Jakarta, TopBusiness – Meski statusnya sebagai Bank Perekonomian Rakyat (BPR), namun bagi PT BPR Bank Djoko Tingkir prinsip Governance, Risk, and Compliance (GRC) tetap konsisten diterapkan. Apalagi kini sudah disesuaikan dengan kaidah Environmental, Social, and Governance (ESG).
Menurut Direktur Utama Bank Djoko Tingkir, Titon Darmasto, S.H., M.M., dalam era yang semakin kompleks dan berkelanjutan ini, integrasi antara ESG dan GRC menjadi semakin penting bagi kelangsungan bisnis.
Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pak Dirut saat mengikuti sesi penjurian TOP GRC Awards 2024 yang dilakukan secara daring, pada Selasa (3/9/2024).
“Maka dari itu, mari kita bedah bagaimana integrasi ESG dan GRC berdampak pada kelangsungan bisnis dan manfaat pendekatan holistik ini. Sebelum membahas implikasi pengintegrasian ESG dan GRC, penting untuk memahami masing-masing konsep. ESG mengacu pada pertimbangan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan ketika mengambil keputusan bisnis. GRC kini mencakup manajemen risiko, kepatuhan, dan tata kelola perusahaan yang komprehensif,” tutur dia.
Lebih jauh ditegaskannya, mengintegrasikan ESG dan GRC dengan menggabungkan elemen-elemen ini menjadi satu kesatuan yang kuat dan berkelanjutan. Integrasi ESG dan GRC menawarkan banyak manfaat bagi kelangsungan bisnis.
“Pertama, hal ini membantu mengidentifikasi risiko dan peluang terkait isu lingkungan dan sosial yang mungkin berdampak pada operasi perusahaan. Dengan cara ini, perusahaan dapat mengambil langkah proaktif untuk mengurangi risiko dan memanfaatkan peluang yang ada. Dan kedua, mengintegrasikan ESG dan GRC dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas Perusahaan,” tegas Titon.
Dengan GRC ini, kata dia, bagi perusahaan dengan mematuhi peraturan dan standar yang relevan memungkinkan perusahaan membangun reputasi yang baik dan mendapatkan kepercayaan dari pemangku kepentingan.
“Dan kondisi ini juga dapat membantu meminimalkan risiko hukum dan sanksi yang dapat merugikan Perusahaan,” kata dia.
Untuk menjalankan GRC ini, Perusahaan pun menerapkan Nilai-Nilai Perusahaan (Corporate Value) DJUARA. Ini terdiri dari Dedication, berupa pengabdian dan totalitas diri, memberikan yang terbaik demi mewujudkan kesuksesan, keberhasilan mencapai visi dan misi serta tujuan perusahaan.
Lalu ada Joyful, yaitu bekerja dengan penuh kegembiraan, tidak menjadikan target dan tanggung jawab pekerjaan sebagai beban namun merupakan bentuk mensyukuri kehidupan. Bekerja dan melaksanakan tugas dari perusahaan dengan hati gembira, sepenuh hati untuk mencapai visi dan misi serta tujuan Perusahaan.
Ada juga Unity, sebuah satu kesatuan dalam Perusahaan, memupuk teamwork, rasa memiliki, saling melengkapi dan saling mendukung antar divisi, antar bagian, antar cabang untuk mencapai visi dan misi serta tujuan Perusahaan.
Kemudian Attitude, yakni sikap dan perilaku yang baik akan memberikan pengaruh positif dan budaya baik bagi lingkungan kerja dan sekitarnya. Good attitude membawa corporate culture yang baik untuk mencapai visi dan misi serta tujuan perusahaan
Lalu Respect, yaitu suatu budaya saling menghargai, menghormati dan menjunjung tinggi toleransi antara team. Perbedaan bukan merupakan sesuatu yang perlu diperdebatkan namun menjadi keunikan tersendiri untuk saling melengkapi dengan satu semangat yang sama yaitu tercapainya visi dan misi serta tujuan Perusahaan.
Dan terakhir, Adaptive, berupa menyesuaikan diri terhadap perubahan mau terbuka untuk melakukan perubahan dan merespon dengan positif adanya perubahan dengan melakukan terobosan/inovasi untuk mencapai visi dan misi serta tujuan Perusahaan.
Penerapan GRC
Kembali Dirut Titon menegaskan terkait beberapa contoh kebijakan dan implementasi GRC di Bank Djoko Tingkir. Kata dia, ketahanan bisnis perusahaan harus dimulai dengan penerapan tata kelola perusahaan (Corporate Governance) yang baik dan kuat.
Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) ini adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mengarahkan pengelolaan perusahaan secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independen, dan kewajaran.
“Prinsip – prinsip tersebut menjadi fondasi keberlangsungan (continuity) perusahaan agar selalu dapat memenuhi prinsip going concern,” kata dia.
Fondasi yang bernama Tata Kelola (Governance) harus diperkuat dengan penerapan Manajemen Risiko (Risk) dan Kepatuhan (Compliance) sebagai pilar penguatan ketahanan bisnis, dimana keduanya bertujuan untuk mengelola event atas ketidakpastian dimasa depan (uncertainty) dan mengelola kepatuhan atas segala macam regulasi serta peraturan yang mengikat perusahaan baik dari internal maupun eksternal.
