Jakarta, TopBusiness – Perumda Air Minum Tirta Bahari Kota Tegal sejauh ini masih memfokuskan diri untuk melayani dan meningkatkan cakupan jumlah pelanggan di sisi sambungan rumah secara reguler atau domestik, ketimbang menyasar ke sisi niaga.
Perumda mengoptimalkan layanan ke domestik, seiring dengan minimnya tingkat masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Selain, sulitnya mendapatkan sumber air baku untuk melayani sambungan rumah (SR).
Menurut Hasan Suhandi, S.E sebagai Direktur Utama, pihaknya menilai bisnis air minum di Kota Tegal sangat menjanjikan. Selain, tingkat MBR hampir tidak ada. “Untuk MBR-nya kalau sesuai dengan kriteria dari Permendagri hampir tidak ada. Hampir tidak ada untuk kriteria tentang MBR. Dan selama ini peningkatan cakupan layanan atau SR baru bukan dari MBR, tapi dari reguler. Jadi kalau kita kaji secara di lapangan sesuai dengan syarat-syarat MBR, itu hampir tidak ada di Kota Tegal tentang MBR,” kata Hasan, saat sesi pendalaman presentasi materi bertema Pengelolaan Perusahaan dalam Membangun Kinerja Bisnis dan Pelayanan pada Perumda Air Minum Tirta Bahari Kota Tegal, Rabu (13/02/2023).
Selain, orang nomor satu perumda terlihat dalam layar monitor seorang direksi dan sejumlah kepala divisi dan staf. Secara rinci mereka adalah UU J Purnamasari, S.E sebagai Direktur Operasional. Selanjutnya, A Giyanto, S.E (Ka. Bag Administrasi & Keuangan), Singgih Yulianto (Ka. Bag. Teknik & Distribusi), Heri Nurdin (Ka. Bag Hubungan Langganan), Herlina Budiarti (Ka. Sub. Bag Keuangan), Waryani, S.E (Ka. Sub. Bag Umum & Kepegawaian). Ada juga Rangga Agung S.P, S.kom (Staf Umum), Faizal Fajar N (Staf Humas), Aris Setianto, S.Kom (Staf Humas) dan Arina Niskah, SE (Staf Keuangan).
Saat menjawab salah satu Dewan Juri TOP BUMD Awards2023, secara daring melalui rapat zoom, Hasan mengakui soal tantangan perumda terkait dengan keterbatasan sumber air baku. Sehingga, sukar untuk mengembangkan ekspansi usaha ke level niaga. “Dan untuk bisnis ke depan, memang ada keterbatasan air baku di Kota Tegal. Dan untuk masalah layanan, arah bisnis ke niaga di antaranya ke hotel, itu masih sedikit punya kendala dikarenakan cakupan yang kita layani diutamakan ke sosial dahulu. Ke sosial dulu yang saya utamakan, kalau ke bisnis kita masih ada tapi belum maksimal dilayani,” ujar dia.
Dalam pandangan dirinya, apabila tak memfokuskan diri untuk melayani SR atau menyasar ke domestik, akan berpotensi menciptakan hal-hal yang tak diinginkan. “Di wilayah industri belum seluruhnya kita layani. Kalau kita mencari profit yang diutamakan justru masyarakat yang demo, nantinya. Jadi, inti dari bisnis kita, saya ke depankan untuk ke domestik dulu, baru sisanya saya alirkan ke industri atau niaga,” urai Hasan.
Dia pun menyebutkan alasan kenapa pihaknya lebih memfokuskan untuk ke domestik, ketimbang niaga. “Dikarenakan itu, kapasitas produksi kita sudah terbatas. Ini saja sudah melampaui dari idle capacity, 350 liter per detik yang ada di Kota Tegal. Sedangkan pelanggannya sudah 39.420. Jadi rata-rata pemakaiannya masih kisaran 11-12 meter kubik. Jadi untuk masalah bisnis ke depan tentang ekonomi, saya lebih cenderung masih melayani di domestiknya. Karena tantangan kita atau ke depan itu masih kekurangan dari air baku. Alhamdulillah, air baku kita dari sumber mata air semua. Jadi gravitasi total dari mata air yang air bakunya diambil dari atau membeli dari PDAB (perusahaan daerah air bersih) SPAM regional Bregas,” paparnya.
Terkait dengan langkah-langkah menekan non-revenue water (NRW), Hasan mengutarakan bahwa perumda telah melakukan usaha perbaikan. Pasalnya, hal tersebut sangat berkaitan dengan visi-misi. “Untuk penurunan NRW kita ke depan, Insya Allah memang sesuai dengan visi dan misi. Kami lakukan baik secara fisik maupun non fisik. Kedua-duanya sudah kami laksanakan. Di antaranya, program-program kita ke depan, itu akan merevitalisasi perpipaan yang sudah lama, sewaktu jaman peninggalan Belanda. Dan untuk meteran atau kehilangan secara non fisik sudah kami lakukan dengan peneraan dan pergantian water mater yang rusak. Karena itu sedikit biaya operasionalnya,” ungkap dia.
