Jakarta-Thebusinessnews. Pemerintah menargetkan kunjungan 17 juta wisatawan mancanegara (Wisman) tahun ini. Untuk menopang target tersebut dipandang perlu memanfaatkan teknologi informasi, salah satunya dengan penerapan Metode sensus dengan Big Data Mobile Positioning Data (MPD) oleh Badan Statistik Pariwisata (BPS) untuk menghitung jumlah wisatawan mancanegara di daerah perbatasan.
Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menyambut baik penerapan MPD tersebut.” Mengganti kertas dengan dunia digital. Kertas itu bisa salah mencatat, bisa salah lihat, tidak real time, sangat terbatas jangkauan indra manusia, sementara dengan Big Data, sudah terbantu oleh mesin, jaug lebih akurat, real time up date, serta efektif efisien,” ujar Rhenadl di Jakarta,Minggu(12/2/2017)
Ia mencontohkan, mulai bulan Oktober hinga Desember 2016 BPS menerpaknnya dan hasilnya 19 kabupaten 46 kecamatan yang tidak terdata oleh TPI (Tempat Pemeriksaan Imigrasi ) di wilayah terdepan RI itu bisa terdata dengan baik.
Dengan demikian, kata dia, Data resmi BPS itu bukan hanya bermanfaat besar untuk internal Kementerian Pariwisata saja, namum juga sangat penting bagi industr pariwisata. “Mereka (Industri pariwisata) yang membutuhkan data dan fatka yang akurat dan real time,” kata dia.
Penggunaan Teknologi Informasi, kata dia, sejalan dengan gaya hidup wisman. Sehingga kegiatan yang dilakukan Wisman dapat didata untuk kepentingan kemajuan industri pariwisata dalam negeri. Big Data MPD juga membuat dunia pariwisata serba pasti, semua pelaku pariwisata bisa tahu berapa sih yang datang dan pergi, menambah keyakinan para industri yang mampu menciptakan strateg-strategi jitu dalam mendatangkan dan melayani wisatawan agar nyaman datang ke tanah air.
”Wisman datang melalui digital, saat ini yang datang ke negara kita adalah generasi milineal, dia cari low cost, dia cari homestay dengan low cost, dia cari cara dengan low cost, dia datang dengan cara smart, cara digital, ya berarti kita harus kawal mereka dengan cara digital juga, kita tidak perlu khawatir dan berkecil hati, karena pemerintahan sekarang sudah juga mengantisipasi segala hal smart ini. Termasuk BPS yang menggunakan Big Data MPD untuk cara sensus yang smart,” tandasnya
Selain itu, kata dia, gerbang Indonesia seperti bandara udara juga perlu mengikuti langkah itu. Dalam hal ini dia juga menyambut baik langkah Angkasa Pura II yang telah menggunakan digital sebagai marwah perusahaan. Selain itu, dia juga menyebut nama Pariwisata sekarang juga sangat digital, customersnya melek digital, industrinya didorong go digital, semua komponen stakeholder itu menciptakan sesuatu yang sangat positif bagi perkembangan dunia bisnis dan pariwistaa di Indonesia.
”Jadi lahirlah smart airport, lahirlah smart data tourism, muncullah smart data di seluruh lini, jadi BPS juga melahirkan smart data dalam melaksanakan sensus,”tutup dia.(az)