Jakarta-Thebusinessnews. Jumlah penduduk dewasa,dengan umur diatas 15 tahun di Indonesia tergolong masih banyak yang tidak memiliki akses terhadap jasa keuangan formal . Hal itu terlihat dari survey word bank tahun 2014.
Data yang disampaikan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan,Muliaman D Hadad menyebutkan bahwa 2 miliar atau 38 persen penduduk dunia dewasa diperkirakan tidak memiliki akses terhadap jasa keuangan formal dan sebagian besar merupakan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Sementara di Indonesia sebanyak enam persennya dari total itu.” Ujar dia di Jakarta,Selasa(15/3/2016).
Sedangkan peringkat pertama bermasyarakat buta akses jasa keuangan,Tiongkok sebanyak 12 persen dan India sebesar 21 persen. Hal itu kata Hadad, tidak menguntungkan bagi upaya peningkatan kesejahteraan suatu masyarakat .
” Karena tingkat kesejahteraan suatu masyarakat sejalan dengan tingkat melek keuangan dan kedekatan masyarakat terhadap akses keuangan.” Tutur Hadad.
Hadad menilai,perlu pengembangan keuangan mikrodan program financial inclusion yang lebih efektif dan efisien. “Kami meluncurkan pusat pengembangan keuangan mikro dan lnklusi keuangan atau Proksi” terang dia.
Proksi ini dirancang untuk menjadi pengembangan yang diharapkan menghasilkan pemikiran pemikiran dalam pengembangan keuangan mikro.” Dan tentunya juga mendukung program pengentasan kemiskinan melalui pengembangan keuangan mikro.” Terang Hadad(az)