“Jadi, kombinasi ESG dan GRC merupakan langkah penting dalam membangun masa depan bisnis yang berkelanjutan. Mengintegrasikan ESG ke dalam kerangka GRC membantu perusahaan menetapkan tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagai bagian integral dari tata kelola perusahaan. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk secara efektif mengidentifikasi, mengukur dan mengelola risiko-risiko LST sambil mematuhi peraturan terkait,” ujarnya.
Mengintegrasikan ESG dan GRC juga memberikan keunggulan kompetitif di pasar yang semakin sadar akan ESG. Kata dia, perusahaan yang menerapkan pendekatan holistik ini dapat memenuhi tuntutan dan harapan konsumen yang semakin meningkat terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan Perusahaan.
“Hal ini menciptakan manfaat retensi pelanggan, meningkatkan loyalitas merek, dan membantu Anda bersaing di pasar,” ujarnya.
Untuk komponen GRC sendiri, lanjut dia, untuk skor GCG di tahun 2023 masuk kategori BAIK. Selanjutnya, Perusahaan juga sudah menerapkan whistleblowing system (WBS). Kebijakan ini berdasarkan SK Nomor 067/BPR/SK.DIR/X/2023 tentang Penetapan Sarana Pelaporan dan Standar Prosedur Operasional Whistleblowing PT BPR Bank Djoko Tingkir (Perseroda), Bank Djoko Tingkir memiliki sarana bagi whistleblower dengan alamat website Perusahaan.
Hal yang sama juga terkait dengan sistem pengadaan barang dan jasa. Bank Djoko Tingkir sudah melakukan dan memperhatikan prinsip-prinsip berikut: Transparan, pengadaan barang dan jasa dilakukan secara transparan dengan kesepakatan spesifikasi, harga, waktu, dan persyaratan lainnya.
Lalu prinsip Objektif dan adil. Ini untuk menghindari konflik kepentingan. Kemudian Profesional dan integritas. Keterbukaan dan keadilan, dilakukan secara adil dan terbuka tanpa membeda-bedakan vendor. Dan terakhir, kerahasiaan. “Pengadaan barang dan jasa dilakukan dengan menjaga kerahasiaan dokumen yang seharusnya dirahasiakan.”
Selain itu dalam identifikasi Risk Profile. Bank Djoko Tingkir sudah melakukan identifikasi risiko bank Dimana hasilnya dapat berupa profil risiko yang merupakan penilaian terhadap risiko inheren dan kualitas penerapan manajemen risiko bank.
“Profil risiko ini meliputi delapan jenis risiko, yaitu: Risiko kredit, Risiko likuiditas, Risiko operasional, Risiko hukum, Risiko strategis, Risiko kepatuhan, Risiko reputasi. Jadi, identifikasi risiko adalah proses untuk menetapkan apa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana sesuatu dapat terjadi, sehingga berdampak negatif terhadap pencapaian tujuan.”
Untuk menyukseskan implementasi manajemen risiko, Bank Djoko Tingkir juga menerapkan ISO 31000, Risk management – Guidelines. Dalam hal ini beberapa aspek di dalamnya adalah ERM-based approach (pendekatan berbasis ERM), ERM process management, risk appetite management (manajemen selera risiko), root cause discipline (keahlian mencari akar masalah), uncovering risk (pengungkapan risiko), performance management (manajemen kinerja), dan business resilience and sustainability (ketahanan dan keberlanjutan bisnis).
“Dan dalam hal compliance ini, kami juga konsisten untuk menerapkan manajemen kepatuhan. Manajemen Kepatuhan atau Compliance Management ini berupa h proses untuk memastikan perusahaan mengikuti peraturan atau ketentuan yang berlaku,” ungkap dia.
“Jadi, kepatuhan yang dimaksud bukan sekadar tentang taat pada peraturan, melainkan juga integritas dalam memenuhi komitmen dan kewajiban organisasi. Bentuk komitmen dan kewajiban dapat ditemukan dalam kontrak, kode etik, pernyataan etika, dan lainnya,” kembali dia menjelaskan.
Dengan adanya penerapan GRC plus ESG ini, diakui Sang Dirut, memang sudah berdampak ke kinerja Perusahaan. Untuk performa Bank Djoko Tingkir selama 2023 lalu, dilihat dari sisi asset mencatatkan Rp391.716.181.320, angka tersebut tercapai 108,62% atau meningkat 31.087.965.108.
Sedangkan untuk laju kredit sebesar Rp265.205.942.302 atau naik Rp4.065.765.173 alias tercapai 101,56%. Dengan laju NPL yang terkendali di angka 2,29% atau lebih baik dari tahun sebelumnya. Untuk DPK sebanyak Rp300.123.673.078 tercapai 111,08% atau naik Rp29.926.044.922. Sehingga raihan labanya sebanyak Rp 9.317.887.400 atau tercapai 130,14% alias terkerek Rp2.157.828.746.
