TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Siap Bertransformasi ke IAS, APLog Sudah Buktikan Sukses Kelola Bisnis Berkat GRC

Busthomi
20 July 2023 | 10:25
rubrik: Event, GCG
Siap Bertransformasi ke IAS, APLog Sudah Buktikan Sukses Kelola Bisnis Berkat GRC

FOTO: TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – PT Angkasa Pura Logistik atau APLog yang merupakan anak usaha PT Angkasa Pura I (Persero) menjadi salah satu perusahaan yang terpilih mengikuti proses penjurian TOP GRC (Governance, Risk, Compliance) Awards 2023. Untuk penjurian kali ini, APLog sendiri merupakan kali pertama mengikuti ajang TOP GRC.

Dalam proses penjurian ini terungkap, kendati kendati perusahaan APLog relatif baru, lantaran didirikan pada tahun 2012 lalu, lantas bakal berubah wajahnya menjadi Injourney Aviation Service (IAS) sebagai subholding layanan penerbangan dan kargo, namun ternyata mereka sudah matang dalam implementasi GRC.

Beberapa penghargaan di sector GRC ini sudah didapatnya. Di awal Juli ini, APLog mendulang penghargaan di ajang ASEAN Risk Awards 2023. “Baru-baru ini, kami menjadi Runner up di kategori ASEAN Risk Champion Award dari ASEAN Risk Awards 2023 yang dilakukan di Singapura,” tutur Imam Subekti, selaku VP Risk Management APLog dalam penjurian TOP GRC Awards 2023, Kamis (13/7/2023) lalu.

Dalam proses penjurian kali ini, tim manajemen dari APLog memaparkan dengan gamblang bisnis perusahaan dan bagaimana mereka bisa bertahan lalu kemudian bertransformasi ke bisnis lain, hingga dapat bertahan seperti saat ini. Hal ini terjadi, lantaran sudah mengimplentasikan praktek GRC yang mumpuni.

Hadir dalam penjurian kali ini ada Majid Albana, selaku Assistant VP Quality and Service Assurance APLog, Inti Pranawati selaku AVP Legal & Risk Management APLog, Widjanarka Risk Management APLog, dan lainnya.

“Ini yang terakhir (kami) sebagai APLog, karena tahun depan nama kami akan berubah. Tahun depan kami masuk ke dalam subholding kluster layanan penerbangan dan kargo. Sehingga nama kami berubah menjadi Injourney Aviation Service (IAS). Dan diharapkan kita bisa bertemu kembali di tahun depan dalam kapasitas dan kompleksitas di perusahaan kami,” sebut Imam kala membeberkan profil perusahaan.

Profil APLog

Dalam kesempatan itu, Majid memaparkan bisnis perusahaan. Kata dia, APLog yang merupakan anak usaha dari Angkasa Pura I ini memiliki Visi ‘Leading Logistics Partner’. “Yaitu maksudnya, ada saatnya kita bersaing, dan ada saatnya kita berpartner,” kata dia.  

BACA JUGA:   BPR Artha Kanjuruhan Teguhkan Komitmen Keberlanjutan di Tengah Pemulihan Kinerja

Dengan Misinya ada lima, pertama, Menyediakan solusi logistik yang terintegrasi di sepanjang rantai pasok melalui jangkauan bisnis terluas di seluruh Indonesia; kedua, Mencapai dan mempertahankan operational excellence pada setiap layanan bisnis; ketiga, Mengembangkan sumber daya manusia yang kompeten dan berorientasi kepada konsumen.

Keempat, Menyediakan layanan bisnis yang didukung oleh pemanfaatan teknologi logistik yang optimal; dan kelima, Memaksimalkan nilai bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan serta kontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan.

Tipe industrinya adalah cargo terminal operator, logistics, dan transportasi. Didirikan pada tahun 2012 lalu dengan komposisi saham 99,72% milik PT AP I dan 0,28% milik pusat koperasi karyawan AP I. Dengan lini bisnis ada sembilan, yakni Cargo Terminal Operator, Regulated Agent, Total Baggage SolutionAir Cargo Agent, Freight Forwarding, Air freighter, Contract Logistics, Courier Express Air Cargo Services Logistics, dan baru-baru ini merambah ke Maritime Lines.

“Dengan kondisi bisnis yang positif. Pendapatan kita terus meningkat. Pada 2025 kita targetkan sebesar Rp1,8 triliun. Sekalipun saat pandemi lalu, ketika banyak perusahaan yang berkaitan dengan bisnis udara itu collapse. Kita malah meningkat hampir dua kali lipat,” terang dia.

“Hal ini karena kita lakukan transformasi. Semula bisnis kita di dalama bandara, karena pandemi maka kita merambah ke luar bandara. Jadi kita menggeluti bisnis lain di luar bisnis kebandarudaraan. Dan ternyata bisnis logistik kita itu lebih besar dan bisa menopang kinerja perusahaan. Salah satunya untuk bisnis EMPU penetrasi pasarnya yang semula 16% di 2020, dan 2022 lalu di 21,1%,” ungkapnya.

Implementasi GRC

Imam kembali menjelaskan, dengan penerapan GRC yang kuat ini sudah terbukti bisa meningkatkan bisnis perusahaan menjadi lebih baik, meski waktu itu pandemi. Kondisi tersebut karena unsur GRC perusahaan juga sudah lengkap, baik dari sisi regulasi maupun organisasinya.

Secara umum regulasi GRC APLog untuk eksternal mengacu ke Keputusan Sekretaris Kementerian BUMN Nomor SK-16/S.MBU/2012 tanggal 06 Juni 2012 tentang Indikator/Parameter Penilaian dan Evaluasi atas Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik pada BUMN. Dan kedua, Peraturan Menteri BUMN Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Pedoman Tata Kelola dan Kegiatan Korporasi Signifikan Badan Usaha Milik Negara.

BACA JUGA:   Penerapan GRC Great Giant Pineapple Didukung IT Handal

Dan untuk regulasi secara internal tercatat sudah ada sebanyak 31 peraturan yang dibuat perusahaan dan mengatur Good Corporate Governance (GCG), Manajamen Risiko, dan pedoman Kepatuhan.

Dengan sederet regulasi dan pedoman yang ada itu, maka praktiknya pun terus membaik. “Untuk GCG kita performanya terus meningkat. Alhamdulillah dari level GCG di 70,81 tahun 2020, terus membaik menjadi 75,02 di 2021, meningkat lagi di 2022 lalu sudah di 82,84. Dan di tahun ini insya Allah kita akan mendekati angka 90,” ujar Imam.

Bahkan untuk pedoman manajemen risiko, pihaknya mengaku salah satu yang paling terdepan. APLog bisa mengimplementasikan manajemen risiko mengacu ke Permen yang terbaru.

“Jadi per 31 Mei lalu, kami melakukan penyesuaian pedoman manajemen risiko mengacu pada Permen baru itu yakni SK Direksi No 44/OM.02/2023. Dimana di situ ada pengintegrasian risiko dari anak perusahaan ke induk perusahaan. Demikian juga ada penentuan strategi risiko dimana di situ ada toleransi, ada limit, juga ada selera risiko,” Imam menerangkan.

Untuk itu, ke depannya seiring bakal berubahnya menjadi IAS, risiko tertinggi dalam pengembangan IAS sebagai subholding layanan penerbangan dan kargo sudah dipotretnya. “Ada lima risiko yang perlu diperhatikan dan berdampak dari pembentukan Subholding IAS. Yaitu, perbedaan proses bisnis operasi layanan aviasi, perbedaan platform dasar sistem IT di tiap- tiap perusahaan, kesalahan pencatatan aset dan neraca keuangan perusahaan, kurangnya kominikasi kepada shareholder perusahaan, dan tidak terbentuknya budaya perusahaan pasca merger,” terang dia.

Dari hal itu, pihaknya sudah mengantisipasi dampak dan memitigasi risikonya. Salah satunya terkait risiko IT, APLog sudah melakukan mitigasi yakni, pertama, menggunakan Platfrom IT as usual di awal merger, kedua, menjalankan masa transisi, dan ketiga, penggabungan sistem layanan operasi dari best practise perusahaan, serta sistem IT keuangan yang terintegrasi dengan holding. Dan mitigasi empat risiko lainnya.

BACA JUGA:   Salah Satunya Mas Soltan, Ini Program CSR Unggulan dari SBI

“Dari pemetaan risiko pembentukan IAS ini, kami sudah melakukan mitigasi, sehingga berpindah menjadi risiko menengah. Kami juga telah menyusun tingkat pemahaman manajeman risiko. Kami masih berada di fase 2,78 sesuai dengan Peraturan Menteri BUMN No 2/MBU/3/2023 berada dalam Fase 2 yakni Berkembang,” jelasnya.

Dengan kondisi itu, lanjut dia, berarti Perusahaan mulai terbuka terhadap risiko, telah ada proses manajemen risiko tetapi dilakukan secara informal dan tidak konsisten atau sporadis. Anggota organisasi telah memiliki kompetensi dasar terkait manajemen risiko. Pedoman terkait manajemen risiko telah ada namun belum diaplikasikan diseluruh unit kerja.

“Untuk itu kami sudah melakukan mapping, selama lima tahun ke depan untuk manajemen risiko yang ada mulai dari tahapan infrastruktur, tahapan pelatihan, tahapan penerapan, tahapan pengembangan, dan tahapan pelaporan. Sehingga nantinya akan meningkat level risk maturity indeks-nya,” kata dia.

Imam melanjutkan, terkait dengan kepatuhan, APLog jjuga sudah menjalankan system manajemen kepatuhan berdasarkan aturan dan pedoman yang ada. Juga sudah sesuai dengan ISO 9000 dan ISO 45001.

“Penerapan kepatuhan di APLog merupakan kolaborasi dari Divisi Corporate Secretary and Legal, Divisi Corporate Strategic, Divisi Operation and Divisi Human Capital. Sehingga sejauh ini sudah berhasil, dengan pencapaian menurunnya jumlah temuan audit terkait pelanggaran pada regulasi dan menurunnya jumlah fraud di perusahaan. Serta tentu saja meningkatnya tingkat evaluasi kepatuhan peraturan perundangan,” tandas Imam.

Sementara untuk beberapa perbaikan dalam hal kepatuhan dari hasil audit ini, perusahaan sudah melakukan perbaikan di bidang operasional: telah dilakukan perbaikan pada koneksi timbangan Acceptance Kargo dengan Sistem SITEK G2. Dan di bidang administrasi: telah dilakukan penataan arsip sesuai dengan Pedoman Pengelolaan Arsip Aktif dan Inaktif PT Angkasa Pura Logistik.

Tags: APLogPT Angkasa Pura LogistikTOP GRC Awards 2023
Previous Post

Merayakan Tradisi Budaya Bali via AstraPay Sanur Village Festival 2023

Next Post

Saham KLBF, HMSP, AMRT, dan MAPI Direkomendasikan Hari Ini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR