Jakarta, TopBusiness – Indeks harga saham gabungan atau IHSG di PT Bursa Efek Indonesia hingga penutupan perdagangan hari ini berpotensi melemah.
Daily Research Report oleh Samuel Research Team menyatakan bahwa IHSG Berpotensi Melemah.
Bursa AS semalam ditutup melemah, DJIA 0,46%, S&P500 1,06%, dan Nasdaq 1,73%, hal ini terjadi sehari setelah the Fed menaikan suku bunga sebesar 75 bps dan memberi isyarat bahwa penurunan tingkat suku bunga mungkin belum akan terjadi di waktu dekat. Yield UST 10 tahun terpantau naik (0,61%) menjadi 4,15% dan USD Index (1,46%) ke level 112,85.
Dari pasar komoditas, CPO turun 1,41% ke RM 4.336/ton, nikel 5,11%, emas 0,48%, dan batu bara 2,77%. Sementara itu, harga Brent juga terpantau turun (0,04%) menjadi USD88,17/bbl.
Pada akhir perdagangan kemarin, IHSG ditutup naik 0,27% ke level 7.034,6. Top leading movers emiten GOTO, BBRI, BMRI, sementara top lagging movers emiten TLKM, ASII, MDKA. Investor asing kemarin mencatatkan keseluruhan net sell sebesar Rp 366,8 miliar. Pasar reguler asing mencatatkan net sell Rp 189,5 miliar, dan pada pasar negosiasi tercatat net sell Rp 177,3 miliar. Net buy asing tertinggi di pasar reguler dicatatkan oleh BBRI (Rp 257,7 miliar), BBCA (Rp 152 miliar), dan AKRA (Rp 42,7 miliar). Net sell asing tertinggi di pasar reguler dicetak oleh TLKM (Rp 458 miliar), BMRI (Rp 77,2 miliar), dan ANTM (Rp 43,6 miliar).
Terdapat tambahan 4.951 kasus baru COVID-19 di hari kamis (03/11) dengan positivity rate sebesar 9,1% (total kasus aktif: 32.080). Sebanyak 2.882 pasien telah sembuh dengan recovery rate sebesar 97,0%.
Bursa Asia pagi ini terpantau dibuka mixed: Nikkei -1,33%, Kospi +0,15%. “IHSG kami perkirakan akan bergerak melemah hari ini seiring dengan sentimen global dan regional,” demikian tertulis.
