Jakarta, TopBusiness – Saat ini Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), yaitu PT Melati Bhakti Satya atau MBS dengan pemegang saham mayoritasnya adalah Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur sedang melakukan konsolidasi.
Ditegaskan Direktur Utama MBS Aji Mohammad Abidharta Wardhana Hakim, kami sedang melakukan konsolidasi bisnis. “Tentunya, kami akan mempertajam bisnis. Kami akan menjadikan 3 perusahaan yang akan menjadi kekuatan bisnis MBS. Kami memiliki KEK dan mempunyai pelabuhan MALOY, di mana kawasan terintegrasi ini akan menjadi kawasan unggulan MALOY dan menjadikan Kalimantan Timur menjadi kawasan exports sector Crude Palm Oil (CPO), pertanian, perkebunan, perikanan serta berbagai aneka produk unggulan se-Kalimantan Timur,” kata Aji, dihadapan Dewan Juri TOP BUMD Awards 2023, yang berlangsung secara daring melalui skema aplikasi rapat zoom, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, perusahaan akan menjadi pemain besar. “MBS akan menjadi player di Kalimantan Timur. Kami akan buka kerja sama dengan seluruh pelaku bisnis, baik itu BUMN, swasta. Dengan konsolidasi ini bisnis MBS akan semakin baik dengan tata kelola terbaik dengan terapkan GRC”, tegas Aji, meyakinkan.
Perusahaan berstatus BUMD Melati Bhakti Satya mempunyai 5 anak perusahaan dengan berbagai konsentrasi bisnis. Pertama, PT Maloy Batuta Trans Kalimantan, merupakan perusahaan ini bergerak pada kawasan industri dalam bentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Kedua, ada PT Kaltim Kariangau Terminal, yaitu konsentrasi bisnis pada operator terminal peti kemas. Ketiga, PT Kaltim Bhakti Samudra, perusahaan yang bergerak di bisnis pelabuhan. Keempat, PT Kaltim Binasarana Konstruksi, yang bergerak pada bisnis jasa konstruksi. Terakhir, PT Kaltim Argo Mina Nusantara, bergerak pada bisnis perikanan dan pertanian.
Setidaknya ada 3 anak perusahaan yang diperlukan untuk dilakukan konsolidasi agar lebih baik, karena anak perusahaan ini akan menjadi BUMD akan lebih terkonsentrasi dalam bisnisnya. Seperti, PT Maloy Batuta Trans Kalimantan, karena akan dijadikan salah satu BUMD dengan konsentrasi bisnis pada kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy. Di kawasan industri KEK Maloy ini telah dibangun jaringan pipanisasi untuk pengiriman Crude Palm Oil (CPO) melalui akses pelabuhan yang langsung terintegrasi masuk ke kargo dan perkapalan untuk tujuan ekspor ke mancanegara.
Selanjutnya, ada PT Kaltim Argo Mina Nusantara. Anak perusahaan ini akan menjadi satu satu BUMD yang berkonsentrasi bisnis pada perikanan, perkebunan dan pertanian. Hasil Argo sekitar Kaltim akan di pasarkan ke seluruh nusantara bahkan ke mancanegara, melalui pelabuhan yang dimiliki MBS.
Terakhir, PT Kaltim Bhakti Samudra (KBS). KBS ini akan menjadi BUMD dengan konsentrasi bisnis pada bidang pelabuhan terintegrasi. KBS pun melakukan kerja sama bisnis dengan Badan Usaha Milik Negera (BUMN) Pelindo, di mana kawasan 72 hektar yang akan dipergunakan sebagai kawasan pelabuhan. Saat ini baru bisa dimanfaatkan lahan tersebut sebanyak 13 hektar, dan sudah ada 2 investor yang masuk untuk kawasan IKN dengan investasi yang masuk Rp 18 miliar. “Satu lagi, dari Kalimantan Timur memiliki perusahaan JAMKRIDA (Jaminan Kredit Daerah), dimana keberadaan JAMKRIDA ini akan sangat memberikan bantuan besar kepada seluruh pelaku usaha UMKM agar bisa mendapatkan jaminan kredit, apabila sektor perbankan mendapatkan dukungan penuh dari JAMKRIDA maka seluruh UMKM akan mendapatkan dukungan penuh dari. Seluruh pelaku bisnis di seluruh sektor pertambangan, pertanian, perkebunan serta seluruh sektor akan mendapatkan dukungan penuh dari JAMKRIDA. MBS pun memiliki saham di JAMKRIDA,” pungkas Aji.
