Jakarta, TopBusiness – PT GRAHA NIAGA TATA UTAMA atau GNTU, salah satu perusahaan berhasil mengelola Gedung Niaga Tower di Kawasan Sudirman, Jakarta menjadi gedung yang Smart dan Green Building.
Sebagaimana diketahui, GNTU mengelola Gedung Niaga Tower telah resmi beroperasi sejak tahun 1993, sehingga usianya saat ini 33 tahun. Perusahaan sebagai pionir dalam mengelola gedung melalui Zero Waste to Landfill. Akibatnya, berbagai penghargaan dan sertifikasi di dapat seperti Singapura. Kemudian, Penghargaan Green Building dan Asean Energi Award.
Ditegaskan Direktur GNTU Dewa Agung Rudi, untuk mengelola gedung maka salah satu dampak adalah nilai signifikansinya. “Kami memilki strategi program Zero Waste mulai dari pembuatan pupuk kompos, bank sampah sahabat, Lomba green office untuk tenant, program one day plastic sampai dengan pengelolaan limbah domestik dengan konsep Zero Waste to Landfill”, kata Dewa panggilan akrabnya di hadapan Dewan Juri TOP CSR Awards 2024, di Jakarta, hari ini, melalui aplikasi rapat zoom.
Tampak dihadiri juga oleh Building Manager Yodhie Iman P, Kepala departemen Savety Health dan Environment Palupi, Kepala Department Housekeeping dan Gardening, Mahfi.
Dijelaskan Dewa, berdirinya gedung-gedung di Kota Metropolitan baik dengan standar tingkat rendah, menengah dan tingkat tinggi. Hampir seluruh level ketinggian, lanjut dia, ini memerlukan pengelolaan dengan baik dan benar.
“Keberadaan gedung harus memberikan berbagai fungsi dan manfaat besar bagi penyewa gedung. Serta sebagai kawasan juga harus memberikan daya dukung lingkungan bagi pengelolaan limbah padat, cair serta udara agar seluruh masyarakat penguna gedung akan terus sehat dalam melakukan aktivitasnya dan juga harus memberikan daya dukung kerja yang sehat sebagaimana diatur berbagai peraturan,” papar dia.
Keunggulan Zero Waste to Landfill memang wajib menjadi acuan dari pihak lain untuk mengelola lingkungan building secara terintegrasi, dan suksesnya membangun Smart Green Building akan menimbulkan kepercayaan para penyewa untuk berkantor di Niaga Tower yang semakin tinggi dengan ditunjukkan melalui tingkat hunian di atas 94 persen.
Dijelaskan Dewa, pengelolaan seluruh limbah di Niaga Tower sudah terbangun dengan baik. Pengelolaan A sampai Z telah terpadu, mulai dengan kerja sama langsung dengan para penyewa dan pengelola. “Persampahan dari penyewa langsung dikumpulkan, setelah itu sampah-sampah dilakukan penyortiran, berbagai sampah-sampah langsung di pilah-pilah. Setelah pemilahan dan sampah tersebut langsung diproses kembali untuk dimanfaatkan sebagai mata rantai selanjutnya,” kata Dewa.
Sampah bekas makanan diproses kembali menjadi produk pupuk, lantas sampah cair dilakukan proses. Pemrosesan pengunaan air di daur ulang kembali. Setelah dilakukan proses daur ulang, akhirnya Niaga Tower semakin kinclong menggunakan air kembali setelah proses daur ulang.
Dikatakan Dewa, Niaga Tower sudah tidak menghasilkan air limbah cair yang dibuang ke saluran umum, serta pengunaan air permukaan sangatlah nihil, bahkan zero mengunakan air permukaan. Untuk pengelolaan sampah padat, gedung perkantoran ini juga tidak menghasilkan sampah untuk dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi,Jawa Barat.
“Dalam mengelola Zero Waste to Landfill, ini langsung melakukan kerja sama dengan kelompok pengelola sampah dan merekrut para pekerja dan pemulung yang biasa mengais sampah di Bantar Gebang,” ungkap dia.
Kinerja apik dalam pembinaan mitra bagi pengais sampah Bantar Gebang ini, salah satu bentuk tangung jawab sosial dan lingkungan (TJLS). Sedangkan residu sampah langsung digunakan Perusahaan Semen Indocement untuk proses bahan baku pembakaran semen.
Ditambahkan, sebagai Smart Building di Niaga Tower, dalam hal pengunaan penghematan energi listrik, terus dilakukan perbaikan dari waktu ke waktu, dan pengunaan bahan-bahan dengan listrik yang hemat menjadi prioritas.
