Jakarta, businessnews.id – Tim Garam Farmasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meraih Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-9. Tim Garam Farmasi BPPT yang diketuai Imam Paryanto berhasil mencipta inovasi berupa garam farmasi sebagai bahan baku obat-obatan yang diklaim selama ini hampir 100 % masih impor.
Kepala BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan, peraih penghargaan ini dipilih melalui penilaian yang didasarkan pada azas-azas inovasi yang terdiri dari azas penemuan, kreatif, efisien, efektif, nilai tambah dan azas manfaat serta 10 poin kriteria penilaian lainnya. Penghargaan ini menekankan peneliti, perekayasa untuk banyak menghasilkan inovasi tidak sebatas paper tetapi produk-produknya bisa dipakai masyarakat,” katanya dalam penganugerahan BJHTA yang juga dihadiri Presiden RI ke-3 BJ Habibie, di kediaman BJ Habibie, Kuningan, Kamis (18/8).
Disebutkan, Tim garam farmasi peraih BJHTA 2016 ini terdiri dari tujuh orang perekayasa yang mayoritas memiliki paten. Ketujuh perekayasa dari berbagai latar belakang kompetensi tersebut yakni Imam Paryanto, Bambang Srijanto, Eriawan Rismana, Wahono Sumaryono, Tarwadi, Purwa Tri Cahyana dan Arie Fachruddin.
Saat ini inovasi Garam Farmasi telah diproduksi massal melalui PT Kimia Farma. Garam ini bisa digunakan untuk infus, pelarut, oralit, sirup, kosmetik, juga untuk sabun dan sampo. Maka dari itu dibentuk tim sebagai wujud kemandirian bangsa. Menurut Imam, dengan adanya inovasi garam farmasi yang terbukti diakui, maka industri farmasi nasional menjadi lebih mandiri sehingga tidak bergantung terus dengan produk-produk impor.
Sementara itu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengungkapkan, pemerintah sudah memperjuangkan kesejahteraan peneliti termasuk pemberian royalti dari paten yang sudah diproduksi. (red/ju)