Jakarta, TopBusiness—Saat ini, industri alat kesehatan (alkes) dalam negeri terus digempur banyak produk impor. Produsen yang memproduksi alkes di negeri ini hanya 727 pabrik, dengan 4.265 distributor alat kesehatan. Izin produk lokal pun baru mencapai 11.734.
“Angka ini jauh lebih kecil dari 52.721 izin produk impor,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaku), Cristina Sandjaja, akhir pekan kemarin di Jakarta.
Dengan kondisi seperti itu, pasar alkes Indonesia tidak bisa berbuat banyak, hanya menguasai 0,7% dari pasar global. Ini kalah jauh dari Amerika Serikat yang menguasai 38,2%, kemudian China yang menguasai 19,9%, hingga India 2,16%.
“Impor kita untuk alkes mencapai Rp40 triliun. Namun industri alkes bisa ekspor Rp16 triliun, jadi ada defisit Rp23 triliun. Impor lebih besar dari ekspor,” papar Cristina dalam keterangan tertulis yang diterima Majalah TopBusiness.
Direktur Prodia Diagnostic Line ini menilai ada harapan ketergantungan impor alkes Indonesia bisa berkurang. Apalagi masing-masing industri terus melakukan inovasi agar produknya bisa terasa bermanfaat bagi masyarakat luas.
Christina pun melakukan langkah serupa, yakni membuat industri Reagensia.
“Ketika sedang studi S3, saya diminta owner-founder Prodia untuk buat suatu industri Reagen. Kalau datang ke Prodia saat akan diperiksa gula darah dan kolesterol, darah Anda diambil, terpisah serum dan selnya. Kemudian serumnya diambil, dimasukkan ke dalam satu instrumen lab, dicampur dengan Reagen. Maka dapat diketahui gula darahnya, misalnya 108mg/dl. Yang dibuat Prodia Diagnostik Line itu adalah reagensia, pereaksi kimia,” sebutnya.
