Jakarta, TopBusiness – PT BPR Artha Sukma (Perseroda) Pemerintah Kabupaten Sukamara Provinsi Kalimantan Tengah atau BPR Artha Sukma memacu ekspansi kredit bekerja sama dengan perusahaan berbasis teknologi keuangan (fintech). Langkah ini dimanfaatkan untuk meningkatkan performa bisnis di jasa perbankan.
Saat sesi presentasi materi berjudul BPR dan Teknologi Informasi, Direktur Utama BPR Artha Sukma, Zulkipli menyatakan bahwa pihaknya telah bekerjasama dengan sejumlah fintech dalam rangka inovasi bisnis bank. “Alhamdulillah, kami sudah bekerja sama dengan tiga fintech yakni PT Komunal Finansial Indonesia, PT Kawan Cicil Teknologi Utama dan PT Pasar Dana Pinjaman,” kata dia, dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2023, yang berlangsung dalam jaringan aplikasi zoom meeting, di Jakarta, Senin (13/02).
Dengan menggandeng perusahaan fintech akan lebih memacu ekspansi bisnis di industri keuangan bank, selain untuk mempermudah layanan bagi nasabah terkait dengan kenyamanan, kemudahan dan kecepatan dalam kredit.
Dalam konteks seperti itu, manajemen BPR Artha Sukma terus meningkatkan jumlah baki debet untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam mendapatkan kredit. “Alhamdulillah, sekarang kita sudah membiayai dari fintech ini Rp 11 miliar, tapi totalnya sudah 25 miliar dan sudah lunas. Sekarang baki debetnya sudah Rp 13 miliar, akan kita tingkatkan terus,” tuturnya.
BPR Artha Sukma melihat bahwa potensi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang terus melaju akan memberikan manfaat dalam perkembangan bisnis perseroda di kemudian hari. Pasalnya, semakin memudahkan masyarakat dalam mendapatkan layanan kredit, apalagi ada potensi untuk meningkatkan sumber pendapatan.
Menurut Zulkipli, perseroda mesti melaksanakan perluasan dan pendalaman bisnis bank dengan menggandeng fintech, seiring potensi pendapatan yang maksimal. “Karena apa? di dalam teknologi informasi ini memang harus dilakukan oleh PT BPR Artha Sukma dalam posisi penempatan kredit yang di fintech ini. Karena pinjamannya cuma satu, dua dan tiga bulan lunas, dengan itu bunga yang diberikan juga cukup baik daripada kita penempatannya di antar-bank, deposito cuma 6,25 persen. Ini bisa 13, 14 dan 15 persen,” ungkap dia.
Kendati begitu, pihaknya tetap meningkatkan prinsip kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit kepada debitur. Sehingga, profil nasabah menjadi perhatian utama dan dikategorikan dengan sebaik-baiknya. “Kalau grade-nya B plus itu bunganya sekitar 14-15 persen, tapi kalau A-nya cuma 12 persen karena tingkat pengembalian maupun format nasabahnya itu begitu baik, dan begitu tepat waktu. Tapi Alhamdulillah dengan grade B, B plus itu tepat waktu semua,” imbuh Zulkipli.
Dia menambahkan, selain pinjaman tersebut juga telah dijamin dan meningkatkan loan to deposit rasio (LDR). “Di dalam hal ini, fintech itu sudah dijamin ada yang 99 persen, ada yang 90 persen. Jadi penjaminan ini sudah dilakukan setelah akad dengan fintech dan sudah langsung dijamin. Dan pinjamannya maksimal 4 bulan sudah lunas, sehabis itu pinjam lagi dan setelah itu mencari lagi nasabah-nasabahnya,” ulas dia.
Dirinya pun bersyukur dengan pemanfaatkan teknologi informasi di masa digital seperti saat ini. Karena selain untuk meningkatkan ekspansi bisnis dan kinerja perseroda. Juga, dapat bersaing dengan bank-bank lain.
“Alhamdulillah dengan teknologi ini kami terbantu untuk meningkatkan LDR kami, yang mana LDR yang biasanya cuma 65-68 persen, karena kabupaten kami di sini Kabupaten kecil. Karena kabupaten pemekaran, kebupten baru 17 tahun dengan penduduknya 62.000 jiwa. Sekarang ini dengan bank yang ada di Kabupaten Sukarama ada lima bank, di sini berdiri bank umum ada empat dan satu BPR. Luas wilayahnya juga begitu luas dari hasil kabupaten pemekaran. Nah ini nasabah-nasabah itu menjadi rebutanlah bagi seluruh bank yang ada di Kabupaten Sukamara, dengan porsi kami paling kecil dibanding yang lainnya,” beber dia.
