TopBusiness
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR
No Result
View All Result
TopBusiness
No Result
View All Result

Tanggapan HKI soal Investor Asing

Albarsyah
4 October 2024 | 18:46
rubrik: Business Info
FOTO – Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Triwulan II/2020

Foto: Rendy MR/TopBusiness

Jakarta, TopBusiness – Menanggapi maraknya pemberitaan bahwa investasi saat ini banyak masuk ke Malaysia, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sanny Iskandar menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya masih memiliki potensi yang cukup baik meski investor asing saat ini sedikit waspada karena tahun ini merupakan tahun politik.

“Kita akan tunggu sampai dengan bulan November, saat ini Indonesia tengah
menghadapi transisi kepemimpinan nasional yang memposisikan kita pada persimpangan transformasi ekonomi” ujar Sanny.

Menurut dia, jadi investor dalam posisi wait and see. Tentunya kita tetap optimis bahwa setelah adanya pelantikan dan kabinet baru
investasi kedepannya dapat bergerak.

Dikatakan, jika kita perhatikan sektor Kawasan Industri telah ada selama 50 tahun yang dalam kurun waktu tersebut menjadi penggerak utama perekonomian dan suatu terobosan model pengembangan wilayah dalam mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dimana pengembangan kawasan ini juga mampu mendorong hilirisasi, menghasilkan nilai tambah, meningkatkan investasi, menciptakan lapangan kerja, serta
membuka peluang usaha di Indonesia.

“Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari adanya perang dagang, perubahan teknologi, hingga kebutuhan untuk terus
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ” ujarnya.

Contoh data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) April 2024 dari Kementerian
Investasi mencatat bahwa Provinsi Jawa Barat masih menempati peringkat pertama
(Rp64,7 triliun) dalam realisasi investasi. Jawa Barat ini tempat berdirinya lebih dari 30
kawasan industri dan merealisasikan banyaknya industri manufaktur pada sektor
otomotif, elektronik, data center, dll.

Kemudian kita ambil contoh lagi di Kepulauan Riau (Batam, Bintan, Karimun) merupakan wilayah dengan jumlah kawasan industri 18
Kawasan, dimana saat ini pengembangan kawasan disana juga mengarah tidak hanya bagi manufaktur secara umum namun juga pada bisnis industri hijau dengan teknologi tinggi dan pemanfaatan energi yang lebih baik.

BACA JUGA:   Ini Jawara Sociopreneurship Kapal Api

Berdasarkan data BPS Ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan II-2024 (y-on-y) tumbuh sebesar 4,90 persen. Dari sisi lapangan usaha,
pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh kategori Industri Pengolahan yang memiliki
andil pertumbuhan sebesar 5,16 persen. Data HKI mencatat bahwa saat ini terdapat 117
Kawasan Industri di Indonesia dan tersebar di 24 provinsi yang merupakan agen-agen
pemerintah dalam mendatangkan investasi.

Dalam kerangka Transformasi Ekonomi Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045, sektor industri memiliki peran sentral. Namun Indonesia masih harus berbenah terutama dalam hal penyederhanaan perizinan berusaha, meskipun saat ini menggunakan sistem OSS berbasis Risk Based Approached (RBA), namun disana-sini masih banyak hambatan penyelesaian perizinan.

Sebagai contoh hal dasar terkait Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) yang harus terkoneksi ke sistem yang saat ini masih terus diupayakan karena di banyak daerah masih berproses dalam perubahan peraturan daerah. Hal yang paling utama yaitu jaminan kepastian hukum yang di dalamnya juga
meliputi diperlukannya sinkronisasi dan harmonisasi antara pemerintah pusat dan
daerah.

Terkait pengembangan infrastruktur dasar masih banyak yang belum memadai dengan
kebijakan yang tidak pro investasi.

Sebagai contoh ketersediaan sumber air baku bagi kegiatan industri, saat ini di daerah Jawa Barat sangat terbatas padahal industri di Jabar ini sangat banyak dan membutuhkan sumber air baku.

Ketersediaan dan harga gas industri juga masih menjadi persoalan, misalnya saja kebijakan HGBT perlu diperluas sektor industri nya (tidak hanya untuk 7 sektor industri saja namun juga ditambahkan sektor lainnya), bagi para pemegang Badan Usaha Penyedia Gas Bumi (BUPTL) harga gas industri perlu dibuat lebih kompetitif. Mengutip dari The Star Business News “Keputusan Oracle untuk membangun di Malaysia dikarenakan kesiapan infrastruktur Malaysia dan posisinya yang semakin berkembang sebagai tujuan utama investasi digital”. Untuk itu
kebijakan maupun penyediaan infrastruktur di Indonesia harus terus dibenahi. Gangguan keamanan juga masih terjadi sebagai contoh adanya limbah ekonomis yang dimiliki suatu Perusahaan tertentu menjadi pemicu demonstrasi didalam Kawasan industri. Persoalan dari aspek keamanan dan ketertiban ini dapat berpengaruh signifikan
terhadap iklim investasi.

BACA JUGA:   Mahasiswa, Potensi Jangka Panjang P2P Lending

Di luar hal-hal tersebut diatas diperlukan kebijakan-kebijakan yang mendorong iklim
investasi lebih atraktif dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten.

“Investor akan masuk berinvestasi apabila suatu negara atau daerah memiliki daya tarik
baik dari sisi fiskal maupun non fiskal sehingga perlu dibuat terobosan-terobosan misalnya melalui berbagai insentif yang menarik. Perumusan hal tersebut dapat melibatkan para pelaku usaha dalam penyusunannya agar lebih tepat sasaran,” pungkasnya.

Previous Post

SDM Jadi Aset Terbesar, Bank BKK Purwodadi Torehkan Kinerja Bisnis Mentereng

Next Post

Berikut Besaran Tarif Tol Baru Terbanggi Besar – Kayu Agung

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

TopBusiness - Inspire Great Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • Economic
  • Business Info
  • Capital Market
  • Finance
  • BUMN
  • BUMD
  • DAERAH
  • Marketing
  • Event
  • CSR