TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

OJK Mulai Khawatir Kenaikan Ratio Kredit Bermasalah

Nurdian Akhmad
23 May 2016 | 14:31
rubrik: Finance

Jakarta-Thebusinessnews.Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, sejauh ini pihaknya tengah mengkhawatirkan berlanjutnya tren kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) di industri perbankan, meski peningkatannya relatif tipis dari bulan ke bulan.

“NPL perbankan kita meningkat terus, meski belum terlalu mengkhawatirkan. Yang kami khawatirkan adalah berlanjutnya peningkatan (NPL) itu, yang sepertinya masih terlihat sustain,” kata Kepala Eksekutif Bidang Pengawasan Perbankan OJK, Nelson Tampubolon di Jakarta, Senin (23/5).

Menurut Nelson, sejak akhir 2015 tren NPL berangsur-angsur mengalami peningkatan, meski hingga saat ini masih berada di bawah ambang batas maksimal sebesar 5 persen. “NPL terus meningkat dari sebelumnya sekitar 2,7 persen (gross),” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, hingga akhir Februari 2016 besaran NPL gross meningkat menjadi 2,9 persen, sedangkan NPL net mecapai 1,5 persen. Padahal, sebulan sebelumnya NPL gross hanya 2,7 persen dan NPL net 1,4 atau meningkat dibandingkan posisi Desember 2015 yang masing-masing sebesar 2,5 persen (gross) dan 1,2 persen (net).

Lebih lanjut dia mengatakan, tren kontinuasi kenaikan NPL tersebut tidak terlepas dari dampak negatif isu-isu ekonomi global, terutama kondisi di Amerika Serikat, Eropa dan China. “Ketidakpastian di global dipengaruhi rencana The Fed menaikkan suku bunga,” ucap Nelson.

Selain itu, jelas dia, pengaruh global terhadap perbankan domestik juga datang dari ketidakpastian ekonomi di Eropa dan China. “Bahkan, ini membuat IHSG drop cukup dalam, banyak terjadi capital outflow dan rupiah terus melemah. Ini sensitif dan perlu kami waspadai,” tutur Nelson.

Dia mengungkapkan, secara umum kondisi perbankan di 2016 mengalami pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan dengan situasi di sepanjang 2015. “Jadi, sekarang ini masih ada masalah perlambatan di perbankan kita,” tegasnya.

BACA JUGA:   "OJK Minta Empat Bank Tambah Modal"

Namun demikian, menurut Nelson, secara aset, penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK), pertumbuhannya masih sejalan dengan dinamika perekonomian domestik yang juga melambat. “Secara umum perbankan kita masih baik, karena pertumbuhan aset, kredit dan DPK masih sejalan,” ujar Nelson.(az)

Previous Post

Agen Laku Pandai BMRI Capai 17.597 Orang

Next Post

BJBR Kaji Rigth Issue Setelah CAR Turun

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR