TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Rumah123 Imbau Cermati Efek Kenaikan BI Rate

Achmad Adhito
30 November 2023 | 15:23
rubrik: Business Info
Sektor Properti Apa yang Pulih Cepetan?

Pameran Properti di Jakarta (Dhi/TopBusiness)

Jakarta, TopBusiness—Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dari 5,75% menjadi 6% pada Rapat Dewan Gubernur yang diumumkan pada 19 Oktober. Keputusan ini didasari lima alasan, yakni laju pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi melambat; eskalasi konflik antara Israel-Palestina, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), yang diproyeksi tetap tinggi dalam waktu relatif lama; tingkat imbal hasil obligasi aset negara maju yang meningkat; dan aliran modal asing keluar dari pasar keuangan.

Senior Vice President (SVP) Marketing 99 Group Indonesia, Bharat Buxani, memaparkan bahwa, saat ini, kenaikan suku bunga acuan dari Bank Indonesia belum berpengaruh terhadap tren yang tercatat pada platform di Rumah123.com dan 99.co Indonesia.

“Namun, mengingat sebagian besar pembelian properti oleh masyarakat cenderung menggunakan cara bayar Kredit Pemilikan Rumah (KPR)/Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), maka ini perlu menjadi perhatian semua stakeholder untuk memastikan geliat permintaan masyarakat akan properti tetap stabil,” kata Buxani dalam keterangan yang diterima hari ini oleh Majalah TopBusiness.

Kenaikan suku bunga membawa sejumlah dampak yang perlu ditangani bersama. Apabila perbankan di Indonesia meningkatkan suku bunga KPR, ini akan memengaruhi permintaan karena biaya pembelian dan cicilan properti cenderung lebih tinggi. “Bagi pengembang, naiknya suku bunga pinjaman dari bank akan meningkatkan biaya pengembangan dan memengaruhi harga rumah,” kata dia.

Data historis pergerakan suku bunga acuan dan pertumbuhan KPR/KPA dari Bank Indonesia yang diolah 99 Group memperlihatkan adanya korelasi satu sama lain.

“Dalam hal ini, kecenderungannya terdapat lonjakan pertumbuhan pemberian KPR/KPA secara year-on-year (YoY) pada saat suku bunga acuan turun,” kata dia.

Sebagai contoh, pada tahun 2012, ketika suku bunga acuan turun dari 6,75% pada September 2011 menjadi 5,75% di tahun 2012, pertumbuhan KPA/KPR secara year-on-year melonjak dengan capaian tertinggi di bulan Juni (42,1%) dan Juli (44,1%).

BACA JUGA:   Indeks Permintaan Rumah di IKN Naik 63,4%

Memasuki tahun 2013-2014, saat suku bunga acuan melonjak, pertumbuhan YoY pinjaman KPA/KPR berangsur menurun. Saat itu juga terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan melemahnya nilai tukar Rupiah atas Dolar AS akibat Taper Tantrum yang disebabkan penghentian quantitative easing oleh The Fed.

Sampai tahun 2015, pertumbuhan pinjaman terus berada di bawah level tahun 2011-2012, di kisaran 7,2%-12,9%. Setelahnya, pertumbuhan YoY pinjaman cenderung berada di level satu digit, dibandingkan tahun 2010-2014 yang berada di level dua digit. Saat pemerintah kembali menurunkan suku bunga acuan di tahun 2017 ke +4%, perlahan pertumbuhan pinjaman meningkat kembali pada level dua digit.

Tags: 99.cobunga kprkpr dan bi raterumah123.com
Previous Post

BSI Resmi Operasikan Kantor Cabang di Dubai

Next Post

Elnusa dan PGE Kembangkan Perangkat Portabel Uji Kapasitas Sumur Geothermal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR