.

“Kami juga memiliki kebijakan workplace yang inklusif, termasuk fasilitas parkir disabilitas dan program untuk mendukung karyawan,” kata Lisye.

Menuju Nilai Berkelanjutan

Dengan berbagai inisiatif tersebut, Jasa Marga menunjukkan komitmen kuat dalam mengintegrasikan CSR dan ESG sebagai bagian dari strategi bisnis.

Yoga menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban, melainkan peluang untuk menciptakan nilai jangka panjang.

“Keberlanjutan merupakan suatu keharusan yang strategis dalam upaya untuk menyeimbangkan penguatan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola,” ujarnya.

Dia pun mengutip arahan Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono, dalam Jasa Marga Sustainability and Communication Summit (JSCS) 2025 lalu. Sang Dirut menegaskan bahwa keberlanjutan merupakan keharusan strategis perusahaan, sejalan dengan tantangan perubahan iklim dan komitmen nasional menuju Net Zero Emission 2060.

“Implementasi ESG diposisikan sebagai upaya menjaga keseimbangan people, planet, dan profit melalui penguatan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, termasuk peningkatan kualitas pelaporan dan pengelolaan data. ESG dipandang bukan sebagai beban, melainkan peluang bisnis untuk menciptakan efisiensi, inovasi, dan nilai jangka panjang, yang hanya dapat dicapai melalui konsistensi, kolaborasi, dan komitmen seluruh insan Jasa Marga,” jelas Rivan, seperti disampaikan oleh Lisye.

Tags: PT Jasa Marga (Persero) Tbk
Previous Post

IHSG Dibuka Melemah Tertekan Saham Perbankan dan Energi

Next Post

Dari Tambang ke Masa Depan: Cara Nickel Industries Bangun Nikel Berkelanjutan Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR