Jakarta, TopBusiness—Prediksi kemungkinan resesi ekonomi global di tahun 2023, bisa berpengaruh kepada pemulihan sektor properti perkantoran di Jakarta.
“Dengan kemungkinan tersebut, kita tak bisa berharap bahwa sektor properti perkantoran di Jakarta, pulih tahun 2023. Dinamika seperti ini perlu dicermati,” kata Senior Associate Director Colliers Indonesia, Ferry Salanto, di Jakarta hari ini, dalam paparan riset pasar terbaru ke wartawan.
Ferry mengatakan bahwa dalam sebuah siklus jam properti, bisa disebutkan bahwa properti perkantoran Jakarta ada di posisi jam 7 atau mulai bergerak naik. Hal itu setelah sebelumya berada di titik dasar atau jam 6, dalam waktu yang cukup lama.
Dalam posisi tersebut, Ferry menambahkan, persoalan yang masih ada yakni masih berlebihnya pasokan di pasar. “Jadi, persoalannya masih hal yang sama,” ia menegaskan.
Ia pun menjelaskan lebih lanjut beberapa hal tentang pasar properti perkantoran Jakarta pada kuartal tiga tahun 2022. Selama kuartal tersebut, tidak ada gedung baru yang beroperasi di kawasan CBD (Central Business District) Jakarta. Hal yang sama terjadi untuk area non-CBD Jakarta.
Angka kumulasi pasokan properti perkantoran di CBD Jakarta kini, di 7,04 juta m2. Untuk non-CBD Jakarta, angka itu di 3,69 juta m2.
Sementara, tingkat hunian perkantoran di CBD Jakarta kini di 75,1%. Adapun di non-CBD Jakarta, di 75,7%.
Kemudian, Ferry pun menjelaskan bahwa beberapa proyek gedung perkantoran kembali memundurkan jadwal penyelesaian. Itu dari tahun 2022 ini menjadi tahun 2023.
“Diprediksikan bahwa pasokan perkantoran akan terus bertambah hingga tahun 2023. Kemudian, mulai melambat di tahun 2024,” kata Ferry.
